Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

17 September 2019

Menjenguk Anak Sahabat

Hari ini, saya kembali menjenguk anak sahabat lama saya di rumah sakit Bahteramas Kendari. Hari Kamis lalu dia menghubungi saya, bahwa dia dengan anaknya sedang di rumah sakit. Setelah mendengar penjelasannya, mengapa anaknya masuk rumah sakit, lalu saya pergi menjenguknya.
Tiba di rumah sakit, saya melihat raut muka yang penuh rasa kekhawatiran. Dia begitu gelisah. Dia khawatir anak bayinya bisa terjadi apa-apa. Dia tak bisa membayangkan, dengan umur bayinya yang masih hitungan hari langsung disentuh oleh pisau bedah. Dia menununduk kelihatan sedih.
Istrinya pun demikian. Saat bertemu saya, istrinya terlihat sayu. Dia terlihat begitu lelah. Dari sejak semalam dia menangis. Sebenarnya dia tak menginginkan bayinya di bawah diruang operasi. Sama dengan suaminya, dia juga begitu khawatir. Tapi karena bayinya harus segera membutuhkan penanganan, maka dia tak punya pilihan lain. Dokter berusaha menyakinkannya. Setelah mendengar penjelasan Dokter, dia percaya lalu menyerahkan semuanya kepada sang pencipta.
Bayinya yang mungil itu mengalami gangguan pada usus. Di kampung, bayinya yang masih hitungan hari itu diberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) seperti SUN sehingga terjadi kerusakan pada usus bayi. Tapi itu bukan atas inisiatifnya. Katanya, dia mendapat masukan dari tetangga untuk diberikan SUN karena pisang hanya menimbulkan diare. Pada hal pemberian MPASI pada bayi harus sudah berumur 6 bulan keatas. Bayinya mengalami invaginasi atau intususepsi hingga harus dioperasi.
Sebagai sahabat, saya hanya ikut menguatkannya. Ketidaktahuan mereka tentang bagaimana merawat bayi atau memberi nutrisi pada bayi menjadi penyebab atas apa yang terjadi pada bayinya. Harusnya tak perlu mendengar masukan tetangganya, tapi harus bertanya pada bidan atau dokter di kampung.
Dari kejadian-kejadian seperti ini, tentu menjadi pelajaran berharga buatku. Berumah tangga itu tak sekadar berumah tangga saja. Nikah, cari uang dan punya anak. Tidak. Kita harus punya pengetahuan bagaimana merawat rumah tangga, merawat bayi dan lain sebagainya.
Kuncinya, segala sesuatu harus direncanakan dengan sebaik-baiknya.

Laode Halaidin

25 Agustus 2019

Saat Mengikuti Pelatihan Enumerator Dan Jurnalis Di Makassar


“Rejeki anak sholeh.” Begitu kata sahabat, saat mendengar saya berangkat ke Makassar untuk mengikuti pelatihan enumerator dan jurnalis. Sahabat itu mengetahui bahwa saya hanya pengurus perkumpulan penikmat konau dikampung halaman. Makanya, dia juga merasa kaget saat saya mengikuti pelatihan itu, pada hal tak ada hubungannya sama sekali.
Saya sungguh beruntung bisa mengikuti pelatihan itu. Sebagai enumerator dan pernah magang jadi jurnalis di salah satu media di Kendari, saya bisa mendapat dua ilmu sekaligus, yakni bagaimana tehnik melakukan wawancara untuk kebutuhan survey lapangan dan bagaimana cara bertemu narasumber melakukan wawancara untuk kebutuhan berita. Kata narasumber pelatihan itu, enumerator dan jurnalis sama-sama pekerjaan lapangan, tak banyak perbedaan saat hendak melakukan wawancara pada responden dan narasumber.
Pada kesempatan itu, saya hadir sebagai peserta enumerator. Bersama tiga orang sahabat, kami mewakili Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo. Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia itu, saya bertemu dengan banyak peneliti dan jurnalis lokal di Sulawesi Tenggara. Kami sharing banyak hal, membincangkan pengalaman-pengalaman dalam penelitian lapangan. Bersama para jurnalis, saya belajar banyak bagaimana menulis sebuah berita yang baik. Saya sangat banyak belajar dan berguru dari mereka.
Yang mengesankan buat saya adalah saat mendengar pemaparan dari narasumber media ternama, Tempo. Namanya Yandrhie Arvian. Di Tempo, dia menjabat sebagai managing editor for economic and business. Pada permulaan presentasinya, dia membawakannya dengan menarik.
Dia menceritakan siapa saja narasumber yang gampang diwawancarai. Baginya, wakil Presiden Jusuf Kalla adalah orang yang gampang untuk diwawancarai. Para jurnalis tidak kesusahan saat ingin bertemu dengannya. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga bisa melayani jurnalis dengan pertanyaan apa saja. Kata Yandrhie, pertanyaan apapun yang dilayangkan jurnalis, Jusuf Kalla pasti menjawabnya. Bahkan disuruh wartawan untuk pemotretan ditengah hujan dengan memakai payung, dia mau.
Menteri yang paling susah untuk ditemui jurnalis Tempo saat ini, baginya adalah Rini Soemarno. Saat pertama menjabat menteri BUMN , Rini Soemarno sangat welcome dengan jurnalis. Namun, setelah majalah Tempo mengulik skandal korupsi pelindo, kereta cepat, jurnalis tidak pernah bertemu dengan Rini Soemarno. Dia seperti menghindar, tak mau melayani jurnalis untuk menjadi narasumber.
Jika Jokowi bisa diwawancarai tergantung mood, Setia Novanto justru lain hal. Novanto adalah narasumber yang paling genit. Bahkan ditengah kasus korupsi E-KTP yang menimpahnya, dia tetap bersedia untuk diwawancarai. Pejabat biasanya, jika dikejar jurnalis seputar kasus yang tengah dihadapi, mereka memilih menghindar. Novanto justru tidak, bahkan setelah kejadian kontroversial “tabrak tiang listrik” dia tetap seperti biasa, menjawab setiap pertanyaan para jurnalis.
**
Saya menyaksikan para peserta begitu antusias mendengar ceritanya. Bahkan sebelum dia masuk pada materi presentasi, para peserta sudah melayangkan beberapa pertanyaan. Misalnya terkait dengan perlindungan jurnalis lokal dan pusat. Juga konflik antara Tempo dan pemilik Arta Graha, Tomy Winata.
Sayang, dia tak banyak bercerita tentang hal itu karena keterbatasan waktu. Dia sudah harus membawakan materi presentasinya untuk peserta. Yang saya suka adalah dia bisa membagi waktunya, tak melulu soal presentasi tentang prinsip-prinsip in-depth interview, tapi menyelipkan cerita pengalaman yang sesuai dengan materinya. Bagi saya ini gaya presentasi yang menarik, tak membosankan dan selalu mencairkan suasana.
Dia lalu mengajak peserta berdiskusi banyak setelah selesai acara kegiatan. Entah para jurnalis berdiskusi dengannya atau tidak saya kurang tahu. Saya lupa meminta kontak para jurnalis agar mengabarkan jika mereka bertemu dengannya. Lagian, saya siapa. Saya kan hanya mengurusi konau dikampung halaman. Hikss…
                                                                               Muna, 25 Agustus 2019

15 Agustus 2019

Bersama Nur Afif Di Makassar

Sumber foto: Irmayanti
Sudah dua hari saya berada di Makassar. Kegiatan pelatihan belum juga usai. Sudah tidak sabar rasanya, saya ingin berkeliling di kota Makassar, melihat bagaimana pesatnya pembangunan di kota Daeng itu. Sehari sebelumnya, saya berusaha menghubungi sahabat­-sahabat di kampung yang kuliah di Makassar, meminta untuk mengajak saya berkeliling menyusuri kota Anging Mammiri. Hasilnya nihil. Rupanya mereka sedang libur dan pulang kampung.
Hari itu, saya membatalkan semua niat untuk berkeliling kota Makassar. Pikirku, ya sudah, nanti di lain kesempatan saja. Saya memilih fokus untuk mengikuti kegiatan pelatihan itu.
Di Makassar saya tak punya banyak teman. Beberapa teman, memiliki kesibukan. Saya sungkan menghubungi mereka, sebab merasa tau diri akan menganggu. Lagian saya hanya seorang pengangguran. Saya merasa tak enak saja, meminta mereka untuk menemaniku menyusuri kota Makassar.
Beruntung, saya punya sahabat kuliah di Kendari dulu yang tinggal di kota Makassar. Namanya Nur Afif atau biasa saya panggil Ipo. Saat saya mengikuti pelatihan, ia ternyata mengomentari statusku di Facebook. Ia menanyakan keberadaanku di Makassar. Saya sebut saja, lagi menginap di hotel Novotel. Lalu saya mengajaknya keluar untuk ngopi-ngopi.
Ipo, demikian ia disapa, sangat bersedia menemaniku, mengantarku keliling di kota Makassar. Bersama sahabat-sahabat saya yang lain, ia siap mengantar kami kemana pun kami mau. Sontak saja, sahabat-sahabatku menyebut ingin ke Mall Nippah, Pantai Losari hingga ke Mesjid 99 kubah.
Sepanjang perjalanan, kami saling bertanya, kesibukan apa yang kami kerjakan semenjak diwisuda. Ipo mengaku, semenjak diwisuda ia sibuk mengurus usaha jual-beli mobil bekas Omnya. Sementara saya, sampai saat ini masih melakoni sebagai pengangguran di kota Kendari.
Saya begitu senang mendengar cerita Ipo, bagaimana ia mengurus usaha jual-beli mobil Omnya. Sebagai orang yang berlatar belakang sarjana ekonomi, sekiranya ia pantas melakoni pekerjaan itu. Ia mengurus usaha besar. Bahkan beberapa mobil yang ia beli, berasal dari Kalimantan juga ada yang dari Kendari. Mobil-mobil yang ia beli adalah mobil bekas tambang. Jika mobil yang di datangkan dari Kalimantan tidak rusak parah, ia bisa memiliki keuntungan yang cukup besar, bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Saat ini, bahkan ada yang dari Kendari sedang memesan mobilnya.
Saat tiba di Mall Nippah, setelah memesan kopi, Ipo menanyakan bagaimana bisa saya ikut kegiatan pelatihan itu. Sontak saja, saya terkejut dan diam. Saya sedang memutar otak, bagaimana memulai penjelasan. Saya menyeruput kopi, lalu mengatakan bahwa sebenarnya saya tidak tahu mengapa diikutkan. Di Kendari, saya pengangguran. Di kampung, saya hanya mengurus Perkumpulan Penikmat Konau. Mungkin ini hanya sekadar rejeki anak sholeh. Hehehe....

                                                                       Makassar, 14 Agustus 2019

07 Agustus 2019

Bahagianya Ibu, Saat Adekku Nini Diwisuda

Akhirnya, saya kembali melihat wajah bahagia Ibu untuk kedua kalinya. Setelah Ibuku bangga melihat saya berhasil diwisuda, kini, Ibu kembali tersenyum bahagia saat Nini adikku juga diwisuda. Saya melihat raut muka Ibu yang mengembang, melukiskan senyum bak mentari pagi bersinar kala melihat anaknya berhasil dia sekolahkan. Semua Ibu lalui dengan tak mudah. Dengan tubuhnya yang rentan sakit dan kurus, Ibu terus berusaha agar anak-anaknya punya pendidikan agar kelak kehidupannya jauh lebih baik.
Masih tersimpan di ingatan ucapan Ibu sewaktu saya menelponya, lima tahun yang lalu, saat adikku Nini akan menamatkan sekolah SMA-nya. Di ujung telfon itu, suara Ibu terdengar pasrah, tak bisa berbuat apa-apa. Ibu bilang, adikku Nini tak bisa kuliah karena tak ada biaya. Ibu sudah tak kuat lagi untuk mencari uang. Bapak agak tak peduli dengan pendidikan kami. Sementara saya, belum juga mendapatkan pekerjaan untuk membiayai adikku kuliah.
“Hala, Nini tak bisa kuliah. Biarkan dia hanya sampai tamat SMA. Saya sudah tak ada uang lagi untuk membiayainya. Saya juga sudah tak kuat untuk cari uang. Kamu tahu sendiri, semenjak kamu kuliah bapakmu sudah tak peduli dengan pendidikan kalian berdua”, ucap Ibu kala itu. Mendengar ucapan Ibu, tak terasa ada air mata jatuh dan membekas di ujung mataku. Saya begitu sedih juga merasa ringkih karena belum bisa berbuat apa-apa untuk Ibu.
Saya mengingat usia Ibu dikampung yang kian sepuh. Rambutnya mulai memutih. Ibu sudah nampak tua. Waktu saya kuliah, bukan sekali atau dua kali mendengar Ibu sakit-sakitan. Sering. Bahkan saya sering pulang demi merawat Ibu dan membantu mengelola kebun yang ada.
Dengan suara datar, saya mencoba menguatkan Ibu. Saya mencoba memberi semangat kepada Ibu bahwa semua masalah pasti ada jalan keluar. Saya katakan, Nini harus kuliah. Saya akan membicarakannya sama Kakak pertama sampai kelima untuk membantu Nini kuliah. Dengan begitu, Ibu tidak akan merasa terbebani. Saya juga akan berusaha mencari uang lalu membantu membiayai untuk kuliahnya.
Mendengar penjelasanku, Ibu mengangguk dan menyetujuinya. Ibu kembali menemukan semangatnya. Ibu begitu paham, bahwa keluarga kami begitu miskin. Diantara 7 bersaudara, hanya saya sendiri yang sarjana. Ibu tidak ingin melihat saya dan adikku seperti Kakaku yang lain. Untuk sedikit memperbaiki kehidupan kami, salah satu cara yang juga Ibu pahami, adikku harus kuliah.
Sama seperti semenjak saya kuliah, Ibu terus membanting tulang untuk membiayai adikku. Alasan Ibu, ia tak ingin melihat anaknya putus kuliah. Tak mungkin berharap secara penuh pada Kakak yang lain, sebab mereka sudah menikah dan punya anak. Dengan keterbatasan itu, Ibu mengakali dengan menanam cabai dan sayur-mayur. Kadang Ibu menjual kelapa, jagung, kacang tanah, keladi dan terong.
Sebagai petani, yang Ibu lakukan hanya berjualan karena merupakan sumber pendapatan satu-satunya. Hasil pertanian kecil-kecilan itu, Ibu jual lalu uangnya dikumpul sedikit demi sedikit dengan baik. Itulah Ibuku yang sangat ahli menata keuangan. Saat saya dan Kakaku yang lain memberikan adikku sedikit uang, Ibu juga ikut mengirimkannya. Kata Ibu, ada sedikit rejeki dari hasil jualannya dan harus dikirimkan kepadanya. Betapa bangganya saya punya Ibu yang sepintar itu. Ibuku sangat luar biasa.
Saya dan adikku memang menjalani kuliah yang tak muda. Orang tua kami bukan pegawai negeri. Bapak dan Ibu juga tak punya lahan kebun yang cukup luas. Mereka bertani secara tradisional dan berpindah-pindah tempat. Penghasilan tak tentu tiap bulannya. Kadang ada uang penghasilan dari kebun untuk disimpan, kadang juga tidak ada sama sekali. Dari situlah Bapak menolak jika saya dan adikku untuk kuliah. Bapak merasa tak akan mampu membiayai kami untuk kuliah. Tapi Ibu selalu menyimpan rasa optimis bahwa segala kesulitan itu bisa ia lewati. Ibu selalu bersikeras agar saya dan adikku tetap menempuh pendidikan S1.
Ditengah situasi sulit seperti itu, saya dan adikkku tetap menyayangi Bapak. Saya rasa, Bapak juga wajar jika tidak menyetujui ketika saya dan adikku mengutarakan keinginan untuk kuliah. Bapak memahami dirinya yang sudah sepuh, tidak kuat lagi untuk berkebun. Bapak sudah tak bisa lagi menghasilkan sedikit demi sedikit uang. Saya dan adikku cukup memahaminya. Bapak juga kala itu sudah mulai sakit-sakitan.
Berkat Ibu yang kerja membanting tulang, saya dan adikku berhasil menjadi sarjana. Juga tak terlepas atas bantuan Kakak, yang dengan rela dan ikhlas ikut memberikan rezekinya untuk kami. Ibu dan Kakak-Kakakku adalah orang-orang hebat. Ibuku adalah mata air, yang selalu melimpahkan kasih sayangnya pada saya dan adikku yang tak pernah putus. Ibuku adalah titisan sang pencipta yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan segala upaya, meski penuh dengan keterbatasan. Ibu telah mengajarkan bagaimana memaknai arti cinta yang sesungguhnya, tanpa menuntut balas. Ibu adalah seseorang yang penuh cinta. Ia telah memanifestasikan hidupnya untuk kami dengan penuh cinta.
Ibu sangat berbahagia dengan keberhasilannya karena telah mengantarkan saya dan adikku menyelesaikan pendidikan. Ia telah melakukan banyak hal untuk kami. Kadang orang-orang dikampung merasa tidak percaya, bagaimana Ibu yang hanya seorang petani bisa membiayai kami untuk kuliah. Uang tak ada. Biaya kuliah hanya bersumber dari hasil kebun yang tak seberapa. Itulah kehebatan seorang Ibu. Do’anya bisa menembus lapis-lapis langit, hingga sang pemberi rezeki selalu membukakan jalan.
Ditengah melihat kebahagian Ibu saat Nini diwisuda, saya mengingat diriku yang kian kerdil. Semenjak diwisuda, saya belum bisa memberikan apa-apa untuk Ibu. Saya masih merasa ringkih, belum bisa berbuat banyak untuk kembali melukiskan senyum di wajah Ibu. Tapi saya berjanji, kelak saya akan kembali melukis senyum itu lebih bahagia dari pada sebelumnya. Saya tak ingin melihat Ibu kembali bekerja membanting tulang, meneteskan keringat peluh di badan dan juga air mata. Cukuplah segala kesedihan itu Ibu tanggung. Kini, saatnya anakmu akan membahagiakanmu.

                                                                         Kendari, 7 Agustus 2019

31 Juli 2019

Ingin Menjadi Murid Yusran Darmawan

Ki Hajar Dewantoro pernah menyarankan begini: “Jadikan setiap orang sebagai guru dan jadikan rumah sebagai sekolah.” Saran ini sangat mengena buat saya. Sebagai orang kampung yang boleh dibilang ndeso, berguru pada orang-orang hebat dan berwawasan luas adalah suatu keharusan. Dengan mereka, saya dapat menyerap banyak hikmah dan mutiara-mutiara sebagai bekal untuk menempuh perjalanan hidup. Berguru pada mereka dapat membuatku terus merasa seperti daun yang hijau. Terus bertahan ditangkai, tahan oleh tiupan angin dan tak akan membusuk.
Di media sosial, ada sosok yang saya kagumi, yang selama ini seringkali banyak kubaca tulisan-tulisannya. Orangnya sangat berwawasan luas, rendah hati, serta seorang pencinta buku. Dia adalah orang yang bertangan dingin, dimana setiap tulisannya dapat menggugah banyak orang. Kata-katanya sangat bernyawa. Dia adalah seorang jenius. Selain melahirkan banyak tulisan di blognya juga telah menerbitkan beberapa buku seperti Kopi Sumatera Di Amerika, Politik 3.0, Naskah Buton, Naskah Dunia dan beberapa buku lainnya. Dia adalah seorang penulis, yang menulis dengan hati.
Namanya Yusran Darmawan. Dia adalah sosok yang pandai menulis, menggali informasi setiap yang singgahi lalu menuliskannya dengan apik. Dia seperti penyihir kata, yang setiap ulasannya mengalir dengan lembut namun kadang juga sangat tajam. Dalam setiap kunjungannya, dia selalu berusaha memotret kehidupan disekelilingnya, lalu berusaha merangkumnya dengan tulisan yang sangat bernas.
Pada sosok Yusran Darmawan, jangan bilang, bagaimana saya mengagumi penulis hebat ini. Sebelum bertemu dengannya tahun 2013 di sebuah kantin FEB UHO saya sudah menaruh kagum padanya. Pada kesempatan itu, saya melihat sosok yang sangat santai, pendiam namun sangat bersahaja. Tatapannya menggambarkan dia seorang intelektual dengan kecerdasan tinggi. Dia adalah seorang antropolog bengawan, yang dikagumi oleh banyak pihak.
Saat saya menelisik blognya timur-angin.com, saya menemukan kepingan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Dia punya ambisi besar untuk memenuhi impiannya yang selalu bergejolak yakni mendaftar untuk kuliah magister di Universitas Indonesia. Dia sadar, dia tak punya uang untuk melanjutkan ke jenjang magister UI. Langkahnya hanya di dorong oleh sebuah kenekatan.
Meskipun banyak rintangan, kerikil-kerikil yang menghadang setiap langkahnya, dia tetap berjalan untuk menembus kepahitan itu. Dia pernah kehabisan uang, hinggah mengalami hari-hari yang paling sulit. Namun dalam kesulitan itu, selalu saja ada keajaiban yang di dapatnya seperti mendapat bantuan kiriman dari pacarnya, Dwi (sekarang istrinya) atau pekerjaan lainnya. Pada akhirnya, ia berhasil merengkuh sekolah magisternya di UI dan melanjutkannya di kampus Ohio University Amerika Serikat.
Yang saya lihat adalah optimismenya yang begitu tinggi. Bahwa dengan keterbatasan apapun, jika punya kemauan untuk menujunya, pasti bisa direngkuh. Tentu harus di barengi dengan perencanaan yang matang dan kerja keras. Dia juga menyarankan agar tak selalu takut dengan pesimis. Sebab pesismis bagi dia adalah senjata agar kita selalu waspada dengan langkah-langkah yang dipilih untuk siap menghadapi segala konsekuensi.
Saya sangat terinspirasi dengan perjalanan hidupnya. Bagaimana dia melalui kehidupan yang begitu keras di Jakarta. Sebagai orang yang sama-sama berasal dari kampung, saya dapat merasakan bagaimana dia berada dalam situasi itu. Kesusahan, jenuh yang melingkupinya, dia jadikan sebagai energi untuk menerawang menuju impiannya.
Pada titik itu, saya ingin sekali berguru dengannya. Bagaimana dia berhasil menghadapi situasi persaingan kehidupan di kota-kota besar yang sangat sengit. Setahun lagi saya akan mencoba menginjakan kaki di kota besar, untuk memenuhi hasrat dalam diriku yang juga terus bergejolak. Saya ingin melanjutkan sekolah magister di UGM. Sama dengannya, saya juga tak punya uang untuk melanjutkan magister. Saya juga hanya bermodalkan kenekatan.
Jika saja saya pantas untuk masuk sebagai muridnya, maka saya dengan senang hati sangat bersedia. Tapi mungkin saya tak akan pantas sebab masih ndeso. Atau untuk sekadar membuatkannya kopi saja tidak apa-apa. Begitulah namanya murid yang ingin berguru. Saya selalu bersedia menjadikanku kucing yang ia latih.
Kemarin di facebook tanpa merasa malu, saya mengatakan itu. Sudah lama, ada keinginan untuk berguru dengannya. Beberapa kali kami bertemu, saya tak bisa mengatakan itu, sebab pertemuan kami sangat singkat. Dia selalu punya kesibukan yang harus dia selesaikan saat berkunjung di Kendari.
Meskipun tak bisa menjadi muridnya, kisah yang dia tulis di blognya beserta tulisan-tulisan lainnya telah menjadi acuan saya untuk terus bergerak demi merengkuh impianku selama ini. Perjalanannya dari kampung di Buton sana, hingga menuju kota besar dan berhasil di Jakarta juga menjadi cermin buat orang kampung seperti saya. Saya juga akan selalu berusaha merawat optimisme dan tak pernah takut dengan pesimisme.

                                                                   Kendari, 31 Juli 2019

19 Juli 2019

Cerita Tentang Tiga Sahabat

Sumber foto: Marhum
Sebagai pengangguran yang hakiki, mendapat ajakan ngopi untuk sekadar cerita yang remeh-temeh adalah suatu keberuntungan. Betapa tidak, saya seperti orang rumahan yang jarang kemana-mana. Paling, sekali sebulan untuk keluar ngopi di warkop. Itu pun kalau ada sahabat-sahabat. Maklum, sahabat-sahabat saya memiliki kesibukan, dibandingkan saya yang hanya seorang pengangguran.
**
Pagi itu, hp saya berdering. Saat kuangkat, terdengar suara yang begitu familiyar. Rasanya, saya begitu mengenal suaranya. Benar saja. Mereka adalah sahabatku dulu di kampus Universitas Halu Oleo. Mereka adalah Marhum yang memakai baju putih dari Muna, pertama dari kanan bernama Alfian Mudo dari Menui, sementara kedua dari kanan bernama Laode Zainudin dari Buton Utara. Mereka hendak mengajak saya untuk ngopi-ngopi di tempat kosnya.
Saat tiba di kamar kos Marhum, kami bercerita panjang lebar. Kami cerita tentang kesibukan saat ini, kelucuan di masa lalu ketika jadi mahasiswa juga bercerita bagaimana menghadapi masa depan yang kian rumit. Saya begitu antusias ketika mendengar cerita mereka. Zae dan Marhum begitu saya memanggilnya, sedang melanjutkan kuliah magister di kampus pasca sarjana Universitas Halu Oleo. Sementara Alfian, integrasi dan memilih kuliah di kampus Unsultra. Dia tak selesai di FEB UHO.
Ketika mereka menanyakan kesibukanku, saya mengatakan, saya sedang menganggur. Tak ada pekerjaan. Bahkan kukatakan, saya terkatung-katung mencari pekerjaan di Kendari. Tak ada hasil. Pulang kampung pun, saya tak laku untuk jadi sekadar menjadi ketua RT. Berbisnis konau, sudah terlalu banyak saingan. Mereka terlihat geleng-geleng kepala, serasa tak percaya. Saya pun hanya tersenyum.
Cerita persahabatan kami adalah cerita tentang kebersamaan. Di Kendari kami punya tujuan yang sama, memenuhi mimpi menempuh pendidikan di kampus UHO. Sahabat saya, Marhum, bercerita bahwa ia hampir saja tidak bisa memenuhi impiannya untuk kuliah di UHO. Katanya, jika tidak ada gelombang keempat yang di buka di FEB maka dirinya tak bisa kuliah dan memilih untuk pulang kampung saja.
Kami ternyata mengalami hal yang sama. Sama-sama lulus gelombang keempat yang di buka di FEB UHO. Saat itu, FEB masih kekurangan mahasiswa sehingga membuka jalur untuk gelombang keempat. Dengan bercanda, saya kemudian menyebutnya “Jalur Buangan” untuk menampung kami yang tidak lolos seleksi sampai gelombang ketiga.
Saat kami bercerita bagaimana memulai persahabatan, semua kebingungan. Tak ada yang benar-benar mengingat. Persahabatan mengalir begitu saja. Yang jelas, kursi yang paling belakang itu sudah menjadi langganan kami. “Kita sering duduk di kursi belakang. Rasanya dari situ kita memulai persahabatan,” kata Alfian sambil terkekeh.
Diantara sahabat yang paling lucu adalah Marhum. Ia mengingat curhatannya ke saya tentang perempuan yang ia sukai di kelas. Waktu itu, saya menjadi pendengar yang baik. Saya bilang, jika kamu menyukai perempuan tersebut ungkapkan saja, jangan memendam perasaan begitu. Anehnya, perempuan itu juga orang yang saya sukai. Dan kami berdua selama itu ternyata menyukai perempuan yang sama. “Saya curhat ke kamu tentang dia, ternyata kamu duluan yang suka. Setelah itu, ada lagi teman yang curhat ke saya bahwa dia menyukai perempuan yang kita sukai. Kejadian itu benar-benar lucu,” ujar Marhum sambil tertawa lepas.
**
Yang paling berkesan dari cerita mereka adalah bagaimana menyusun langkah-langkah untuk menghadapi masa depan yang kian rumit. Ada banyak pelajaran dan hikmah yang saya petik dari mereka. Mereka adalah orang-orang yang haus tantangan serta punya kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Mereka ingin benar-benar menghadirkan embun, ditengah kondisi masyarakat yang serba susah. Dengan ilmu yang dipelajari di Universitas, timbul keinginan mereka ingin berkontribusi terhadap daerahnya masing-masing.
Zainudin memilih untuk fokus membangun desanya di Buton Utara setelah ia menyelesaikan magisternya. Katanya, ada Dana Desa yang membuatnya optimis untuk bisa membangun kampungnya. Dengan keilmuannya saat ini, ia hendak memanfaatkan Dana Desa untuk memperbaiki kondisi masyarakat di desanya. Misalnya memanfaatkan BUM-Desa dengan mengelola dan mengembangkan pertanian terpadu. Zaenudin melihat, BUM-Desa di desanya saat ini tidak terkelolah dengan baik.
Alfian juga punya rencana yang menarik, bagaimana dia ingin berkontribusi terhadap kampungnya. Dia memang gagal menyelesaikan kuliahnya di FEB UHO. Tapi demi merengkuh pendidikan sarjana, kegagalan tak membuatnya patah semangat. Katanya, ia malu saat pulang di Menui ketika tidak bergelar sarjana. Pada hal tujuannya datang di Kendari adalah untuk kuliah. Saat ini di kampus Unsultra, Alfian hendak menyusun skripsinya.
Dari cerita Alfian saya menemukan banyak pelajaran yang bisa saya catat. Katanya, di Menui pekerjaan masyarakat (selain PNS) hanya dua yakni nelayan dan bertani. Masyarakat di kampungnya kadang tinggal menyesuaikan pekerjaannya. Jika cuaca di laut sedang tidak bagus maka warga memilih untuk merawat cengkeh atau menanam tanaman lain. Namun jika panen cengkeh telah tiba, mereka fokus untuk memanen cengkeh berhari-hari. Setelah panen usai, warga akan sibuk mencari penghidupan kembali di lautan lepas.
Di Menui kata Alfian, bisnis cengkeh sangat menjanjikan. Dia tak begitu berharap untuk jadi PNS. Katanya, jika ia tak bisa jadi PNS maka bertani cengkeh bisa menjadi solusi untuk kehidupannya. Dengan bertani cengkeh, dia punya harapan kedepan bisa menciptakan lapangan kerja. “Saya tak begitu berharap jadi PNS. Jika tak bisa jadi PNS saya memilih berbisnis cengkeh saja. Kan saya bisa menciptakan lapangan kerja. Iya kan,” ujar Alfian.
Saya cukup mengapresiasi idenya. Sebab, menciptakan lapangan kerja dengan berbisnis cengkeh adalah salah satu kontribusi yang berharga terhadap kampung. Allfian, begitu cerdas melihat potensi SDA yang hendak dikembangkan di kampungnya. Setelah selesai sekolah sarjananya, opsi berbisnis cengkeh menjadi salah satu pilihan dikampung halamanya.
Hidup jadi PNS memang menjadi harapan banyak orang. Tak sedikit yang berjuang untuk jadi PNS, namun tak sedikit juga yang gagal. Di kampung saya, banyak sarjana yang berkeinginan untuk jadi PNS. Jika gagal jadi PNS, mereka memilih merantau di daerah lain. Tak ada pilihan lain selain merantau. Berbisnis tak punya dana juga bingung hendak berbisnis apa.
Sementara Marhum, ia juga berpikir hendak menata kampungnya. Mungkin ia hendak mencalonkan diri sebagai kepala desa. Entahlah. Sebagai sahabat, saya sangat mendukung langkah-langkahnya. Tapi saat ini, katanya, ia masih memikirkan untuk menyelesaikan pendidikan magisternya dan ingin menikah.
Saat rintik hujan mulai jatuh membasahi rerumputan di depan kamar, saya kemudian memandangi diri. Rasanya, saya perlu menyusun strategi baru agar bisa bersaing dalam bisnis konau. Jika berhasil, emak-emak sudah pasti memilihku untuk jadi ketua RT. Iya kan.
                                                                                  Laode Halaidin

                                                                                  Kendari, 20 Juli 2019

15 Juli 2019

Jalan Sepi Merawat Impian

Foto: Laode Halaidin
SAAT bertemu Guru  di Fakultas Ekonomi dan Bisnis sekitar sebulan yang lalu, dia tak pernah lupa memberi saran agar saya mengambil jenjang magister di UGM atau IPB. Dengan cepat saya mengangguk bahwa sebenarnya keinginan untuk lanjut kuliah ke jenjang magister sangatlah besar. Apalagi di kampus ternama di Indonesia seperti UGM dan IPB tak terkecuali juga UI.
Guru itu adalah Samsul Anam Illahi. Bagi saya, dia layaknya obor, pemikir yang menjadi penerang saat sebagian mahasiswa menemui jalan redup kemana hendak mengalirkan diri. Dia adalah orang yang cukup rendah hati, selalu menyapa dan tak pernah membangun jarak dengan mahasiswanya. Bukan cuman saya. Yang saya lihat, ada banyak mahasiswa yang suka diskusi dengannya, entah konsultasi terkait penelitian atau hal yang reme temeh. Dia jugalah yang mengajarkan bagaimana saya memulai belajar menulis di blog lalu diperkenalkan dengan nama penulis terkenal dan tampan seperti Yusran Darmawan.
Yang saya ingat, saran yang dia berikan bukan cuman sekali tapi berkali-kali. Waktu saya jadi mahasiswa, dia adalah orang pertama yang mendukung agar saya kuliah ke jenjang magister. Bahkan dia tak pernah bosan terus mengingatkan dan menyarankan orang kampung seperti saya. Di setiap ucapannya, dia selalu menghadirkan embun yang setiap tetesannya bisa memberi harapan bahwa ada selaksa kehidupan diujung sana. Dia hendak menunjukan jalan bahwa disana ada samudra pengetahuan. Tak ada yang tak pasti jika ada keinginan untuk menujunya. Termasuk orang kampung seperti saya yang tak punya uang untuk lanjut magister di UGM, IPB atau UI.
Namun, sampai saat ini saya belum menjalankan saran-saran itu, meskipun sebenarnya dalam hati ingin cepat melanjutkan kuliah magister. Keinginan setahun lalu untuk ke UGM harus saya tunda karena ada kewajiban yang harus saya penuhi, merawat Bapak. Setelah beberapa bulan saya rawat, sang pemilik kehidupan berkehendak lain dengan memanggilnya. Kini, saya mulai menata, merancang kembali keinginan untuk pergi ke kota impian itu, Jogja dan Bogor.
**
Masih tersimpan diingatan perkataan sang guru itu , “Kamu harus ke UGM atau IPB ya. Tahun depan kamu bisa sama-sama Yusdin.” Saran itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Apakah ini benar-benar akan terjadi? Apa yang perlu saya persiapkan sebelum bergelut dengan kehidupan kota impian itu? Pertanyaan-pertanyaan itu bergentayangan dalam pikiran, sekaligus ada ketidaksabaran agar secepatnya menginjakan kaki di kota Jogja dan Bogor.
Bagi saya, Jogja dan Bogor adalah salah satu kota impian. Jogja adalah kota yang penuh dengan atmosfir intelektual dan kreatifitas yang sangat tinggi. Ruang-ruang diskusi terbuka lebar. Juga kajian-kajian keilmuan selalu mendapatkan tempat. Kata sahabat, bahkan di perempatan dan di jalan-jalan sekalipun ada diskusi, kajian dan pameran seni.
Saya begitu mendambakan untuk bisa ke kota-kota seperti itu. Sebagai orang kampung, bisa ke Jogja adalah sebuah impian. Bukan saja untuk menikmati objek wisata yang memanjakan mata dan kuliner, tapi yang paling utama dan terutama sekali adalah ingin memperdalam ilmu pengetahuan saya di kampus UGM.
Ada banyak hal mengapa kota Jogja layak saya tempati untuk menuntut ilmu. Selain banyak pendatang untuk mengenal kebudayaan daerah lain, juga warganya yang sangat ramah dan penuh keterbukaan. Satu lagi yang membuat layak bagi orang kampung seperti saya dan ini penting yaitu makanannya cukup murah meriah.
Kota hujan (julukan kota Bogor) juga menjadi kota impian saya. Tentu bukan untuk menikmati hujannya (sebab Kendari dan Muna juga sering hujan) tapi untuk memperdalam ilmu pengetahuan di kampus ternama, IPB.
Selain kampusnya yang terbaik, Bogor juga memiliki banyak hal yang menarik. Ada kebun raya Bogor, Gunung Salak dan Istana Bogor. Bogor yang dikenal sebagai Buitenzorg pada masa kolonial Belanda ini, dikenal sebagai tempat yang nyaman dan sejuk. Bagi saya, disinilah menariknya mengapa Bogor sangat saya sukai.
Di Bogor, lalulintas informasi terus berseliweran. Kebijakan ekonomi maupun politik yang dilakukan oleh pemerintah, selalu dirapatkan di istana Bogor. Di Bogor saya bisa belajar banyak hal dengan orang-orang hebat, intelektual, para pakar ekonomi maupun politik. Satu yang membuat pertimbangan, biaya hidup di Bogor lebih mahal daripada di Jogja.
**
Mewujudkan impian untuk melanjutkan kuliah magister di kampus terbaik seperti UGM, IPB dan UI memang tak mudah. Ada banyak kerikil yang menghadang di depan. Saya juga tahu kalau saya tak punya uang. Kejadian ini sama sewaktu saya ingin kuliah S1 di Kendari. Tak punya uang telah menjadi duri-duri dalam merawat impianku. Bahkan waktu menempuh kuliah S1, banyak yang mencemooh, saya tak bisa menyelesaikan kuliahku.
Namun segala sesuatu harus di coba. Sebagaimana waktu kuliah S1 hanya butuh kenekatan, saat ini saya juga hanya bermodalkan kenekatan. Tak ada yang lain. Saya hanya butuh doa ke dua orang tua untuk bisa melanjutkan kuliah ke jenjang magister. Begitulah saya memenuhi ambisiku yang tengah bergejolak. Tak harus patah semangat dengan keterbatasan yang ada.
Bersahabat denga resiko adalah cara terbaik saya untuk menjalani kehidupan. Bahwa tak ada hidup yang tak diperjuangkan. Juga sebuah ambisi untuk kuliah ke jenjang magister. Semua harus butuh perjuangan dan penuh resiko.  
Demikianlah jalan hidup. Saya harus berjudi dengan resiko. Itu adalah tantangan buat saya. Orang-orang hebat bukan lahir dan bergelut di zona nyaman tapi mereka yang berani mengambil resiko. Dan saya harus memutuskan bahwa tahun depan saya harus keluar dari Kendari untuk menuju Jogja dan Bogor. Kata-kata Muhammad Ali selalu mengingatkanku “He who is not courageous enough to take risks will accomplish nothing in life.”
Di sini, saya hanya perlu mempersiapkan diri dengan terus belajar. Juga membangun jejaring di dua kota dan kampus tersebut. Rasa-rasanya, keinginanku untuk sekolah mulai tak terbendung lagi. Ada semangat yang menggebu-gebu di dalam diriku. Sudah saatnya saya mulai menata impianku dengan baik. Semoga Allah Swt memberikan jalan yang lapang agar saya dapat memenuhi segala impianku. Aminn.

                                                                                 Laode Halaidin

                                                                                 Kendari, 15 Juli 2019