Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

16 Januari 2018

Antara Diperhatikan, Dibuang dan Dipakai

Pixabay

Ini bukan kisah hidup. Ini adalah sebuah pergumulanku dalam mengarungi hidup. Banyak hambatan-hambatan, namun aku terus mencari. Hidupku selalu terombang-ambing seperti dilautan lepas yang sehabis kekaraman kapal. Dilautan itu aku hanya memakai pelampung, terbawah ombak entah kemana. Namun aku ingin terus hidup, untuk mengubah pemandangan disepanjang jalan yang kususuri.
***
Hari-hari saya berjudi dengan kehidupan. Memang ini adalah satu-satunya jalan hidup yang harus kulalui. Menjalani suka dan duka hidup. Sejak menginjakan kaki di tanah ini, saya sudah menduga perjalananku akan terasa berat. Ada jalan-jalan yang tak bisa kutembus. Ada lorong-lorong gelap yang akan membayangi jalanku. Disana saya akan terentang dibuhul jalanan ataukah menang mengarungi samudra.
Sejak disini, perkenalanku makin melebar hingga bertemu dengan beberapa penulis. Saya juga berkenalan dengan banyak orang dari para aktivis, cendekiawan hingga disebut intelektual. Sebagai pemuda, kadang saya cukup menghabiskan waktu dengan mereka-mereka untuk mendiskusikan banyak hal.
Dengan mereka saya seperti menemukan duniaku. Dengan membaca banyak buku dan menulis, saya seperti menemukan butir-butir permata dihamparan banyak pasir. Itulah dunia yang paling mengagumkan. Itulah dunia yang paling menggairahkan. Maka pencarian itu tak pernah terhenti, karena hidup adalah sebuah proses yang tak pernah selesai.
Dalam pencarianku itu, saya bertemu banyak guru yang mengajariku tentang kejernihan berpikir, keuletan dalam mewujudkan mimpi serta nutrisi-nutrisi bagaimana agar kita bisa mencapai sekolah S2. Saya menyambut baik masukan-masukan itu sembari meratapi jalan hidup yang telah kususuri.
Guru saya itu (saya sering menyebut mereka demikian) adalah serupa pemandu atau kompas tatkala kita berada dilorong yang senyap. Ia adalah mulut yang tak pernah bosan, memberi kita dari tetes hingga menggumpal membentuk samudra bahasa, motivasi hingga semangat. Ia serupa malaikat, yang hendak mengantarkan kita pada lubang kecil menuju yang besar. Dari lorong yang gelap hingga menuju yang terang. Dari jalan yang terjal berkerikil ke jalan yang mulus, semulus jalan kereta api.
Bagi saya, itu semua adalah kebaikan yang perlu disambut dengan hati yang jernih. Tatkala bertemu dengannya, saya selalu memasang kuping dengan baik mendengarkannya serupa ceramah yang menggemah. Dan itu terus diulang-ulang. Ditengah hamparan gurun pasir kita diberi harapan bahwa disana masih ada kehidupan, air dan dunia.
Baginya, saya serupa seorang pengelana yang kehilangan pijakan, harapan dan mungkin seorang yang kehilangan dunianya. Ia berkelakar tentang jalan yang penuh tantangan dan berat yang sama sekali tak kumengerti. Ia hanya bisa memberikanku sebotol air, bukan menunjukan dimana air itu berada.
Kadang-kadang saya bertanya-tanya. Bisakah kita mewujudkannya bila kita sekadar diberi harapan-harapan? Setiap kali bertemu dengannya, ia selalu memberikan harapan bahwa disana ada jalan. Saya serupa seorang tentara yang ditugaskan di medan laga untuk berperang dengan senjata tanpa peluru. Saya diperhatikan, dikuatkan dan dilatih, tetapi sesungguhnya setelah diterjunkan sama halnya dibuang.
Yang saya jalani memang selalu tak mudah. Kadang terbersit dalam pikiran, perjalanan hidupku hanya dihinggapi oleh keruntuhan demi keruntuhan. Saya berguru dari satu guru ke guru yang lain. Yang saya dapatkan hanya perhatian, harapan dan diberikan serupa nutrisi agar tetap kuat menghadapi masa depan yang tak tentu arah. Selebihnya tak ada.
Yang lainnya adalah ketika saya bertemu dengan seseorang yang mempunyai pribadi yang juga baik. Saya cukup segan dan menghormatinya. Ia termasuk orang yang irit untuk hanya sekadar bercakap-cakap. Soal pekerjaan ia selalu banyak yang bicara.
Setiap kali bertemu ia tak pernah membicarakan soal sekolah ke jenjang yang lebih tinggi S2. Apalagi memberikan motivasi, penguatan atau nutrisi-nutrisi lainnya. Hubungan kami hanya sekadar hubungan kerja tim. Saya merasakan tak lebih.
Saat saya bercerita tentang keinginan sekolah S2, ia hanya diam. Saya kadang berpikir, mengapa ia memanggilku bekerja dengannya. Saya tak butuh kerja dengan gaji yang demikian. Dari situ saya berpikir bahwa saya sesungguhnya dibuang. Mereka hanya memakai jasaku untuk menuntaskan pekerjaannya. Saya dibuang tapi masih dipakai untuk sesuatu pekerjaan. Maka ini sama halnya, saya hanya diberikan harapan-harapan. Saya hidup antara diperhatikan, dipakai dan dibuang.
Namun apapun itu, saya telah menemukan duniaku. Jalanku cukup terjal, namun tak akan pernah menghentikan pencarianku. Setiap hidup selalu memberikan pelajaran. Dan setiap pelajaran selalu ada hikmah yang terselip, yang lalu menjadi pelajaran hidup selanjutnya.
Keinginanku untuk S2 memang tak pernah terbendung. Bahkan saya mau bersimpuh dibawah altar kepada mereka yang berilmu pengetahuan. Semoga ada orang-orang yang menjadi guru buatku, menjadi pemandu atau kompas untuk menuju ke sana.

                                                                                    Kendari, 17-01-2017

09 Januari 2018

Saatnya Kaum Muda Merebut Kembali Ruang Politik

Tokoh-Tokoh Sumpah Pemuda, Tahun 1928

Kemenangan aktivis muda pro demokrasi Hongkong dalam merebut kursi dewan legislatif 2016 lalu, harusnya menjadi angin segar bagi anak-anak muda di tanah air. Keberhasilan itu menjadi catatan penting bahwa kaum muda sudah tidak lagi dipandang sebelah mata dalam menggerakan sebuah perubahan. Politik bukan hanya ruang untuk mereka yang tua, tetapi juga para kaum muda. Yang muda, saatnya masuk digelanggang politik.
Pertarungan politik di tanah air akan sengit terjadi pada Pilkada serentak 2018 dan Pemilu presiden dan legislatif 2019 mendatang. Ingar-bingar tahun politik itu seringkali menarik perhatian banyak orang. Para pengamat dan peneliti di media massa dan sosial media banyak berseliweran memaparkan analisanya. Tahun ini dan kedepan merupakan tahun politik yang paling dinanti-nanti. Jalan pertarungan politik kian dekat, perang opini sudah dimulai, membuat banyak orang tidak sabar menantinya.
Kendati demikian, yang luput dari perhatian adalah tidak terjamahnya posisi kaum muda ditahun politik itu. Apakah kaum muda menjauh dari politik? Atau jangan-jangan kaum muda hanya akan dijadikan sebagai basis pengumpul suara saat yang tua-tua mencari dukungan.
Suara-suara kaum muda dalam politik selama ini memang seakan sunyi. Yang terlihat, munculnya generasi-generasi tua besutan rezim Orde Baru, datang dengan agenda reformasi yang sudah berganti jubah. Anak muda sekan lupa jalan pulang, dimana selama ini tempat berjuangnya.
Jika menilik dari sejarah, peran kaum muda sejatinya tidak dapat dikesampingkan dalam arena pertarungan politik. Kaum muda berperan besar dalam sejarah perjalanan bangsa. Sejak masa perjuangan dan setelah kemerdekaan, kaum muda terus terlibat aktif sebagai katalisator api perjuangan, baik untuk melepaskan diri dari penjajah maupun menjaga kemerdekaan bangsa.
Sumpah pemuda 1928 merupakan salah satu bukti yang menjadi catatan penting dalam sejarah, dimana kaum muda terlibat dalam perjuangan politik. Tidak hanya itu, setelah kemerdekaan pun kaum muda masih melibatkan diri dalam berbagai medan laga, saat pasukan Belanda mencoba menjajah kembali dengan membonceng tentara sekutu. Kaum muda membentuk suatu divisi khusus yang dinamakan Tentara Pelajar dan Tentara Republik Indonesia Pelajar yang umumya berumur 17 tahun.
Suara-suara para kaum muda itu kemudian terus bertransformasi, tatkala bangsa ini terus dirongrong oleh pihak-pihak oligarkis dan otoriter yang terus membelenggu kehidupan rakyat miskin. Ada pesan moral yang mereka emban untuk membela mereka yang tertindas oleh kekuasaan rezim Orde Lama dan Orde Baru yang cenderung absolut. Kaum muda dari berbagai lintas golongan berhasil membawa bangsa ini kedalam fase kehidupan yang lebih terbuka dan demokratis. Orde Lama dan Orde Baru sukses dijungkalkan dari kekuasaannya. Sayap reformasi kian melebar.
Dengan terbukanya keran demokrasi yang merupakan babak baru era reformasi dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara, kaum muda dan politik justru seakan berjarak. Politik seakan bukan lagi ruang bagi kaum muda untuk mengaktualisasikan gagasan demi kemaslahatan bersama. Sementara kaum muda sendiri seringkali lebih memilih sikap skeptis, apatis dan merasa alergi terhadap politik. Mereka kaum muda, lebih memilih jalan sendiri, hidup dengan jalan lain yang lebih nyaman dengan sedikit mengambil peran dan akselerasi dalam proses demokrasi.
Akibatnya, keringat, tenaga dan pikiran bahkan darah yang dulu tercucur yang diperjuangkan kaum muda kini hampir sia-sia. Saat ini kaum muda dan politik seperti bersisian jalan, saling bermusuhan. Perjalanan memasuki hampir 20 tahun reformasi yang dikemudikan bernama demokrasi, perjuangan kaum muda seperti kehilangan ruh. Kaum muda hanya bangga dengan euforia kemenangan, namun lupa bahwa saat itu mereka hanya sampai dipersimpangan jalan. Setelah itu, kaum muda jalan sendiri-sendiri, tidak lagi beriringan.
Meretas Jalan, Merebut Ruang Politik
Prince Wong (Kir), Isabella Lo (Tengah) dan Joshua Wong (Kanan), merupakan penggerak Revolusi Payung di Hongkong.

Kemenangan kaum muda Hongkong dalam merebut kursi legislatif harusnya menjadi cermin saat ini bagi kaum muda di tanah air untuk merebut politik Indonesia. Bukan mengesampingkan sejarah kejayaan kaum muda masa lalu yang penuh dengan keberanian, terlibat dalam setiap arena pertarungan politik. Tetapi memang saat ini kita seolah kehilangan jejak sejarah. Atau seperti yang dikatakan dalam tulisan salah seorang budayawan Radhar Panca Dahana, bangsa kita telah menjadi bangsa tanpa sejarah. Kaum muda, seperti mengidap amnesia dan tak peduli lagi dengan sejarah politiknya sendiri.
Trauma kaum muda di masa lalu yang terus direproduksi oleh rezim Orde Baru, menjadi salah satu alasan mengapa kaum muda enggan untuk berpolitik. Pandangan politik yang sudah terlanjur institusional dimana negara menjadi subjek yang kerap diperdebatkan, membuat anak muda kehilangan keberanian. Ada peminggiran narasi politik, yang kemudian membuat kaum muda menjadi kehilangan pijakan. Terlebih lagi ditambah dengan sikap pragmatis partai politik, menutup ruang kaum muda yang ditandai dengan proses kaderisasi yang tidak sistematis dan terencana.
Pada titik ini, partai politik berubah menjadi mesin para elit-elit politik tua yang bekerja tidak sesuai dengan perjuangan ideologis partai. Kaum muda bekerja berdasarkan kekuatan kualitas imajinasi, idealisme yang progresif. Sementara elit politik tua seringkali menempatkan sikap pragmatis, oportunis dan transaksional, bekerja mementingkan golongan, partai dan pribadi.
Fakta menarik yang menjadi acuan adalah ketika anggota legislatif dan banyak kepala daerah terjaring operasi tangkap tangan KPK. Istilah ‘Ijon Proyek’ sudah menjadi permainan antara politisi dan para pengusaha demi mengeruk keuntungan yang lebih besar. Yang mencengangkan, mereka melakukan kongkalingkong merampas uang negara, lalu hasil korupsi itu ‘dijatah’ hampir semua politisi yang bekerjasama dengan para pengusaha swasta.
Melihat kondisi diatas, keterlibatan kaum muda untuk mengambil peran dari setiap momentum dalam arena pertarungan politik, sudah menjadi keharusan. Tak perlu ditunggu-tunggu lagi. Kaum muda harus berani keluar dari kamar kenyamanan, kemapanan serta harus mampu melihat dengan jeli akar masalah bangsa yang sudah demikian akut.
Karena itu, diskursus politik bukan hanya sekadar melulu tentang persoalan urusan kekuasaan, pengaturan, Parpol, birokrasi, dan lain sebagainya. Politik merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, sebuah peta jalan kehidupan yang diabdikan untuk mewujudkan kemuliaan yakni memajukan dan mensejahterakan umat.
Hal ini tentu, bisa disepakati apa yang katakan oleh Tan Malaka yang menyatakan bahwa politik harus dimengerti semua orang, karena politik adalah kehidupan sehari-hari. Politik adalah kecerdasan dalam memahami keadaan. Politik selalu hidup dan tumbuh dalam diskursus kemanusiaan, membincangkan tentang keberpihakan moral untuk kepentingan bangsa.
Kaum muda harus memiliki kesadaran, bahwa politik adalah cara terbaik untuk mewujudkan cita-cita yang telah dibangun di masa lampau. Dengan memanfaatkan jangkuan informasi dan teknologi sebagai media politik yang efektif, kaum muda bisa menyampaikan cita-cita dan gagasan dengan lebih luas. Ruang politik digital atau Cyberpoliticon bisa menjadi jalan alternatif agar kaum muda bisa menginterupsi pemerintah, berpartisipasi dalam setiap kebijakan, bersosialisasi serta menggalang aspirasi.
Menjadi manusia politik (bukan sekedar politisi) tentu harus menjadi patokan dan pilihan para kaum muda. Manusia politik mempunyai keterpanggilan untuk memecahkan segala persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat banyak. Dengan demikian, kaum muda harus mempunyai pengetahuan politik yang bermoral dan berkeadaban. Kaum muda perlu berpolitik dengan wawasan, belajar memahami dan menguasai masalah serta mampu merumuskan solusi terbaik yang penuh dengan rasa tanggung jawab demi kemajuan bangsa.
Saat ini kaum muda tak perlu risau dengan minimnya pengalaman, yang sering terlontar dari mulut elit-elit politik tua. Kaum muda, kata salah seorang penyair Samuel Ullman, bukanlah suatu fase dalam rentang kehidupan, tapi suatu kondisi pikiran. Lanjut Samuel, ini bukan soal pipi yang bersemu merah, bibir merah padam dan lutut yang lentur. Ini berkenaan dengan tekad, suatu kualitas imajinasi, suatu kekuatan emosi. Inilah kesegaran dari musim semi kehidupan.
Kaum muda adalah harapan bangsa dimasa depan. Dengan kerja-kerja idealisme yang progresif, penuh imajinasi, kaum muda bisa mengambil peran mengikuti pesta demokrasi elektoral lima tahunan. Keterlibatan kaum muda diparlemen, seperti halnya Hongkong tentu menjadi sesuatu yang menarik, menantikan perdebatan-perdebatan politik yang sengit. Membiarkan sang predatoris uang negara berkuasa, sama halnya kaum muda membiarkan rakyatnya dibelenggu dalam kungkungan kemeleratan.
Kini, kaum muda sudah saatnya merebut kembali ruang politik. Kaum muda perlu segera membenahi, menenun kembali politik kebangsaan yang terlanjur kusut dan gaduh tanpa moral.


                                                                       Laode Halaidin
                                                                       Kendari, 10-01-2018

09 Desember 2017

Perempuan Penunggu Daun Jatuh

Ilustrasi dari: cerpen.co.id

Hari itu matahari bersinar sangat ganas, membuat kulit lebam para pekerja buruh, pemulung dan tukang becak. Sementara langit siang terus menunjukan keperkasaannya. Awan putih menari-nari, membuat matahari menyapu kota dagang.
Jalanan kota yang biasanya terlihat ramai, kini sepi, tak banyak yang lalu-lalang. Hanya tukang becak yang bertahan, menunggui penumpang di sudut-sudut trotoar. Sementara para pekerja kantoran, PNS kantor Walikota terlihat berhamburan keluar. Ada yang dari kedai kopi, ada pula yang dari restoran mewah. Rasanya, jam kerja mereka telah tiba. Sejenak kulirik jam tanganku. Saat itu, waktu menunjukan pukul 14.00.
Dari kejauhan, terlihat banyak pohon-pohon diterpa angin sepoi-sepoi yang berhembus perlahan, menggoyangkan ranting-ranting kecil. Waktu terasa bergulir begitu cepat, hingga menyulap awan putih menjadi gelap. Langit yang tadinya perkasa, kini tunduk pada awan kelabu yang siap mengeluarkan semburat air hujan.
Di tanah kota dagang, orang bebas mencari penghidupan. Bukan lantaran disebut kota dagang lalu semua telah menjadi pedagang. Banyak orang bekerja menjadi penyapu di jalan, perawat taman, pemulung, tukang becak dan penjual kripik diperempatan lampu merah. Ai, bukankah manusia-manusia seperti ini sering dianggap tidak bernasib baik. Mereka bahkan tak bisa menyentuh pelataran kedai kopi atau memasuki restoran mewah seperti para PNS Walikota itu.
Puh-puh-puh, kehidupan memang demikian rumit dan keras. Orang susah kian makin terhimpit oleh kemelaratan. Dan orang-orang pintar berlaga sok pahlawan, sumber solusi penyelesian masalah. Maka, tak salah seringkali sebagian dari mereka ada yang berdagang politik.
***
Dahulu, sepanjang jalan kota dagang banyak berdiri berderetan toko-toko biasa. Kini, pemandangan itu telah berubah dengan berbagai tampilan yang lebih modern. Toko-toko baru mulai dibangun, hotel bintang lima menjulang mengungguli langit, mall dengan tren globalisasi berdiri tegak. Bukan saja itu. Rumah-rumah megah bak istana pun berdiri berjejeran. Disini kini semua tersedia, termasuk rumah-rumah mesum pun ada.
Ah, rasanya saya lupa, kini kita tengah berada dalam zaman kemajuan; zaman dimana orang-orang pintar berkelakar, menguasai panggung politik lalu menjual janji-janji. Kemiskinan digemahkan dibanyak tempat untuk dientaskan. Rumah-rumah tak layak, akan diganti dengan rumah baru yang dianggap layak. Pekerjaan akan banyak disediakan.
Entah apa yang dicapai sekarang! Tak semua orang merasakannya. Yang tersentuh dengan kemajuan dan kemewahan, hanya mereka yang dekat dengan para penguasa politik. Sungguh, mereka lebih beruntung, bernasib baik, daripada para buruh dan pemulung itu.
Apakah kamu juga termasuk golongan maju yang demikian? Maka sedikitlah bersyukur pada tuhanmu. Sebab pada jaman ini, jika tak ikut dengan kemajuan, engkau akan terseret, menjadi karpet kusut yang terinjak-injak bertemankan banyak debu.
***
Pencarianku pada kehidupan, membawaku pada hal-hal yang jauh dari rasionalitas, berjarak dengan kenyataan. Bagaimana mungkin tanah dagang, tanah yang diberkahi keunggulan masih berselimutkan banyak penderitaan. Seorang pengemis duduk berpanas-panasan demi mendapat segepok koin, perempuan pemulung dan dua anaknya yang mencari sampah demi untuk mencari sesuap nasi. Aku telah melaluinya, berkeliling dan bertanya dibanyak tempat, dengan orang yang punya rupa-rupa muka dan pekerjaan. Mereka sama; penuh derita dan kemiskinan.
Kemana lagi aku hendak melihat dan bertanya? Apakah rumput yang bergoyang, dapat menyahut sambutanku? Rasanya tidak. Pun ia tak akan peduli. Tetapi, kini di sampingku ada seorang perempuan paruh baya, duduk termangu, menunggui jualannya. Rasanya aku seperti melihat keksosongan dalam dirinya. Pandanganku terus terpaku pada sosoknya yang mungil dan diam dalam kehampaan. Pembeli hari itu sangat sepi. Maka ia sekali-sekali bergegas pergi, memunguti daun jatuh yang diterpa angin dan hujan.
Sepanjang hari itu aku perhatikan, ia terus melakukan hal yang sama; duduk menunggui jualannya yang sepi pembeli, lalu bergegas pergi memunguti daun-daun yang jatuh. Daun-daun itu ia kumpulkan pada satu tempat dan setelah bersih ia kembali lagi menunggui jualannya. Dan ia lakukan terus menerus. Sampai waktunya pulang kerumahnya.
Bukankah ini sesuatu yang absuriditas! Sebab angin terus berhembus yang lalu menyebabkan daun-daun itu jatuh. Tetapi apalah artinya buat perempuan paruh baya itu. Ia hanya pekerja di taman. Maka sudah tugasnyalah membersihkan taman, agar pengunjung merasa senang dan tentram dengan adanya kebersihan.
“Inilah pekerjaan saya, kata perempuan paruh baya itu, datang menghampiri. Saya merawat taman kota ini supaya terus bersih. Sudah hampir dua puluh tahun, saya bekerja disini.”
Kata-kata itu ia lontarkan padaku, lantaran aku terus mengawasinya. Mungkin ia melihatku seperti terheran-heran karena usianya telah tua.
 “Saya sudah tua, umurku 54 tahun. Tapi alhamdulillah masih bisa kerja disini. Biasanya saya masuk kerja menyapu pagi sampai siang, setelah itu pulang. Karena di rumah sudah selesai pekerjaan, sore saya kembali lagi sambil berjualan.”
Saya menghentikan aktivitas membacaku sejenak, lalu melayani pembicaraan perempuan paruh baya itu. Sejak dari tadi saya ingin menyapanya. Namun, kemauan itu terhenti saat melihatnya sedang sibuk memunguti daun jati putih dan ketapang yang berjatuhan ketanah.
“Ibu bekerja sendirian disini” tanyaku, sambil mengambil kertas untuk membatasi buku bacaanku.
“Kalau pagi, tidak. Kami ada teman-teman. Sore saya kembali ke sini. Tapi bukan untuk menyapu. Saya gunakan waktu ini mencari sedikit rejeki saja.” Katanya.
Matanya sudah terlihat layu. Sepertinya hari ini ia kurang istrahat. Jalannya agak pincang, tidak normal lagi. Hidupnya seperti menanggung beban berat. Entah apa.
“Ibu sepertinya perlu istrahat. Terlalu kecapean kerja. Apa rumah Ibu jauh dari sini?” tanyaku.
“Tidak terlalu cukup jauh, di Jalan Wayong II Dalam. Biasa saya jalan kaki. Pulang pun demikian.” Kata perempuan paruh baya itu, sambil menuju ke tempat jualannya.
Aku mencoba mengikuti perempuan itu, menuju ke tempat jualannya. Dari dagangannya, ia sedikit berjualan minuman dingin dan beberapa makanan ringan. Aku membeli sebotol air mineral, sambil menanyakan tentang pekerjaan dan keluarganya.
Ibu itu bernama Narsih. Dulu, suaminya bekerja sebagai buruh mobil truk pengangkut sampah, pada dinas kebersihan kota. Narsih dan suaminya dalam kantor dinas yag sama. Saat itu, mereka bukan pegawai honor, tapi hanya sekedar buruh yang di upah setiap bulan. Sewaktu-waktu mereka bisa diganti jika sudah tak mampu mengerjakan pekerjaannya.
“Berapa Ibu Narsih digaji tiap bulannya” tanyaku, sambil membantu menaruh jualannya di dalam kardus.
“Awalnya kami digaji tiga ratus ribu, lalu naik lima ratus ribu. Saat ini saya hanya mendapat upah tujuh ratus lima pulu ribu saja.” katanya.
Ibu Narsih terlihat semangat saat mengumpulkan jualannya. Ia masih terlihat kuat. Saat hendak pulang, aku meminta Ibu Narsih untuk mengantarnya sampai di rumahnya. Ada senyum yang mengembang disana. Ia merasa bersyukur dan berterima kasih padaku.
“Terima kasih ya nak, sudah membantu saya” katanya. Saya pun mengangguk, lalu kami pulang menujuh rumahnya.
Rumah Ibu Narsih terlihat biasa. Sangat sederhana. Rumahnya masih berpapankan kayu yang sebagian terlihat sudah lapuk, berbubuk. Atapnya masih memakai daun rumbia, yang didatangkan dari wilayah lain. Rumah itu diapit beberapa rumah mewah dan disekelilingnya berjejeran banyak perumahan.
Saat hendak masuk ke rumahnya yang reot itu, aku langsung diperhadapkan dengan berbagai bingkai foto anak-anaknya. Jiwaku tergoncang, merasa sangat sulit dipercaya. Hatiku merasa terharu dan tersentuh. Bagaimana mungkin, dengan pekerjaan seperti ini dapat menyekolahkan anak-anaknya? Ketangkasan dan kegigihan Ibu Narsih dan suaminya dalam menghadapi hidup, membuahkan hasil yang tidak sia-sia. Anak-anaknya semua telah bekerja dan berpendidikan tinggi.
“Ini semua anak Ibu?” tanyaku, sambil memperhatikan foto yang berseragam tentara. Di samping foto itu, terlihat foto wisuda anaknya yang kuliah di perguruan tinggi ternama di Jawa, foto perempuan perawat dan foto yang sekolah di pelayaran.
“Ia, itu semua anak saya. Kalau tentara tugas di Merauke. Perempuan sudah jadi PNS di sini. Itu yang kuliah di Jawa sekarang masih lanjut Doktornya. Yang pelayaran kerjanya di Kalimantan.” Katanya, sambil menghidangkan teh hangat diatas meja.
Dalam suaranya tersimpul kekuatan dan kesabaran, bahwa nasib hidup adalah penggarisan dari yang maha mencipta. Tugas manusia adalah menjalankan hidup. Ibu Narsih percaya bahwa terang hanyalah salah satu jalan. Juga ia percaya bahwa kompas hanyalah salah satu petunjuk.
Dalam hidup yang penuh dengan kemelaratan itu, Ibu Narsih dan suaminya mencoba berjalan dalam kegelapan, tanpa kompas. Ia merasa bersyukur saat melihat orang-orang disekitarnya sukses dan berlimpahan kemewahan. Keadaan itu mereka jadikan semangat untuk bekerja agar anak-anaknya bisa menikmati pendidikan.
“Ya, begitulah kami jalani kehidupan”, kata suaminya bernama Amin. Keterbatasan hidup harus menjadikan kita agar tetap kuat. Pendidikan hak semua orang. Bukan saja untuk para orang-orang kaya. Kalau kami tidak sekolah, itu tidak boleh terjadi dengan anak-anak kami” katanya, sambil menghisap rokok pusakanya.
Malam itu aku ikut terseret merasakan sentuhan batin yang begitu mendalam. Derita hidup yang mereka alami menjadi sejerah perjalanannya dalam mengarungi kehidupan. Kini anak-anaknya telah sukses dan berpendidikan. Mereka tak mengharapkan banyak dari anak-anaknya.
“Tanggungjawab telah selesai” kata Ibu Narsih. Biarkan mereka menjalani kehidupan sendiri. Juga saya dan suami harus menjalani kehidupan sendiri dan terus bekerja. Menjadi tua, bukan berarti berhenti untuk bekerja” katanya.
Ah, orang tua yang baik, seperti malaikat yang tak mengharapkan pamrih dari keringatnya yang bercucuran selama hidupnya. Dibalik pekerjaannya yang terlihat rendahan, menyapu di jalan dan membersihkan taman kota, ia menyimpan ketulusan dan keikhlasan. Ibu Narsih dan suaminya, pak Amin, pernah dipanggil anak-anaknya untuk tinggal bersama, tetapi mereka menolak dengan alasan tak bisa meninggalkan rumah yang mereka diami selama ini.
Usia tua tak menghentikan kata pekerjaan buat mereka. Saat ini kegiatan rutin suaminya hanya mengolah lahan, dengan menanam berbagai sayuran. Sementara Ibu Narsih tetap bekerja menyapu di jalan dan di taman kota. Sepanjang usia, mereka telah melalui jalan yang tak mudah, penuh dengan kerikil dan cobaan.
Rasanya aku telah mengambil butir-butir pelajaran, berguru pada dua insan manusia yang tegar dalam mengarungi hidup. Ini adalah nutrisi untuk kehidupanku dan kehidupan kita semua. Kita bebas berguru. Pada siapapun. Termasuk pada perempuan penunggu daun jatuh itu.

                                                                                 
                                                                                  L. Halaidin
                                                                                  Kendari, 10-12-2017

03 Desember 2017

Lima Alasan, Sosok Perempuan Yang Aku Sukai

Sumber Gambar: Pixabay

Cinta itu ibarat pentas panggung, yang lakonnya dimainkan antara dua pasang manusia, laki dan perempuan, berkomunikasi dalam sebuah narasi tentang mimpi-mimpi, cita dan harapan. Ada yang menginginkan orang baik, namun pada kenyataannya dianggap jahat, hanya nafsu belaka. Ada manusia yang kuat, tetapi tak dapat menjaga pasangannya. Ada manusia yang tampan, cantik, ada pula manusia yang dianggap ‘biasa aja’. Ada yang cerdas, pintar tetapi ada juga yang tidak....(Oon). Dan terakhir, ada hitam dan ada pula yang berkulit putih.
Kita manusia disodorkan dengan banyak opsi, berbagai macam aneka pilihan. Perempuan menginginkan ketampanan, kesetiaan dan kemapanan dari laki-laki. Sementara laki-laki memilih kecerdasan, kecantikan, kesalehan dan juga kesetiaan pada pihak perempuan. Pada intinya, dua-duanya sama; menginginkan suatu kesempurnaan cinta (aahh....kaya film di tv Net saja).
Tetapi dapatkah kita mengejar lalu menggenggam kesempurnaan itu! Atau jangan-jangan kesempurnaan itu, tidak ada sama sekali.
Namun jika berbicara mengenai perempuan, memang tak terlepas dengan penuh kerumitan. Laki-laki membutuhkan perempuan yang dinilainya cocok, mulai dari hobi hingga prilaku. Hal ini membutuhkan proses pencarian atau bahasa kerennya, suatu investigasi (macam kasus saja), yang lalu kemudian kita dapat memilikinya. Ada peran mencari, mendekati lalu membuat kita menelusuri apa yang menjadi hobi, kebiasaan atau hal-hal yang disukainya. Dari situ, penemuan hanya akan punya dua kesimpulan; bersama atau menjauh.
***
Sebagai manusia yang ketampanannya serupa Rangga dalam film ADDC (jangan iri, ya...haha), tentu tak sembarang berkawan dengan perempuan. Setelah melalui banyak pengamatan dan pelajaran akan hidup, kita patut memiliki alasan, perempuan seperti apa yang layak menjadi kekasih atau pendamping hidup kedepan. Berikut beberapa alasan untuk mencintai perempuan:
Pertama, Perempuan pembaca buku. Sebagai seorang pembaca dan pengkoleksi buku bacaan, mencari perempuan pecinta buku merupakan pilihan yang tepat dan keren. Dengan hobi yang sama, kita dapat mendiskusikan berbagai macam buku; mulai dari novel, syair, puisi dan buku-buku lainnya. Kita juga dapat mendiskusikan tentang persoalan ekonomi dan politik, sosial maupun budaya. Dalam keseharian, saya membayangkan, hidup yang dipenuhi dengan banyak buku koleksi, menjelajahi berbagai macam pemikiran dari Timur hingga pemikir Barat. Bahkan kita bersama akan terlibat didalamnya, penuh dengan gejolak dan romantisme.
Bukankah itu, kehidupan yang indah! Dikelilingi dengan banyak buku, bagi saya adalah bentuk kesempurnaan hidup. Kita akan bersapa dengan kata, banyak pemikir lalu bergumul didalamnya. Setiap membuka lembar perlembar, kita akan disuguhi dengan bau wangi khas buku, yang baru keluar dari percetakannya. Aromanya memikat, yang membuat hidup kita berada dalam surga-surga perpustakaan yang tersimpan banyak pemikir dunia.
Maka, mencari perempuan pendamping hidup juga harus butuh kejelian. Bukankah kita selalu mendambakan pasangan yang punya kecerdasan dan berikutnya romantis! Saya mendambahkan sebuah kehidupan yang siap menjelajah, yang memenuhi otak-otak banyak pemikir, sambil beriringan melintasi anak-anak sungai lalu menuju ke samudra pengetahuan.
Sungguh, ini sebuah kehidupan yang sangat menggairahkan.
Kedua, Perempuan yang tidak menuntut. Kehidupan yang modernis, bukan saja identik dengan berkembangnya industri teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga identik dengan kehidupan manusia yang bersarang dalam hidup konsumerisme. Sifat konsumeris ini, juga penyebab dari adanya korupsi yang mewabah di negeri yang kaya ini.
Jika banyak tuntutan dari pihak perempuan, laki-laki mencari jalan alternatif untuk mencari bahkan mencuri kemewahan hidup. Yang dilakukannya, bisa dengan melawan hukum, memanfaatkan kekuasaan, yang tidak sesuai aturan dimana harta itu didapatkan. Atau ikut kongkalingkong mengamankan proyek untuk mendapatkan fee besar.
Perempuan yang tidak menuntut merupakan harapan banyak dari kaum laki-laki. Bagaimana tidak, perempuan seperti itu bisa mengartikan kesederhanaan hidup. Segala pekerjaan yang kita geluti hanyalah titipan, bukan untuk menghasilkan pundi-pundi kekayaan yang tak tentu adanya.
Saya sangat mendambakan hidup dengan perempuan yang tidak menuntut ini dan itu. Perempuan seperti itu, sama sekali tak memprioritaskan harta kepada laki-laki, harus mempunyai kekayaan dan kemewahan yang melimpa. Dalam diri, saya akan menemukan sebuah arti hidup, bahwa dunia bukan saja tentang pencarian kekayaan dan kemewahan tetapi bagaimana agar kita bisa meneteskan setiap embun ke ladang-ladang yang lalu mengairi sumber kehidupan pada orang banyak.
Tugas kita adalah sebuah karya, yang lalu menginspirasi banyak orang di dunia. Dan biarkan saya bekerja─bekerja untuk keabadian. Itu bisa kulalui bersama perempuan yang tidak menuntut.
Ketiga, Perempuan yang suka membuatkan kopi. Ini memang sederhana, tapi dengan secangkir kopi, perhatian ini membuat hati saya jatuh berkeping-keping. Kopi itu punya daya tarik, yang bisa melelehkan rasa. Aroma baunya yang mengepul, membuatku dapat menyerahkan diri pada seseorang. Rasa kopi, dapat menggairahkan kehidupan, menghilangkan rasa ego yang lalu menghantarkan kita pada dunia yang luas. Kita bercengrama, sambil bercerita tentang dunia, kemana kita akan membawa cita, mimpi dan harapan itu.
Tidak percaya. Coba buatlah kopi bersama pasangan anda dan silahkan dibuktikan. Kecuali, pasangan anda memang tak banyak membaca, maka cerita itu tak akan mengalir.
Sebagai pecinta buku dan kopi, saya selalu mendambakan saat saya sedang sibuk bekerja, membaca, menulis atau merampungkan sebuah penelitian, seseorang dapat menyediakan kopi. Saya duduk diruang meja kerja, lalu kekasih datang menyuguhkan sebuah kopi yang sangat begitu nikmat.
Bukankah ini, kehidupan yang selalu didambakan banyak manusia! Tak perlu mencari kedai kopi diluar, sebab buatan orang yang kita cintai, lebih mantap dari buatan siapa pun.
Apakah anda menginginkannya? Maka carilah perempuan yang punya perhatian, meskipun hanya sekadar membuatkan kopi untukmu.
Keempat, Perempuan yang apa adanya. Selama di Kendari, saya mengenal banyak perempuan-perempuan cantik, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Saat menjadi mahasiswa, saya juga dikelilingi wanita-wanita cantik, bukan karena kekayaan dan kecerdasan, tetapi karena selalu memegang absen. Mereka yang terlambat datang menghampiri, lalu meminta dihadirkan setelah itu pergi. Ia akan kembali esoknya, jika terlambat lagi, melakukan hal yang sama (haha...saya betul-betul dimanfaatkan).
Bicara mengenai perempuan, memang tak pernah ada selesai-selesainya. Apalagi jika kita mengacu pada data, bahwa perempuan menjadi populasi terbanyak jika dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini akan membuat laki-laki kewalahan, memilih satu diantara jutaan perempuan.
Namun, ada saja mana perempuan yang harus didekati dan dijauhi. Perempuan yang perlu dijauhi adalah perempuan yang memaksakan diri menjadi sesuatu. Ia tidak bisa tetapi memaksakan bisa. Ia terlihat ingin menonjol, dihargai lalu menerapkan banyak aturan. Kadang lantaran suda sekolah S2, ia ingin terlihat seperti paling tahu, paling tua. Perempuan seperti itu tak pernah bisa dibedakan antara tegas, pintar atau jangan-jangan pelit.
Dalam hidup, saya hanya menginginkan perempuan yang apa adanya, mulai dari penampilan hingga kecerdasan. Saya merasa ngeri melihat perempuan-perempuan yang memaksakan diri, yang bukan ada pada diri mereka sendiri. Kadang saya juga melihat perempuan seperti itu tak punya etika yang baik. Sementara perempuan yang apa adanya, ia sama sekali tidak melebih-lebihkan diri, tampil dan cerdas apa adanya.
Namun, apa pun itu, saya selalu menempatkan mereka untuk selalu dihargai. Toh, mereka juga manusia ciptaan Tuhan.
Kelima, Perempuan yang suka bertani. Saya pernah berkunjung di salah satu rumah dosenku, di belakang kampus pasca sarjana Universitas Halu Oleo. Saat itu, sebagai mahasiswa yang masih gelisa, saya selalu meminta nasehat bagaimana menghadapi masa depan yang kian sulit. Sambil merawat tanamannya, ia mengatakan, “Sudah. Semua kehidupan harus dihadapi Din, sesulit apa pun itu. Apakah kamu akan menyerah? Hidup itu selalu berproses, maka berproseslah dengan baik.”
Saya mendengar kalimat itu sebagai pedang, yang langsung menebas rasa pesimis saya pada kehidupan. Dosen saya yang satu itu, bukan saja rajin menyemangati mahasiswa-mahasiswa dari kampung seperti saya, ternyata ia juga rajin merawat kebun bunga dan tanaman-tanaman tani lainnya. Sontak, perhatian saya langsung tertujuh pada tanaman-tanaman itu. Lalu, pembicaraan kami hanya terfokus pada aktivitasnya, setelah melalui kesibukan mengajar.
Ide menanam dan merawat bunga itu, ternyata awalnya dari istrinya. Mereka lalu memanfaatkan lahan dibelakang rumah yang berukuran kecil sebagai tempat menyimpan bunga dan tanaman. Yang saya lihat seperti Marisa, Nangka, Lemon dan berbagai tanaman lainnya. Yang menarik, semua ditanam di dalam pot bunga, sehingga tanaman itu tidak membesar atau meninggi, namun sudah menghasilkan buah.
Aktivitas seperti ini memang selalu menarik perhatianku. Rasanya menarik, selain mempunyai kesibukan lain, hidup bisa diluangkan dengan aktivitas merawat tanaman untuk bertani kecil-kecilan.
Bagiku, memiliki pasangan yang sama-sama suka merawat tanaman, bisa menjadi sesuatu yang keren. Perempuan yang suka dengan tanaman, biasanya dikenal dengan kelembutan dan rasa kasih sayang. Jika perempuan pandai merawat tanaman maka ia sudah tentu pandai merawat cinta.
Bukankah demikian! Jika tidak percaya, mari kita sama-sama buktikan. Cari perempuan yang suka bertani, merawat bunga dan tanaman berbuah lainnya.
***
Inilah alasan, kepada sosok perempuan seperti apa saya harus menyukai. Tulisan ini, merupakan jawaban dari pertanyaan teman-teman. Kata seorang sahabat, “Ijazah sarjana sudah ada, kapan memiliki surat nikah.” Pertanyaan ini sempat membuatku diam seribu bahasa.
Tapi, aahh....Entahlah. Kita masing-masing punya pandangan yang berbeda, bagaimana menilai perempuan atau sosok perempuan seperti apa yang pas bersama kita.
Bukankah kita menginginkan sebuah bahtera keluarga yang paling bahagia di dunia! Jika ia, maka anda harus menentukannya.

                                                                                   L. Halaidin
                                                                                   Kendari, 3-12-2017

19 November 2017

Untuk Sjahrir, Kita dan Nasion

Buku: Mengenang Sjahrir
Bung Sjahrir. Dalam kuburmu, mungkin engkau akan tertawa sarkasme, mengejek, melihat bagaimana manusia-manusia saat ini dalam bernasion dan bernegara. Manusia-manusia itu, kini tidak lagi memenuhi jalan pikiranmu, membangun nasion yang berkesejahteraan, bahkan mengabaikan pendidikan politik sebagaimana yang engkau ajarkan. Mereka bertindak seperti palu godam, yang bisa merobohkan kekuatan maha dahsyat sekalipun, termasuk kekuasaan rakyat sebagai konstituennya.
Bung Sjahrir. Jalan politik yang ditempuh, bukan lagi seperti yang engkau titahkan pada manusia baru setelah kemerdekaan yakni berpolitik dengan jujur, bersih, berani, kerakyatan, berdemokrasi dan berkeadilan. Banyak manusia-manusia yang kini sudah tua itu, berpolitik dengan cara-cara tidak sehat, kotor, untuk hanya sekadar memburuh nafsu kuasanya dengan menghalalkan segala cara.
Mereka seperti Yudas dalam perkataan, tetapi seperti Qurais dalam perbuatan. Tindakan mereka, mencerminkan tenggelamnya pemahaman akan bernasion dan bernegara, rusaknya moral dan mental para politisi, lalu generasi muda memikul tanggung jawab berat sebagai negara terkorup. Bukankah lebih baik, generasi tua-tua itu, dibuang saja ke keranjang sampah! Mereka sama sekali tak berguna lagi.
Bung Sjahrir pemikir besar. Pemikiranmu dalam kanca perpolitikan tanah air, memang perlu dilanjutkan. Engkau menorehkan suatu perjuangan politik yang ikhlas, berani, bermoral serta berpolitik dengan wawasan. Jika saat itu revolusi dikobarkan melawan penjajah kolonialis atau sebuah negara fasisme, kini diperhadapkan dengan perang melawan pembodohan, nafsu keserakahan terhadap harta benda dan mental-mental politisi dan pejabat korup.
Seperti yang telah engkau titahkan dalam buku kecilmu Perjuangan Kita, bahwa revolusi nasional saat itu hanyalah fase dan sarana untuk kemerdekaan yang paling esensial yakni sebuah revolusi sosial dan  mental. Inilah perjuangan sesungguhnya saat ini yang harus digariskan pada generasi muda. Bahwa kekuasaan hanyalah jabatan dan itu merupakan amanah yang harus diperjuangkan dan diwujudkan untuk kepentingan rakyat semata.
Bung Sjahrir. Seharusnya manusia Indonesia harus berguru pada pemikiran, gagasan dan ide serta kepribadianmu. Engkaulah manusia yang tidak mementingkan kekuasaan pribadi, kelompok, merebut kendali kekuasaan lalu memimpin pucuk pimpinan negara. Engkau hanya menyusuri jalan kerakyatan, memperjuangkan kemerdekaan dan didasarkan pada prinsip demokrasi. Jiwa dan segala pikiranmu engkau berikan kepada nasion, demi sebuah negara yang berdaulat, berkesejahteraan sebagaimana yang engkau fahami dalam ideologi sosialis-demokrat (Sosdem), berkeadilan, serta menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.
Bung Sjahrir. Dalam kuburanmu engkau akan merenungi, bagaimana mungkin cita-cita yang engkau torehkan untuk nasion dan negaramu, berubah menjadi demikian hancur, terpecah menjadi kepingan-kepingan “kebrutalan politik”. Manusia-manusia saat ini yang berpolitik, baik dari partai yang berideologi Islam, Nasionalis maupun Demokrat, berubah menjadi  srigala liar yang buas, serakah terhadap harta, suka menindas dan memeras, menginjak-injak hak asasi manusia, yang lalu kemudian membelokan perilaku mereka seperti kolonial penjajah. Rakyat yang selalu engkau dambakan itu, kini dijajah kembali oleh hawa nafsu sesama warga negara.
Andai engkau masih hidup, mungkin perlu menulis kembali dengan model baru sebuah buku kecil atau pamflet sebagai alat perbaikan nasion, Perjuangan Kita dan Renungan Indonesia, sesuai dengan situasi atau kondisi saat ini. Cita-cita dan harapan yang engkau pikir dan susun dalam pembuangan itu, Revolusi Sosial dan Mental, bukan dijadikan mercusuar untuk membangun nasion. Pemikiran itu, seakan terserak dalam kubangan, ditutupi oleh lumpur-lumpur yang kotor. Hingga kini, mereka lupa dan tak pernah melanjutkannya kembali.
Pejabat kita saat ini, semakin menunjukan superioritas kekuasaannya, berbuat seenak perutnya sendiri, membuat kebijakan yang mengangkangi kepentingan petani, buruh dan nelayan. Dibatok kepala mereka, hanya menginginkan kekayaan, kekuasaan dan keamanan. Para pejabat kita bukan lagi berpihak pada rakyat kecil, tetapi kepada para pemodal; dari investor perkebunan sampai pertambangan.
Bung Sjahrir. Dari buku yang ditulis kawan-kawanmu aku mengetahui, bahwa engkau tidak mencintai politik. Bagaimana mungkin engkau terlibat dalam lumpur yang kotor itu! Dari lembar per lembar aku membuka, ternyata keterlibatanmu bukan atas dasar nafsu akan kekuasaan, tetapi ditopang atas rasa kewajiban sebagai anak nasion yang sama-sama terjajah. Naluri dan nuranimu bergejolak, lalu engkau memilih melibatkan diri demi sebuah nasion, ingin melihat sebuah negara yang merdeka, masyarakat yang terbebas dari segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan kolonialis penjajah.
Buku, Biodata Sosial Sjahrir
Bung Sjahrir. Apakah Bung saat itu berpikir, bahwa manusia-manusia baru akan bekerja dan berpolitik sebagaimana yang engkau perjuangkan yakni atas rasa kewajiban untuk mengangkat kemiskinan dan kebodohan rakyat? Jika itu yang terpikirkan, maka harapan itu melenceng cukup jauh. Negeri kita saat ini sudah sangat membingungkan. Rakyat dibuat tidak mengerti dengan prilaku dan sikap para pejabat itu.
Para politikus yang duduk disenayan hobi membuat onar, gaduh, membuat pernyataan yang sesat, saling mencaci-maki dan suka lapor-melapor. Tak banyak Undang-Undang yang mereka kerjakan selama tiga tahun ini. Diskusi mereka, hanya seputar bagaimana mengamankan sebuah proyek yang ber-fee besar, lalu mendirikan perusahaan fiktif untuk menampung anggaran dan dibagi-bagi sesama mereka dan pengusaha. Pembicaraan tentang bagaimana membangun kemaslahatan umat dikesampingkan, sebagaimana yang dimaknai dalam arti politik.
Para menteri yang duduk di istana lebih parah lagi, membuat kebijakan yang tumpang-tindih (tidak sejalan), yang lalu mengabaikan nasib petani, buruh dan nelayan kecil. Lahan banyak dicaplok pihak perkebunan dan pertambangan karena keberpihakan mereka pada pemodal, rakyat menjerit karena berbagai subsidi dicabut, terutama subsidi listrik.
Pemerintah membangun infrastruktur jalan; jembatan dan tol tapi hanya terfokus dari daerah perkotaan Jawa, Jakarta, Sumatra, sedangkan Indonesia Timur terabaikan. Utang negara meningkat karena pembangunan infrastruktur tersebut, lalu petani, buruh dan nelayan ikut menanggung beban yang bahkan jalan mereka masih berbatuan, berkerikil dan memakai jembatan kayu yang lapuk.
Lalu, ada pertanyaan yang menghinggapi dibenak pemikiran kita. Untuk siapa jalan-jalan-jalan itu dibangun? Apakah petani, buruh dan nelayan bangsa kita melewati jalan-jalan yang mulus dan semegah itu? Pemerintah melayani siapa? Investor ataukah petani!
Bung Sjahrir. Dalam kuburmu, aku seperti melihat kegelisahan dalam dirimu, bagaimana melihat gerak nasion saat ini. Apakah sesuai dengan yang diharapkan saat semasa revolusi? Jika engkau masih hidup, berada dalam ibu pertiwi nusantara, mungkin engkau akan melakukan seperti yang kalian kerjakan bersama Sastra, mengunjungi masyarakat dipelosok desa lalu memenuhi pikiran akan ke kecewaan. Mengapa demikian? Karena nasion kita, yang dipenuhi manusia-manusia baru itu tak banyak yang berubah, masih diselimuti oleh kabut antara melayani rakyat, pihak feodalis dan kapitalis.
Bung Sjahrir. Gerak nasion ini tak pernah luput dari campur tanganmu, pemikiran dan gagasanmu yang dingin. Engkau turut membangun nasion dan negara bersama Soekarno, Hatta, Tan Malaka, M. Natsir, H. Agus Salim berserta sahabat-sahabat, menjadi negara merdeka yang berhak menentukan nasib sendiri. Perjalanan itu engkau lalui cukup panjang, bahkan bisa melewati berbagai rintangan dari penjarah, pembuangan atau menjadi tahanan politik dan ancaman pembunuhan.
Tapi inilah bentuk kecintaanmu terhadap nasion dan segala nasibnya yang sungguh memprihatinkan rakyat banyak. Jabatan sebagai Perdana Menteri bukan engkau jadikan untuk mencari nafkah dan menghimpun kekuatan untuk menguasai pucuk pimpinan negara, tetapi sebagai panggilan perjuangan kemerdekaan dan kerakyatan. Engkau juga pernah turun sebagai Perdana Menteri, setelah partaimu sendiri menolak hasil-hasil politik yang telah dicapai.
Namun, disinilah bagi banyak pihak, bahwa engkau adalah guru bangsa, yang pertama kali memberikan pendidikan politik bagi nasion. Bagi partaimu sendiri, engkau dianggap gagal, yang lalu dengan lapangdada engkau menerima konsekuensi harus turun jabatan. Engkau juga tak pernah menaruh dendam, melihat atau membicarakan sisi-sisi negatif dari lawan-lawanmu. Para politikus kita, manusia-manusia baru saat ini, sudah saatnya berguru dengan pemikiran dan kepribadianmu.
Bung Sjahrir. Kepahitan jalan revolusi sebelum kemerdekaan yang engkau rintangi, ternyata mendapat tantangan besar setelah kemerdekaan. Malah ini lebih tragis dan memprihatinkan. Bagaimana tidak, penggerak dan pejuang api revolusi, malah menelan anak-anaknya sendiri. Soekarno melakukan suatu tindakan fatal, memerintahkan penangkapan terhadapmu, atas fitnah, tuduhan yang tidak terbukti, yang lalu membawa pada kematianmu.
Engkau jatuh sakit ditempat tahanan, lalu dibawah berobat di Zurich, Swiss dan meninggal disana. Apakah generasi muda saat ini akan melupakan sejarah ini? Tidak. Kami akan selalu mengenang jasa-jasamu, pemikiranmu untuk nasion ini. Kepahitan jalan yang engkau lalui, biarlah menjadi pupuk generasi muda, bahwa negara ini tidak dilahirkan dengan segala kemudahan, tetapi lahir karena banyak kesulitan dan kesusahan.
Kumpulan karanganmu dalam buku Pikiran dan Perjuangan, Renungan Indonesia dan Peruanagan Kita, perlu dihidupkan kembali, sebagai landasan generasi muda untuk memajukan demokrasi dan kerakyatan. Terutama anak generasi muda perlu menggemahkan kembali Revolusi Sosial dan Mental. Ini penting, karena karangan itu dasar pemikirannya mengenai persamaan, keadilan, kemakmuran yang adil dan merata untuk rakyat, menghindari prilaku yang suka menindas serta meniadakan nafsu, baik terhadap harta kekayaan, kekuasaan dan kenyamanan.
Bung Sjahrir. Engkaulah manusia yang utuh, manusia yang berpikir besar, maka segala yang mengenai cita-cita perjuanganmu perlu kami teruskan kembali. Biarkan semua menjadi wadah dan kompas untuk mengarahkan kemana sebuah kapal besar ini berlayar. Bung, tenanglah disana, bersama Bapak Nasion yang lain.
Sjahrir adalah kita. Sjahrir untuk kita dan nasion.

                                                                                 Kendari, 20 November 2017
                                                                                 Laode Halaidin

10 November 2017

Cerita Dibalik Riset: Kena Sweeping, Sama Polwan Cantik

Sumber gambar: media.iyaa.com

Begini. Ketakutan terbesar dalam hidupku itu, bukan persoalan masuk neraka, karena siksaannya begitu sadis, apalagi melihat pocong atau hantu disiang hari. Tetapi sebagai orang lapangan, yang pekerjaannya keliling, putar-putar kota, mencari pihak-pihak yang ingin diwawancarai, ketakutan saya muncul saat hendak memikirkan sweeping, lalu ditilang polisi. Ini sangat mengerikan, sambil mengutuki para polisi, karena kendaraan atau STNK akan ditahan atau disita oleh polisi.
“Sial. Hari ini saya akan berhadapan lagi dengan polisi. Saya akan ditilang.”
Pilihannya; lari dari masalah atau berhadapan langsung, mempertanggung jawabkan diri yang tak punya SIM.
Kejadiannya kemarin sekitar pukul tiga sore, saat hendak pulang dari riset. Sudah beberapa hari saya menunda riset karena adanya operasi zebra. Kendaraan roda duaku yang butut pinjaman, mempunyai STNK, mati pajak dan saya tak mempunyai SIM.
Saya memulai riset nanti hari Selasa tanggal 7, empat hari yang lalu. Selama dua hari, saya aman dan tidak bertemu dengan operasi zebra kepolisian. Selama dua hari itu, riset kukerjakan dengan maraton agar cepat selesai. Ehh.....malah tidak selesai dan saya harus melanjutkan pada hari esoknya, tanggal 9 November.
Ditanggal 9 itu, pagi-pagi saya bertemu seorang cewek lalu meminta antar di daerah Konda, Konawe Selatan. Kamar temannya terkunci dan bingung akan hendak kemana. Lalu dengan respon cepat, saya langsung tancap motor menuju tempat yang akan ditujuhnya.
“Maklum, ini kesempatan untuk memikat cewek seksi dan harum. Sudah lama saya tak mendekati lagi perempuan-perempuan yang bekerja pada saat malam, yang berbibir merah itu.” Hehehe....
Tapi, jangan berpikiran negatif dulu. Bukan itu yang menjadi targetku. Saya hanya hendak memburu informasi, terkait dengan liku-liku kehidupannya. Ini tentu akan menamba wawasan dan inspirasi tentang kehidupan, betapa banyak orang-orang yang menggantungkan hidupnya, yang menurut orang lain itu pekerjaan kotor tapi baginya itulah cara mempertahankan kehidupannya.
***
Setelah menyelesaikan riset, kelaparan ternyata memburu dan lambungku tak sabar meminta makanan. Saya mendengarkan suaranya, yang sudah begitu murka lantaran kekosongan makanan dari pagi hingga menjelang sore. Lalu, saya memeriksa kantung.
“Sial. Uang tinggal 9 ribu rupiah. Makanan apa yang hendak kubeli? Teringat dengan ATM, tapi apa boleh buat sudah lama tak punya saldo, kering”
Disaat seperti itu, seorang teman menelpon untuk mentraktir saya makan. Persoalan ditraktir, jangan bilang, dengan cepat saya akan meluncur. Ini rezeki, ada tangan-tangan tuhan yang tidak kentara, yang ikut membantu disaat kita kesusahan. Jika saya punya sayap, saya akan terbang saja, lalu hinggap dimeja makan dan melahapnya. Ahh....kaya cicak dengan nyamuk saja.
Tidak jauh dari perjalanan, ada operasi zebra yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Saya melihat beberapa antrian kendaraan yang diperiksa oleh dua orang Polwan cantik dan beberapa teman polisinya. Kemudian dengan orang-orang yang ditilang itu, kami memberhentikan kendaraan.
“Silahkan parkir disini motornya Pak” kata Polwan cantik itu.
“Baik Bu” kataku, seperti seorang murid yang sedang mematuhi perintah Ibu gurunya untuk mengerjakan soal Matematika yang sulit itu dipapan tulis.
Segera saya memakirkan motor, lalu membuka helem. Ia sejenak menatapku agak lama.
“Kamu.......”, kata Polwan itu. Nadanya agak panjang, seolah sebelumnya ia telah mengenalku. Atau mungkin ia ingin mengatakan mirip dengan mantannya. Atau juga, dia terlena dengan ketampananku.
Yang terjadi mengejutkan, Polwan itu pergi, bukan memeriksa surat-surat kendaraanku, malah pergi memeriksa kendaraan roda dua lain, yang mengantri dibelakangku untuk diperiksa. Setelah selesai memeriksa kendaraan yang lain, Polwan itu kemudian datang lagi.
Kali ini bukan dia yang mengajukan pertanyaan, tapi saya sendiri.
“Mengapa saya tidak diperiksa. Tolong diproses secepatnya, saya buru-buru ingin menyetor hasil risetku dikampus” kataku dengan tegas tapi dengan cara halus.
Saya memang ingin menyetorkan hasil risetku ditanggal 9 itu, agar anggarannya cepat cair. Sudah mau dua bulan dana itu tidak keluar, hingga membuat kantong kering dan tak bisa membeli buku bacaan baru.
Polwan itu terdiam, ia tersenyum lalu mengatakan.
“Yang ada apa” kata Polwan itu. Ia hendak menanyakan yang ada surat-surat kendaraanku.
“Saya hanya punya STNK tanpa ada SIM” kataku.
Polwan yang satunya kemudian datang menghampiri. Kini yang saya hadapi dua Polwan cantik yang begitu anggun, langsing dan harum. Pikirku, jika berhadapan Polwan secantik ini, saya mau bekali-kali untuk ditilang. Saya bisa saja memutar pembicaraan bukan persoalan surat-surat kendaraan, tetapi tentang bagaimana merawat kehidupan dengan cinta agar terus mekar. Saya juga bisa membicarakan tentang dirinya dan dunia yang luas.
Berlagak seperti wartawan untuk menginterview, bertanya sambil bercerita. Bukankah perempuan cantik selalu tertarik jika membahas tentang cinta dan kehidupan!
Saya tidak melihat mereka sedang berunding. Dengan tenang, saya hendak membuka tas, mengambil STNK motor. Belum sempat saya keluarkan, Polwan dengan nama Bripka D, langsung mengatakan.
“Ia, kamu jalan saja. Silahkan melanjutkan perjalananya” kata Polwan itu.
Saya kemudian mencoba mengkonfirmasi ulang.
“Saya dibiarkan jalan” kataku terheran-heran.
Polwan itu kemudian menyahut dan menyilahkan untuk saya pergi.
“Iya, hati-hati” kata Polwan itu.
Sebelum saya membunyikan mesin motorku, Polwan itu datang lagi, sambil mengatakan sesuatu yang lain lagi.
“Tadi itu gara-gara kamu, sehingga ada orang yang melanggar meloloskan diri”
“gara-gara saya. Maksudnya?” Saya bertanya dengan terheran-heran. Apa hubungannya denganku dengan orang yang melarikan diri itu. Saya benar-benar dibuat tidak mengerti.
Saat saya meminta penjelasan, Polwan cantik itu malah memilih pergi memeriksa kendaraan lain. Saya melihat ia pergi dengan tersenyum lalu menghampiri teman-teman polisi lainnya.
Pikirku, mungkin dia ingin bermain-main denganku. Saat saya meninggalkan tempat yang keramat itu, dipikiranku selalu melintas, mengapa Polwan cantik itu tidak langsung memeriksa surat-surat kendaraanku! Ia juga, seperti menyapa, bukan bertanya, mana SIM dan STNK-mu, tapi kamu...ia seperti menyapa orang yang dikenalnya.
Pikirku, apakah saya mirip mantannya atau apakah dia terlena dengan ketampananku! Hehehe....
Didalam benak, saya masih bertanya-tanya. Siapakah Polwan itu? Apa yang membuatnya begitu halus lalu menyilakan saya untuk pergi. Apakah ia mendengar perut saya kelaparan atau melihat kantong saya yang kering!
Ahhh.....saya tak tau. Rasa-rasanya, saya ingin ditilang seribu kali lagi. Tapi bukan Polwan lain, tapi atas nama Polwan Bripka D.
Apa kalian juga mau disweeping sama Polwan cantik!

                                                                               L. Halaidin
                                                                               Kendari, 10 November 2017