Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

19 Januari 2017

Menanti Aksi ANTASARI AZHAR

Sumber: Dok. Pribadi
Koran Suluh Indonesia
KASUS yang menimpa Antasari Azhar sejak tahun 2009 sampai saat ini, masih menimbulkan tanya tanya besar di benak masyarakat luas. Siapakah otak dibalik pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen? Inilah yang terbersit didalam pikiran publik saat ini. Pasalnya, Antasari Azhar di berbagai sosial media membantah terlibat atau menjadi otak pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Dengan hal itu, Antasari berniat mengungkap kebenaran atas perkara yang membelit dirinya. Antasari mengungkapkan, “saya ikhlas menjalani hukuman, tapi saya tidak rela dengan dakwaan yang dituduhkan dan hukuman yang dijatuhkan kepada saya. Karena, saya tidak melakukan apa yang didakwakan itu. Kebenaran harus diungkap dan inilah saatnya” ujar Antasari (Koran Suluh Indonesia, edisi 19 Desember – 2 Januari 2017).

Saat ini Antasari Azhar telah bebas dari penjara. Sejak 10 November 2016 lalu, ia telah menghirup udara bebas, dengan melihat dunia yang lebih terang untuk kemudian berkiprah dalam dunia kerja. Ia belum memutuskan untuk berkiprah dimana, tapi ia bisa saja suatu waktu akan bergabung dalam partai politik. Namun, dalam waktu tiga bulan pertama Antasari mengatakan bahwa ia akan istrahat di rumahnya sebelum menentukan jalan hidup. Jalan hidupnya akan ditentukan setelah ia menunaikan ibadah umroh ke tanah suci.

Bertepatan dengan hari pahlawan, Antasari Azhar resmi menjalani pembebasan bersayaratnya. Ia menghadapi vonis hukuman penjara selama 18 tahun yang diberikan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Majelis Hakim menyatakan bahwa Antasari terbukti bersalah dengan turut melakukan pembujukan untuk membunuh Nasrudin Zulkanaen. Antasari kemudian menghabiskan waktunya didalam penjara selama 12 tahun, dengan 7 seperdua tahun dipenjara ditambah dengan remisi setiap tahun selama 4 seperdua tahun.

Dengan kebebasan yang diperolehya, kini publik menanti pernyataan Antasari Azhar, berupa aksi untuk mengungkap kebenaran, siapa aktor dibalik pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Berkali-kali didepan media ia membantah keterlibatannya dalam pembunuhan itu. Ia juga membantah terlibat cinta segitiga dengan Rani Juliani. “Saya tegaskan malam ini, tidak ada cinta segitiga, omong kosong itu semua. Dan saya tidak melakukan pembunuhan, apalagi otaknya” bantah Antasari Azhar dalam acara Mata Najwa yang ditayangkan Metro TV pada 24 Agustus lalu.

Sementara itu, Andi Syamsudin Iskandar yang merupakan adik Nasrudin Zulkarnaen, juga tidak menyakini bahwa Antasari terlibat dalam pembunuhan itu. “Ada orang besar, pejabat besar yang menjadi dalang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen” kata Andi Syamsudin dalam acara yang sama di Mata Najwa.

Bagi Antasari Azhar, kasusnya memang ada unsur kriminalisasi untuk memasukannya kedalam penjara. Ada orang-orang tertentu yang ingin memasukannya kedalam penjara, yang disinyalir terkait dengan penangkapan besan SBY, Aulia Pohan pada waktu itu. Setelah penangkapan itu, maka dibuatlah salah satu skenario dengan mengaitkannya dengan seorang wanita, cinta segitiga antara Rani Juliani, Antasari Azhar dan Nasrudin Zulkarnaen. Ketika ditemui wartawan koran Suluh Indonesia pada tanggal 9 Desember lalu, Antasari mengungkapkan bahwa “mereka menginginkan saya membusuk di penjara” kata Antasari (Koran Suluh Indonesia edisi 19 Desember – 2 Januari 2017).

Prahara besar Antasari yang kemudian membuat dirinya dipenjara, tak menurunkan semangat untuk mengungkap rekayasa perkaranya. Selama dipenjara bertahun-tahun, tak juga membuat dirinya menjadi ‘ayam sayur’ apalagi membusuk didalam penjara. Semangatnya masih berkobar, suaranya masih terdengar jelas, wajahnya masih segar, fisiknya masih terlihat sehat. Ini menandakan elan vital yang masih bergelora dalam jiwa Antasari Azhar. Publik pun seakan bertanya-tanya, akankah Antasari Azhar mengungkap adanya kriminalitas atas kasus yang menimpanya!

Ada pertanyaan yang muncul dibenak publik, ketika melihat pernyataan Antasari Azhar diberbagai sosial media. Apakah Antasari Azhar punya kebernaian mengungkap kebenaran itu? Apakah benar-benar ia akan mengungkap adanya rekayasa atas kasusnya? Memang, mengungkap kebenaran lebih mulia daripada didiamkan saja. Namun, untuk mengungkap kebenaran Antasari harus butuh keberanian. Pasalnya, yang dihadapi orang-orang besar, bukan orang-orang kecil.

Antasari pernah menyatakan bahwa ia hanya takut kepada Tuhan. Artinya ia tidak pernah takut dengan orang-orang yang telah mengkriminalisasi dan merekayasa  kasusnya. Ia pun mengatakan akan mengungkap kebenaran itu. Sebagai masyarakat yang selama ini melihat hukum masih hitam-putih, kita hanya perlu mengatakan ‘ayo’, agar kebenaran dan keadilan hukum di Indonesia dapat terlihat terang-benderang. Hal ini Tentunya sangat penting, untuk dijadikan sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang dalam hal penegakan supermasi hukum.

Di Indonesia sendiri memang banyak kasus yang belum terungkap dan bahkan dianggap misterius. Misalnya saja seperti kasus pembunuhan terhadap Munir aktivis dan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), Kasus penghilangan aktivis 98 seperti Whiji Tukul dan sebagian sahabat-sahabatnya, kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan kasus-kasus besar lainnya. Kasus-kasus ini menimbulkan tanda tanya besar bagi publik, siapa otak dibalik pembunuhan manusia-manusia yang tidak bersalah itu. Kebenaran seperti tertutupi, tidak pernah terungkap dipermukaan sampai saat ini.

Kita percaya ungkapan “Saya yakin Tuhan akan membuka pintu kebenaran” sebagaimana yang dikatakan Antasari sendiri. Namun, selama itu kita hanya diam, tidak bergerak, tidak ada aksi, tidak mau membuka lembaran lama untuk kemudian mengungkap lembaran baru, kebenaran selamanya akan tertutupi, tidak akan pernah terungkap.

Kasus yang menimpa Antasari Azhar akan menjadi tolak ukur, untuk penegakan supermasi hukum di Indonesia. Semua institusi harus melayani dengan tangan terbuka, agar di Indonesia tidak lagi berlaku hukum rimba. Hukum rimba mengatakan seperti ini, “Semua harus disingkirkan, jika ia menghalang-halangi, menganggu pemerintah yang berkuasa”. 
Maka hukum seperti ini akan berbuat sewenang-wenang, para penguasa bisa saja berdiri diatas hukum untuk kemudian memenjarakan dan menghilangkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah. Tentu, ini sama sekali tidak berlaku dan perlu dihilangkan jauh-jauh di Indonesia, karena merusak Indonesia sebagai negara hukum dan bertentangan dengan sila-sila dalam pancasila.

Bagi publik, aksi Antasari sangat dinantikan untuk kemudian dapat mengungkap kebenaran, siapa otak dibalik pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Ini reaksi masyarakat, untuk melihat bagaimana para penguasa dan penegak hukumnya bekerja selama ini dan sebelum-sebelumnya. Adilkah dia. Atau justru ia sewenang-wenang.

                                                                                  La Ode Halaidin
                                                                                  Kendari, 19 Januari 2017

18 Januari 2017

Menulis Dalam Ke'Lapar'an

Berjudul Lapar
Buku Knut Hamsun
Banyak orang sekarang menggeluti dunia menulis dalam keadaan kenyang. Mereka membaca dalam keadaan kenyang, belajar dalam keadaan kenyang, dan segala aktivitas yang dilakukan dalam keadaan kenyang. Fasilitas kenyang dan semua dilakukan dalam serba kekenyangan.

Nama-nama penulis yang terpampang di tokoh Gramedia, saya lihat juga menulis dalam keadaan kenyang. Ini menandakan bahwa mereka menikmati proses kekenyangan mereka, menulis dalam ruang ber-AC, fasiitas moderen dan tak pernah merasakan kelaparan dan kehausan.

Ini tentu bukan salah dan dipermasalahkan. Tapi, apakah karya mereka juga ikut mengenyakan pembacanya? Saya kira tidak.

Inilah yang membedakan antara penulis dalam keadaan lapar dan kenyang. Penulis dalam keadaan kenyang, tentu kita berpikir mereka dapat menghasilkan kata-kata dan bahasa yang indah dan memikat pembacanya. Tentu ini adalah anggapan yang salah. Semakin kita menikmati kenyamanan dalam keadaan kenyang, semakin bahasa kita kaku dan tak mengalir. Lihat saja sebagain karya-karya yang ada di tokoh buku saat ini.

Lain halnya menulis dalam keadaan lapar. Kita mengenal nama Knut Hamsun. Penulis yang miskin yang kemudian menulis terlonta-lonta dalam keadaan lapar. Dalam keadaan lapar ia berhasil menulis sala satu buku berjudul "Lapar". Atas karya ini, ia mendapatkan hadia nobel sastra pada tahun 1920.

“Ya Tuhan, Yang Empunya surga dan dunia, aku rela menukar satu hari hidupku untuk satu detik bahagia! Seluruh hidupku untuk sepiring kacang merah! Dengarlah padaku satu kali ini saja!” (Lapar, hal 190)

Silahkan cari dan baca bukunya.....

13 Januari 2017

Film Bright Star: Kisah Cinta Seorang Penyair dan Penjahit

04 Januari 2017

Ngomong-Ngomong TKA di SULTRA

TKA asal Tiongkok: Sumber elshinta.com

18 Desember 2016

Desaku Sayang, Desaku Malang

Balai Desa Wantiworo
Di ujung timur Sulawesi Tenggara terdapat desa-desa yang memiliki lahan pertanian yang sangat subur. Di setiap desa, saya menyaksikan betapa suburnya tanaman kebun para petani yang mereka tanam. Ada berbagai tanaman yang ditanami seperti tanaman jagung, cabai, terong dan tanaman kacang-kacangan lainnya.
Tetapi dibalik suburnya tanaman mereka, yang menjadi perhatian kita pada para petani/pekebun adalah kemiskinannya. Pagi, siang dan malam petani/pekebun merawat dan menjaga tanamannya. Namun, saat panen tiba mereka tak bisa apa-apa. Hasilnya tak seberapa, karena harga-harga tanaman yang mereka tanam hanya bernilai ribuan rupiah. Mereka juga sesekali mengurut dada saat panen tak ada hasil. Kata salah seorang petani yang mengalami gagal panen bercerita kepadaku, tahun itu, kami sangat kesusahan untuk makan dan kami juga tak bisa menghasilkan uang yang cukup.
Kebanyakan pendapatan petani hanya bersumber dari tanaman musiman itu, sehingga hasilnya tidak cukup untuk mengantarkan anak-anak mereka pada perguruan tinggi. Pendidikan anak-anak mereka terhenti ditengah jalan karena tak ada biaya. Anak-anak itu lalu memilih merantau menjadi TKI, TKW atau merantau di kota lainnya di Indonesia dan bekerja di bidang informal seperti kuli bangunan, pembantu rumah tanggga, buruh perkebunan, buruh kapal, sopir angkot dan lain sebagainya.
Nama desa ini adalah Desa Wantiworo. Jumlah kepala keluarganya berkisar sekitar 400-an kepala keluarga (KK). Mayoritas pekerjaan masyarakatnya rata-rata sebagai petani jagung dan kacang. Tanaman ini biasanya di tanam pada bulan Oktober masa panen Januari dan Maret masa panen Juni. Cara bertani mereka juga nomaden, berpinda-pindah tempat dengan membuka hutan-hutan baru, yang suda sekian tahun ditinggalkan.
Kesederhanaan dan ketertinggalan mereka sangat nampak di depan mata. Yang di pakai tak ada alat-alat yangg moderen, tak ada juga tanaman-tanaman yang berpenghasilan cukup yang di tanam. Masyarakat di sini berkebun dan bekerja hanya sekedar mencari makan, tak lebih dari itu. Kemiskinan semakin menggurita dan para orang tua menyerah dengan keadaan. Anak-anak mudanya banyak yang putus sekolah seperti daun yang berguguran di musim panas, lalu menjadi preman desa, jadi anak-anak nakal.
Dengan keadaan seperti ini, kehidupan masyarakatnya pun semakin hari, semakin sulit. Kita dapat membayangkan kemiskinan bercampur dengan pemuda-pemuda yang jadi preman, suka miras, berkelahi, merampok atau mencuri. Amburadulnya sebuah kehidupan dapat disaksikan di sini. Para pemuda preman mencuri hasil-hasil pertanian para petani dan sebagainya. Kehidupan petani semakin terhimpit dan teralienasi oleh keadaan. Petani/pekebun seperti terpenjara dalam kampungnya sendiri.
***
Banyak hal yang terjadi di sini, seperti keterbelakangan pengetahuan yang disertai dengan ego individual yang sangat kental dan tidak bisa bekerjasama. Dari kacamata saya, tak ada modal sosial yang dibangun di sini, masyarakatnya sangat individualis, jalan sendiri-sendiri. Tak ada juga rasa peduli sesama.
Yang lebih mengherankan, dibalik ketidakberdayaan pola pikir, ketidaktahuan, keterbelakangan dan ketertinggalan masyarakat, justru para elit desa semakin korup dengan memanfaatkan sumber daya desa untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Banyak masyarakat yang mendatangiku hanya sekedar bercerita bagaimana mereka dimanfaatkan elit-elit desa. Elit-elit desa itu bekerja dengan menekan dan membodohi masyarakat, mengatur berapa luas lahan masyarakat lalu diberikan ganti rugi yang tidak sesuai dengan luas lahan yang dimiliki. Elit desa menggunakan akal manipulatif, menekan demi mengeruk keuntungan pribadi dan kroni-kroninya.
Lalu, yang terjadi dengan masyarakat di sini, yang miskin kian terpuruk serta kemelaratan semakin mengungkungi dalam setiap sudut kehidupan mereka. Tak banyak perubahan yang terjadi. Bulir-bulir keringat bercucuran akibat kerja keras yang suda sekian tahun dilakukan namun tak ada hasil. Hanya kemiskinan dan keterbelakangan mental-lah yang dapat disaksikan di sini.
***
Memasuki zaman moderen atau era digital serta teknologi, informasi dan komunikasi yang sangat canggih, kehidupan masyarakat kita seharusnya suda beranjak pada kehidupan yang lebih baik, bukan sebaliknya terus jalan ditempat. Harus ada peningkatan kehidupan dari pra-sejahtera menjadi sejahtera, dari cukup menjadi berkecukupan dan dari ada menjadi berkeadaan.
Masyarakat kita seharusnya sudah dapat mengakses informasi dan komunikasi lewat teknologi, bagaimana kemudian untuk  menjadi petani yang sukses. Selain itu, pemerintah desa juga dapat memberikan pemahaman, bagaimana mengelola lahan pertanian yang efektif agar kemudian dapat menghasilkan panen yang melimpa.
Edukasi yang sifatnya mendidik dan memajukan pola pikir masyarakat tentu harus diutamakan. Tidak bisa pemerintah terus-terusan membiarkan masyarakat berjalan sendiri lalu, membuat masyarakat hidup tercerai-berai, terpisa-pisah. Petani/pekebun harus dibina, didampingi untuk kemudian dijadikan sebagai penggerak ekonomi pedesaan.
Bagaimana cara menggerakan ekonomi desa? Yang dilakukan tidak lain adalah memanfatkan Undang-Undang Desa nomor 6 tahun 2014, dengan menggunakan dana desa semaksimal mungkin untuk memajukan ekonomi masyarakat pedesaan. Bagaimana cara memanfaatkannya? Dana desa itu, dapat dipinjamkan kepada petani-petani yang kreatif, yang ingin memulai wirausaha. Namun, pertama yang perlu dilakukan di sini adalah membangun kelompok usaha tani. Dana usaha, bisa bersumber dari dana desa dengan status pinjaman. Desa juga dapat mendirikan bank desa untuk petani melalui APB-Des.
Yang diperlukan tentuya bukan saja membangun infrastruktur jalan pertanian, tetapi kelompok usaha tani pedesaan. Di sini atau mungkin semua wilayah pedesaan tidak bisa hanya bersandar pada jalan pertanian. Bagaimana mungkin ekonomi pedesaan bisa bergerak maju, jika masyarakat petani/pekebun menggunakan jalan itu hanya sekedar mencari makan. Bukan sebaliknya, dijadikan sebagai perintis jalan agar menjadi petani/pekebun yang sukses.
Seperti itulah yang terjadi dengan para petani/pekebun di sini, jalan pertanian hanya di gunakan untuk mencari makan saja. Olenya itu, Petani/pekebun di sini perlu ada upaya transformasi pemikiran, merevolusi desa dengan paradigma membangun dan menggerakan ekonomi desa. Tugas pemerintah desa hanya perlu memfasilitasi, mendampingi atau membimbing agar masyarakat dapat berkreatif dengan baik.
***
Aungan ‘kita kembali ke desa’ merupakan bentuk keprihatinan, bahwa desa kita saat ini masih terbelakang dan tertinggal, dimana masyarakatnya masih banyak yang terkungkung dalam kemiskinan. Tugas kita sebagai anak bangsa adalah ikut berkontribusi, berpatisipasi dalam menggerakan desa yang maju, desa yang makmur. Sedangkan untuk pemerintah desa perlu ada keterbukaan untuk berdiskusi dengan anak-anak muda, bukan menutup diri sebagaimana yang terjadi di sini. Jalannya bisa berbeda-beda, namun kita tetap mendahulukan kepentingan masyarakat desa kita.
Sekat-sekat dapat dibuang jauh-jauh. Kita perlu berangkulan demi menatap masa depan desa yang makmur nan jaya. Kita harus sejalan beriringan, agar desa tumbuh berkembang dengan senyum dalam keharmonisan. Jika tidak, maka desa hanya akan menjadi racun dan berkembangnya para iblis irasional. Merekalah yang akan mengeruk desa untuk kepentingan pribadi. Jika demikian yang terjadi, maka ‘desaku sayang, desaku malang’ sangat layak untuk diungkapkan.
                                                                                     Muna, 18 Desember 2016

14 November 2016

"Di Pinggir Jalan"

INI adalah Rubrik pojok harian Indonesia Raya yang diasuh oleh Mas Kluyur pada edisi 29 Desember 1973. Mas Kluyur ini adalah sebutan Mochtar Lubis, selain Don Sagundo Asemos Garamos. Saya sangat suka Rubriknya yang menyentuh. Begini..

"Di Pinggir Jalan"

Untuk wanita Indonesia yang cari peruntungan ke luar negeri:
Hujan mas dan perak, negeri orang
Hujan keris dan lembing negeri sendiri.

Untuk polisi yang suka angkutin mahasiswa dan pemuda naik truk:
Guruh bunyi bersayup-sayup
Orang di bumi semua bimbang
Jikalau ada angin bertiup
Apakah bunga mau berkembang?

Untuk mahasiswa dan pemuda yang melakukan aksi-aksi:
Hendak mandi, marilah mandi
Setimba kita berdua
Hendak mati marilah mati
Sekubur kita berdua

Kepada babe-babe yang tidak memperhatikan nasib rakyat:
Malam ini merendang jagung
Malam esok merendang jelai
Malam ini kita berkampung
Malam esok kita bercerai

Kepada cukong-cukong dan babe-babe yang kerjasama dengan mereka:
Permata jatuh di rumput
Kasih umpama embun
Datang matahari hilang

Kepada segala ratuu-ratu kecantikan:
Apa guna pasang pelita
Kalau tidak ada sumbunya
Apa guna main mata
kalau tidak ada sungguhnya

Dan kepada pembaca, sobat, kawan dan lawan:
Kalu ada jarum patah
Jangan simpan dalam peti
Kalau ada salah sepata
Jangan simpan dalam hati.

CATATAN: Rubrik ini saya kutip dari buku "Muchtar Lubis Wartawan Jihad."

Sophie dan Sebuah Negeri Raksasa



Cerita ini saya ceritakan dari sebuah film berjudul The BFG. Cerita di film ini diambil dari buku yang ditulis oleh Roald Dahl’s yang berjudul The BFG (Big Friendly Giant). Ceritanya sangat mengesankan dan menghibur. Begini ceritanya.
***
Gadis kecil itu, tinggal disebuah panti asuhan yang dianggapnya sangat tidak kompeten. Banyak aturan-aturan yang dibuat oleh pihak panti asuhan dan seringkali mereka dihukum diruang bawah tanah. Aturan-aturan ini membuatnya benci terhadap panti asuhan tersebut. Di panti asuhan itu, ia juga tak punya sahabat. Ia merasa sepi dan suatu hari, ia memimpikan sebuah dunia yang bebas, berpetualang pulang dan pergi.
Kegemaran gadis kecil itu adalah membaca, terutama buku karya Nicholas Nickleby. Ia seringkali terjaga sampai pukul 3 pagi. Hal ini dilakukannya untuk mengantisipasi agar ia tak hilang diculik setan. Waktu jam 3 pagi baginya adalah waktu dimana para Boogeyman muncul, lalu membuat orang-orang menghilang entah kemana.
Tapi, ia entah mimpi apa, penculikan itu akhirnya terjadi. Sekiat hampir pukul 4 pagi ia berhasi diculik oleh seorang raksasa,  lalu dibawa pergi di negeri yang bernama, negeri raksasa. Di negeri raksasa itu, dihuni oleh sepuluh raksasa. Ada 9 raksasa jahat pemakan manusia dan 1 raksasa baik pemakan sayur-sayuran dan buah. Gadis kecil itu cukup beruntung. Ia diculik oleh raksasa yang baik, bukan kanibal pemakan manusia.
Keseharian raksasa baik itu cukup unik. Ia menangkap mimpi-mimpi, lalu ia tiupkan ke anak-anak yang terlelap hingga menemukan mimpi indah dalam mimpi anak-anak. Dalam bukunya katanya, ia ingin memberikan mimpi gemerlap. Mimpi yang memberi si pemimpi saat-saat indah.
Ketika si gadis kecil itu berada dalam gua tempat tinggal raksasa, ia memohon agar tidak memakannya. Si raksasa baik kemudian mengatakan bahwa walaupun ia seorang raksasa, ia bukan kanibal pemakan manusia. Ia tidak pernah melakukannya. Ia menculiknya, karena khawatir akan menceritakannya ke banyak orang, banyak orang mencarinya, ditangkap, lalu menjadi tontonan seluruh dunia.
Itulah yang menjadi kekhawatirannya, dan kemudian dibawanya gadis kecil itu di negeri raksasa. Ia tidak akan memakannya, tapi hanya menyembunyikannya. Sementara itu, 9 raksasa lainnya, pembunuh, kanibal pemakan manusia. Sembilan raksasa itu, katanya akan menelannya jika kedapatan suatu waktu.
Nama gadis kecil adalah Sophie. Sophie bukanla gadis kecil yang penakut. Ia seorang anak pemberani dan tak kenal rasa takut, termasuk melawan 9 raksasa-raksasa kanibal itu. Saat Sophie dengan raksasa baik itu hendak pergi menangkap mimpi-mimpi di sebuah puncak, mereka terhalang oleh 9 raksasa yang kejam. Raksasa baik itu kemudian ditangkap dan dipermainkan seperti pingpong, dilempar kemudian ditangkap dan dilempar lagi oleh raksasa yang lainnya. Saat raksasa baik itu handak dibuang pada raksasa yang lainnya, Sophie bertemu muka dan membisikin agar raksasa baik melakukan sesuatu. Dan yang terjadi, mereka tak bisa melakukan apa-apa, pasrah dan hanya menunggu turunnya hujan. Saat hujan turun, raksasa baik pun dilepas, karena 9 raksasa kanibal sangat takut dikena dengan air.
Dalam perjalanan menuju sebuah puncak, Sophie mengatakan pada si raksasa baik bahwa seharusnya ia tidak diperlakukan seperti itu. Sophie menganjurkan bahwa si raksasa baik harus melawan terhadap raksasa-raksasa jahat itu. Namun, si raksasa baik tidak bisa melakukannya. Ia hidup dan dikelilingi oleh 9 raksasa jahat pemakan manusia. Katanya, 9 raksasa itu mengambil kehidupan mereka dari manusia dan ia mengembalikan kembali, berupa mimpi-mimpi indah itu. Itulah yang dilakukan oleh si raksasa baik selama ini, menangkap mimpi-mimpi.
***
Di puncak itu, si raksasa baik diberinya nama sebuah negeri mimpi. Ada sebuha pohon besar yang dibawanya air mengalir ke tempat yang paling rendah. Di pohon itu, terdapat berbagai macam mimpi, ada mimpi baik dan juga buruk.
Si raksasa baik kemudian bercerita bahwa di negeri mimpi ia mendengar apa saja; suara musik dari bintang-bintang di langit, semut kecil yang berbicara satu sama lain, para ulat bulu yang berbicara sepanjang waktu  tentang siapa yang akan jadi kupu-kupu paling cantik dan lain sebagainya. Bahkan, ia juga suda mendengar segala hal yang baik dan buruk di negeri mimpi, semua bisikan-bisikan dari dunia, katanya.
Raksasa baik itu bernama BFG. Nama itu diberikan oleh Sophie setelah mereka pulang menangkap mimpi-mimpi dari negeri mimpi. Saat itu mereka berteman, dan masuk ke kota untuk memberikan mimpi-mimpi baik pada anak-anak. Namun setelah hendak ke negeri raksasa, Sophie mendengar ratapan seorang anak. Begitupun BFG, ia juga mendengar seseorang yang menangisi orang yang dia sayangi.
Sophie kemudian melihat 9 raksasa itu dan mengatakan, monster, kita harus menghentikan mereka. Kau tidak bisa seperti ini BFG, kata Sophie. Lagi-lagi mereka tak bisa melakukan apa-apa. Dan semua itu terjadi karena selimut yang dipakai Sophie berada ditangan 9 raksasa kanibal itu.
***
Sejak itu, BFG kemudian mengembalikan Sophie di panti asuhan. Ia tidak mau terulang ke dua kali dengan kejadian yang sama, saat ia menculik seorang anak laki-laki. Konon, kata BFG, anak laki-laki itu meninggal di makan oleh 9 raksasa kanibal. Ia tidak bisa melindunginya. Maka, disaat 9 raksasa itu mengetahui bahwa BFG punya teman manusia Sophie, ia mengembalikannya agar tidak terjadi hal yang sama. Ia trauma, karena tak bisa menjaga anak laki-laki itu.
Apa yang terjadi dengan Sophie? Ia tetap ingin di negeri raksasa. Bersama BFG ia ingin menghentikan para raksasa kanibal itu. Namun, BFG tetap saja menolak. Sophie menanyakan, apakah anak laki-laki itu merasa takut? BFG mengatakan, ia, pada akhirnya ia takut. Mendengar itu, lalu Sophie mengatakan bahwa ia tidak takut dengan raksasa itu. Tetapi, tetap saja BFG tidak membawanya ke negeri raksasa itu lagi.
Sophie kecewa dengan BFG dan masuk ke dalam panti asuhan. Ia teringat dengan ucapan BFG bahwa BFG dapat mendengar suara apapun. Sophie kemudian mencoba berkata-kata dengan bsikian kepada BFG. Tidak lama kemudian BFG muncul, lalu membawa Sophie ke negeri raksasa.
Di negeri raksasa itu, Sophie dan BFG mencoba menyusun rencana untuk menghentikan 9 raksasa kanibal. Belum sempat ide melintas dipikiran, 9 raksasa itu datang mencari Sophie untuk menjadi santapannya. Sophie berusaha disembunyikan oleh BFG. Saat Sophie menemukan tempat yang aman, ia mendapatkan foto Ratu Inggris. Di sinilah ia mendapatkkan ide untuk mengentikan 9 raksasa itu, melaporkannya ke Ratu Inggris.
Sophie dan BFG kemudian berusaha memberikan mimpi buruk kepada Ratu Inggris. Ratu Inggris akan bermimpi bahwa 9 raksasa itu berada di Inggris dan mereka memakan anak-anak kecil. Dan menjelang pagi, Ratu Inggris bermimpi bahwa 9 raksasa itu berada di Inggris dan menculik anak-anak kecil. Ratu Inggris kemudian terbangun dan melihat Sophie berada di jendela. Ratu berkata bahwa apa yang dialami sama seperti mimpinya. Lalu, Sophie mengatakan bahwa yang membuat mimpi itu temannya BFG. Ratu Inggris pun menanyakan maksud kedatangan Sophie dan BFG.

Kenapa kau dan raksasamu datanag menemuiku, kata Ratu Inggrsi. Kurasa anda bisa mengingat alasannya, yang mulia, jawab Sophie. Ratu pun mengingatnya bahwa kedatangan mereka membutuhkan bantuan. Ia benar, kata Sophie dan sekarang saya akan memanggil teman saya BFG. Saat Sophie memanggil, BFG tak kunjung muncul. Sophie pun berteriak agar BFG memberanikan diri. BFG muncul dan memberikan penghormatan kepada Ratu Inggris “Yang Mulia, saya adalah pelayan anda yang rendah hati”. Ratu pun menerimanya.


Saat itu BFG pun menjadi pelayan Ratu Inggris, lalu bekerja sama untuk menangkap 9 raksasa kanibal. Bersama dengan pasukan Ratu Inggris, Sophie dan BFG pergi ke negeri raksasa. Pasukan Ratu Inggris pun berhasil menangkap 9 raksasa kanibal, lalu diangkutnya untuk diasingkan di sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Di pengasingan itu, 9 raksasa berusaha diberi makan dan benih buah snozzcumber, buah yang tidak mereka sukai. Walaupun 9 raksasa itu tidak menyukai buah snozzcumber, mereka harus terbiasa memakannya.
Terasingnya 9 raksasa kanibal, merupakan kemenangan atas Sophie dan BFG. Tetapi Sophie dan BFG harus terpisah. Sophie tinggal dengan Ratu Inggris dan BFG tetap di negeri raksasa yang sekarang penuh dengan kedamaian dan berbagai macam tanaman dan sayur-sayuran. Keduanya hidup bahagia, Sophie tidak lagi tinggal disebuah panti asuhan, sementara BFG tidak lagi memakan buah snozzcumber yang busuk.
Perpisahan mereka, bukan berarti tidak bisa lagi saling menyapa. BFG tetap mendengar bisikan rahasia dari dunia. Saat Sophie menyapa, good morning, BFG? BFG pun mendengarnya, lalu ia tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Saya kutip sedikit kata-kata dalam buku Roald Dahl, The BFG (Big Friendly Giant). Katanya, “mimpi tidak membutuhkan apa-apa. Jika itu mimpi indah, mimpi itu akan menunggu dengan tenang, selamanya hingga dilepaskan dan diizinkan melakukan tugas. Jika itu mimpi buruk, mimpi itu akan berusaha keras keluar”.
Hmmm….nama Sophie dalam film The BFG ini mengingatkan saya pada buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder saja. Sama-sama berfilsafat. Sangat mengesankan dan menghibur.

                                                                                    Kendari, 14 November 2016

                                                                                    Laode Halaidin