Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

02 Oktober 2021

SULTRA, Rawan dalam Pusaran Korupsi

 

Ilustrasi Foto: (Edi Wahyono/Deticom)

Informasinya menyebar sangat cepat. Seorang kawan, jurnalis lokal di Kendari mengabarkan, kepala daerah perempuan pertama yang menjabat sebagai Bupati di Sultra itu terjerat kasus korupsi. Jabatannya tergolong singkat. Dia hanya menjabat selama tiga bulan setelah menggantikan Bupati sebelumnya Samsul Bahri karena meninggal dunia. Bupati Koltim itu, ikut terlibat dalam korupsi dana hibah BNPB berupa dana rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) serta dana siap pakai (DSP).

Dia adalah Andi Merya Nur, seorang politisi yang mempunyai karir cukup cemerlang. Di usia 25 tahun, dia sudah menjadi anggota DPRD saat terpilih pada pemilu 2009 lalu. Pada Pemilu 2014, dia terpilih kembali sebagai anggota DPRD. Setahun menjabat, dia mengundurkan diri karena ikut mendampingi Toni Herbiansah sebagai Wakil Bupati. Andi Merya berhasil memenangi kontestasi Pilkada di Kolaka Timur itu.

Dari legislatif daerah terpilih dua kali, dia beralih dengan mulus ke eksekutif. Andi Merya, dua kali terpilih sebagai Wakil Bupati dengan pasangan yang berbeda. Pada pemilihan Bupati tahun 2020, dia mendampingi Samsul Bahri dan berhasil menyabet kursi Wakil Bupati. Belum sebulan dilantik, pasangannya, Samsul Bahri meninggal dunia.

Pada 14 Juni 2021 dengan usia yang masih 37 tahun, Andi Merya melanggeng sebagai Bupati. Kewenangannya tentu makin luas. Dia adalah pengambil kebijakan tertinggi di daerahnya. Dia juga harus mengusulkan dan mengontrol proyek-proyek di wilayahnya. Pada posisi itu, dia terjerumus dan tersandung masalah yang harus berhadapan dengan lembaga anti rasuah. Barang bukti yang hanya 25 juta rupiah, membuatnya terjungkal. Karirnya yang cukup cemerlang itu, kini runtuh dengan seketika.

Kasus-kasus korupsi di Sultra yang melibatkan kepala daerah sebelum Andi Merya, tentu sudah banyak terjadi. Ada nama mantan Gubernur Nur Alam dan Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun. Namun kasus korupsi yang menghebohkan publik adalah tertangkapnya Wali Kota Kendari, Adriatma Dwi Putra bersama ayahnya, Asrun, pada tahun 2018. Mereka dicokok KPK karena keterlibatannya dalam korupsi fee proyek infrastruktur di Kota Kendari.

Adriatma Dwi Putra merupakan produk dinasti politik dari ayahnya, Asrun yang menjabat Wali Kota Kendari selama dua periode. Dia adalah putra mahkota yang digadang-gadang akan meneruskan kekuasaan ayahnya. Pada saat itu, setelah Asrun meninggalkan tampuk kekuasaannya sebagai Wali Kota, dia berusaha melebarkan kekuasaan untuk berebut kursi empuk Gubernur. Sementara untuk Wali Kota, dia mencalonkan anaknya dan terpilih.

Yang menarik, anaknya Adriatma Dwi Putra merupakan Wali Kota termuda yang menjabat sangat singkat, selama lima bulan. Dia menjabat sejak 9 Oktober 2017 sampai dengan 28 Februari 2018. Kasus korupsi yang menimpahnya berupa fee proyek infrastruktur ditengarai akan digunakan sebagai uang kampanye ayahnya, yang pada saat itu sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur. Meski ayahnya sudah tersangka, langkahnya tidak terhenti. Asrun tetap berkompetisi dengan Cagub lain, meski kalah karena kasus korupsi yang melibatkannya.

Hanya berselang beberapa bulan, Bupati Buton Selatan, Agus Feisal Hidayat juga dicokok KPK. Dia terlibat kasus penerimaan hadiah dan janji dalam pengerjaan proyek di Buton Selatan. Dalam kasus ini, KPK menyita barang bukti uang senilai 409 juta rupiah.

Sama dengan Adriatma, jalan politik Agus Feisal Hidayat juga bersinggungan dengan kekuasaan. Ayahnya, Sjafei Kahar, pernah menjabat sebagai Bupati Buton selama dua periode. Selama ayahnya menjabat, Agus Feisal sangat melekat dengan kekuasaan. Karirnya berjalan mulus. Posisinya saat itu dimulai dari kepala seksi hingga menjadi staf ahli Bupati Buton.

Perjalanan Agus Feisal untuk merengkuh kekuasaan memang sangat panjang. Agus Feisal, dua kali gagal sebagai Wakil Wali Kota Baubau, pada tahun 2008 dan 2012. Setahun sebelumnya, 2011, dia juga gagal dalam memperebutkan kursi kekuasaan dalam Pilkada Buton. Meski awalnya keluar sebagai pemenang, wangi kemenangan itu hanya dihirup sesaat saja. Kemenangannya dianulir oleh Mahkama Konstitusi. Dari sinilah awal terjungkalnya Umar Samiun dari kursinya sebagai Bupati Buton pada tahun 2017. Umar Samiun ditahan KPK terkait kasus suap pada ketua MK, Akil Mochtar yang menangani Pilkada Buton di tahun 2011.

Ungkapan, kegagalan adalah kemenangan yang tertunda ternyata sangat berlaku untuk Agus Feisal. Dengan bekal pengalamannya, dia kemudian mengikuti kontestasi Pilkada Buton Selatan pada tahun 2017. Tiga kali menelan pil pahit dalam panggung politik, dia kemudian mendapatkan momentum kemenangannya. Mahkota itu berhasil dia rebut. Perjuangannya berbuah dengan kemenangan manis.

Namun siapa sangka mahkota itu hanya sekadar singgah dan berubah pil pahit kemudian. Hanya setahun menjabat, dia terjerembab dalam godaan kekuasaan. Kursi empuk yang hendak didudukinya selama lima tahun, berubah menjadi ruang pengap dan gelap dalam sel tahanan.

**

Riwayat panggung politik kita memang pada kenyataannya, banyak para elit yang berkuasa selalu menempatkan atau mendorong keluarganya pada posisi penting. Pertalian itu bukan tak mungkin berbahaya. Ketika penguasa wilayah hanya datang pada segelintir keluarga, maka kekuasaan itu menjadi tak terkontrol atau kekuasaannya tak memiliki batasan. Muaranya adalah korupsi. Ia mesti melayani kepentingan banyak pihak.

Di Muna, juga dihadapkan dengan dinasti politik Ridwan Bae yang saat ini tercatat sebagai anggota DPR RI. Sebelumnya, dia pernah menjabat sebagai Bupati Muna dua periode. Anaknya Iksan Taufik, meski kalah pada Pilkada Muna Barat, digadang-gadang akan meneruskan tahta politik ayahnya. Putrinya, Wa ode Rabia Al Adawia telah berhasil merebut kursi DPD. Ponakannya, Rusman Emba, tengah menikmati jabatan sebagai Bupati Muna di periode keduanya.

Sementara di Konawe, ada nama Kery Saiful Konggoasa. Dia sedang menjabat sebagai Bupati Konawe untuk periode kedua. Dari beberapa informasi yang beredar, dia tengah menyiapkan diri untuk berebut kursi Gubernur. Anaknya, Fachri Konggoasa sedang menjabat sebagai anggota DPR RI.

Lalu, akankah korupsi di Sultra dapat berakhir, mengingat bayang-bayang para elit tengah membentuk dinasti politik!? Di tengah nikmatnya kekuasaan, godaan datang silih berganti dan menggiurkan. Ibarat dinding, ada yang cepat keropos lalu runtuh, ada juga yang lama bertahan dan tetap tegak berdiri. Semuanya hanya menunggu waktu.

Godaan Dalam Kekuasaan

Pepatah yang mengatakan, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya agaknya sangat berlaku untuk para penguasa. Pada hakikatnya kekuasaan adalah godaan. Saat seseorang mendapat kekuasaan, maka godaan yang datang mengerubunginya akan sangat besar. Ibarat gula, kekuasaan dapat mengundang banyak semut. Pada posisi itu, penguasa diberi ujian, apakah bisa menjadi pemimpin sejati atau hanya sekadar imitasi.

Kutipan salah satu presiden legendaris Amerika Serikat, Abraham Lincoln, mungkin sangat tepat dikemukakan disini bahwa “semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.”

Kenikmatan dalam kekuasaan memang mendatangkan banyak efek. Ia bisa berakhir baik, tapi bisa juga berakhir buruk. Ia dapat berbuah manis tapi kadangkala bisa juga berbuah pahit. Berakhir baik, ketika kekuasaan dijalankan sebagai tanggungjawab sosial. Ia lebih mementingkan kepentingan publik dari pada kepentingan kelompok. Ia lebih memahami dirinya, bahwa ia adalah pelayan rakyat bukan golongan. Dan pada titik ini, muaranya dapat berbuah manis. Penguasa bisa menjadi seseorang yang berkarisma, dielu-elukan hingga dipuji oleh banyak orang.

Namun, kekuasaan bisa membuat seseorang terlena, dan ingin berkuasa lebih lama. Ada godaan fasilitas dan berbagai kemudahan yang didapat. Dengan kekuasaan, mereka tergoda untuk terus melanggengkan kekuasaannya. Untuk menjaga eksistensi kekuasaan itu, biasanya mereka menempatkan atau mendorong keluarga baik istri, anak, paman, dan ponakan untuk masuk dalam suatu jabatan politik. Tujuannya, untuk mempertahankan supremasi keluarga dalam lingkaran kekuasaan.

Praktik-praktik ini yang diterapkan di Sultra, dengan membentuk dinasti politik pada kenyataannya memang berakhir buruk. Kekuasaan dinasti politik dihadapkan dengan banyaknya godaan konflik kepentingan. Muaranya mengarah pada penyelewengan kekuasaan itu sendiri. Moralitas kekuasaan yang tidak terlepas dengan tanggungjawab sosial dengan cepat disingkirkan. Di kepala mereka, kekuasaan bukan lagi bagaimana meningkatkan kebijakan publik, menjadi pelayan dengan mensejahterakan rakyat, tetapi mengamankan kepentingan sembari membuka karpet merah untuk melayani kelompoknya.

Dengan begitu, nalar publik seolah dijauhi. Kekuasaan bekerja serupa obat bius. Kepekaan terhadap kondisi sosial dimasyarakat tenggelam karena lebih mementingkan kepentingan pribadi. Ketika kekuasaan membuat penguasa rabun jauh dan lebih memilih bermain atau menyerempet dengan yang lebih dekat, maka rompi oranye menyambut.

Kata Lord Acton “Kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan mutlak merusak secara mutlak.”

22 September 2021

DARI PASARWAJO, RONGI, LAPANDEWA LALU KE BUGI

Gadis Kampung Bugi

Perjalanan yang melelahkan, pikirku. Bersama kawan saya, Nirwan, kami berangkat dari Baubau ke Pasarwajo pukul 14.00.

Di perjalanan, kami dihadang dengan hujan rintik kemudian berubah menjadi hujan deras. Kami berteduh dipondok-pondok, dibagian kawasan hutan konservasi Lambusango. Selama menuju Pasarwajo, kami berteduh sebanyak tiga kali. Langit terus memuntahkan air hingga malam. Kami pun memaksakan perjalanan dengan kondisi hujan dan basah kuyup.

Dua hari di Pasarwajo, kawan saya bersedia membawa saya untuk jalan-jalan, mengunjungi benteng Lipuogena Takimpo. Dari tempat menginapku, perjalanannya hanya memakan waktu 20 menit. Posisi bentengnya berada di atas perkampungan warga.

Menurut beberapa cerita, benteng ini merupakan salah satu benteng pertahanan kesultanan Buton. Ketika saya memasuki gerbang banteng, itu sudah terlihat galampa (tempat adat), masjid dan lima buah pintu kecil yang biasa warga setempat menyebutnya Lawa. Pintu kecil (Lawa) ini punya nama sendiri-sendiri seperti Lawa Naemata, Lawa Sampu, Lawa Nawakeke, Lawa Kolowundanga, dan Lawa Pibuni. Nama-nama pintu kecil ini, mungkin punya arti sendiri-sendiri. Ada banyak hal sebenarnya yang ingin saya ketahui tentang banteng ini. Sayang, saya tak bisa menemukan banyak cerita disini.

Dari Pasarwajo, esoknya bersama kawan saya mencoba menuju Rongi atau desa Sandang Pangan, Buton Selatan. Rongi ini merupakan kampung yang pernah saya kunjungi tahun 2015, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di sini saya bertemu kawan saya, seorang guru yang sudah lama mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak-anak Rongi.

Di depan muka saya, saya melihat kampung Rongi sudah nampak berbeda. Semua terlihat indah dan memesona. Pemandangannya memanjakan mata. Bukit Lamando masih berdiri kokoh dengan wajah yang nampak sangat indah dan asri. Tak ada bangunan-bangunan vila para pejabat. Saya begitu tak percaya ketika kawan saya, Pak Ikhsan mengatakan bahwa Rongi terkenal ketika kami KKN. Pada hal sebagai Koordinator Desa KKN, saya tak banyak melakukan apa-apa. Kegiatan saya di Rongi, salah satunya hanya bercengkrama dengan warga sambil menanyakan apakah punya anak gadis yang masih jomblo atau tidak. Hehe.

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan di Lapandewa, sebuah kampung yang berada diperbukitan. Di bawah bukit terdapat desa Tira dan Bahari. Kami melewati pendakian Warope untuk sampai di Lapandewa. Dengan hawa yang begitu dingin dan sudah malam, kawan saya menunjukan sebuah lokasi kebun bawang merah yang sangat luas, yang warga kampungnya disebut lokasi kebun Wanculepani. Lapandewa memang sangat terkenal dengan penghasil bawang merah. Di kampung ini, saya juga tak banyak menemukan cerita karena sudah larut malam.

Kami lalu berbalik arah untuk menuju Baubau. Di perjalanan, tepatnya di desa Bugi, terdapat banyak warga yang lalu lalang untuk menuju pesta kampung. Kawan saya lalu mengajak untuk istrahat sejenak sambil menyaksikan pesta kampung. Di galampa (tempat adat) saya begitu terkesima ketika menyaksikan para gadis-gadis, anak-anak, dan para pemuda ikut memeriahkan pesta kampung. Laki-laki dan perempuan baik gadis-gadisnya, para pemuda, anak-anak, dan orang tua ikut menari dalam pertunjukan itu. Mereka menari dengan sangat indah dihadapan para tokoh adat.

Di tengah kerumunan, saya mencoba mencari tahu tentang desa Bugi di google. Di layar Hp, ulasan tentang desa Bugi mengagetkan saya. Di artikel Kompas tertulis “Wah, Ada Kampung Korea di Kota Baubau”, membuat saya penasaran. Saya membaca dengan pelan dan menemukan bahwa Bugi itu disebut sebagai kampung Korea. Bahasanya, cia-cia Laporo, mempunyai sedikit persamaan dengan aksara Hangeul atau bahasa Korea. Menariknya, penulisan aksara Hangeul masuk dalam kurikulum mata pelajaran sekolah.

Saat saya lagi serius membaca informasi tentang Bugi, tiba-tiba kawan saya membuyarkan konsentrasiku. “Jejeran penari yang paling awal itu cantik sekali”, katanya. Saya lalu membangunkan kepala, mataku mencari-mencari wanita cantik itu. Pikirku, mungkin dia agak mirip dengan wajah artis korea, Son Ye Jin. Hehe.

Saat mereka keluar, kawan saya memintanya untuk berfoto. “Bisa kami berfoto dengannya”, kata kawan saya kepada lelaki muda itu. Lelaki itu mengiyakan, boleh berfoto tapi harus di temani laki-laki lainnya. Duh, pada hal saya hanya ingin berfoto dengan gadis-gadis cantik itu, meminta kontaknya dan mau belajar bahasa korea. Entah apa yang ada dipikiran lelaki itu saya tak tau. Atau jangan-jangan dia tahu saya masih jomblo.

                                                                                    Baubau, 23 September 2021

08 April 2020

Bertahan Hidup atau Takut Corona?

Kamis sore yang lalu, saya memberanikan diri untuk keluar menyusuri kota Kendari, setelah selama 14 hari mengisolasi diri. Sepanjang jalan, saya memperhatikan jejeran para pedagang kaki lima, Toko dan Pasar Sentral Tradisional. Beberapa tetap aktif dengan berjualan, tapi tak sedikit juga memilih untuk tutup. Tak Cuma itu, sepanjang jalan para driver ojek online berkurang, tak banyak yang lalu-lalang.
Saya tidak terkejut dengan pemandangan ini. Sejak pemerintah pusat mengumumkan dua pasien positif Covid-19, lalu lintas perdagangan kota Kendari masih berjalan normal. Pedagang kaki lima masih memenuhi lapaknya. Toko-toko dan mall masih buka. Masyarakat masih beraktivitas seperti biasa. Kekhawatiran yang kemudian memunculkan keresahan di tengah masyarakat, saat 49 TKA asal Tiongkok memasuki Bandara Halu Oleo Kendari. Empat hari setelah itu, tanggal 19 Maret, juru bicara gugus tugas Covid-19 Sultra mengumumkan sebanyak tiga orang positif Covid-19.
Masuknya TKA asal Tiongkok dan pengumuman tiga positif Covid-19, membuat ketegangan masyarakat Sultra terutama kota Kendari dan Konawe. Tentu masyarakat di daerah kepulauan seperti Muna dan Buton, juga mengalami kepanikan. Banyak warga Muna dan Buton baik yang bekerja maupun kuliah di dua daerah tersebut. Tanggapan netizen di media sosial dan grup-grup whatsapp lebih tegang lagi, penuh kemarahan dan menyayangkan pemerintah menerima serta memberi izin atas masuknya para TKA. Ditambah lagi kasus-kasus ODP, PDP yang terus bermunculan. Situasi itu kemudian mencekam berubah menjadi sebuah ketakutan.
Saya cukup memahami mengapa terjadi segenting itu. Dugaan saya, karena ancaman wabah sudah benar-benar tampak di depan mata. Semua merasakan ancaman bahaya. Ketika informasi di hari pertama meledak, warga di penuhi dengan kecemasan. Belum lagi, tidak adanya peta penyebaran wabah Covid-19. Kesimpangsiuran informasi penyebaran wabah, membuat warga dilingkupi dengan rasa takut yang luar biasa. Sebagian pemilik warung, pedagang kaki lima dan toko pun memilih untuk tutup. Begitu juga dengan para driver ojek online memilih untuk tidak aktif.
Rasa takut ini tentu sangat wajar, ketika manusia dihadapkan dengan ancaman bahaya. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar manusia. Ia adalah insting alamia manusia yang timbul pada diri seseorang karena kecenderungan untuk membela atau mempertahankan diri. Dalam bahasa Tony Whitehad, rasa takut adalah sesuatu yang sangat kompleks, didalamnya terdapat suatu perasaan emosional dan sejumlah perasaan jasmaniah. Maka, ketika wabah Covid-19 meledak, manusia dihadapkan dengan perasaan emosional, antara menghindarkan diri tetap berdiam dirumah atau memilih bertahan hidup dan tetap bekerja di luar.
Dalam menghadapi kenyataan itu, manusia tentu saja berusaha menelaah apa yang menjadi masalah pada lingkungan dan dirinya sendiri. Tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau membiarkan rasa takut dengan berdiam dirumah sembari menyaksikan keluarga menahan lapar. Atas dua tekanan itu, manusia mencoba beradaptasi untuk mencari menyelesaikan masalah dalam dirinya dan juga lingkungannya.
Seperti halnya ketika saya mencoba bercerita dengan beberapa pekerja informal di Kota Kendari. Para pedagang dihantui dengan ketakutan. Juga sama dengan driver ojek online dan tukang becak. Ada rasa was-was terhadap wabah Covid-19. Mereka tidak berjualan, menarik becak dan mengambil penumpang. Mereka memilih berdiam dirumah, mengikuti himbauan pemerintah sembari mengikuti perkembangan informasi tentang persebaran wabah.
Namun, mereka tak bisa terus-menerus hidup dalam ketakutan. Setelah selama sepekan berdiam dirumah, aktivitas mereka kembali normal seperti biasanya. Salah satu pedagang mengatakan bahwa dia tak bisa lama-lama berdiam dirumah. Dia ketakutan, tapi juga sedih melihat kondisi keluarganya. Ada kebutuhan rumah tanggah yang harus dipenuhi. Meskipun dengan resiko sepi pembeli, pedagang itu tetap memilih berjualan.
“Saya takut dengan wabah ini. Tapi, sampai kapan kita hidup dalam ketakutan, sementara anak-anak butuh makan dirumah. Di luar saya takut Corona, dirumah anak-anak saya harus makan. Jadi, saya beranikan diri mencari rezeki, meskipun memang calon pembelinya sangat berkurang” katanya kepada saya.
Seorang pedagang pakayan juga mengatakan hal yang sama. Dia khawatir dengan wabah ini, takut, namun tak punya pilihan lain. Jika menutup semua tokonya, dengan memilih tidak berjualan, maka sasarannya delapan karyawannya akan ikut di PHK. Dia sedih karena yang dipikirkan bukan saja ekonomi keluarganya, namun nasib beberapa karyawan tokonya.
“Kalau takut, tentu kami takut,” katanya. Ketidakpastian penanganan wabah ikut mempengaruhi kondisi kegiatan usahanya. Berkurangnya calon pembeli membuat omsetnya turun sangat drastis. Sebelum wabah Covid-19, transaksinya bisa melebihi sebanyak tiga puluh kali transaksi. Namun saat ini, lima kali transaksi saja menurutnya sudah terasa banyak. Dengan kondisi seperti itu, pilihannya hanya memberhentikan lima karyawannya.
 “Ketidakjelasan penanganan wabah ini yang membuat saya khawatir. Sampai kapan? Pembeli dan penjual sama-sama takut. Pembeli datang hanya untuk belanja kebutuhan pokok. Omset saya sudah mulai turun drastis. Sedih, iya. Dengan keadaan terpaksa, saya tidak lagi mempekerjakan lima karyawanku. Saya sudah tidak mampu lagi memberi gaji buat mereka.” katanya kepada saya.
Ketakutan akan bahaya memang bisa dialami oleh siapa pun. Manusia normal pasti merasakan rasa takut. Ada berbagai macam ketakutan yang menghantui dalam diri kita sendiri. Takut gagal, takut kecelakaan, takut kehilangan dan berbagai macam ketakutan lainnya. Namun lambat laun, kita selalu bisa beradaptasi dengan ketakutan itu.
Seorang driver ojek online takut keluar rumah mengambil penumpang karena tidak ingin terinfeksi wabah Covid-19. Jika dia terinfeski dan sakit atau bahkan dengan resiko meninggal, lalu siapa yang membiayai kehidupan mereka. Di sisi yang lain, ada keluarga, anak dan istri yang harus dihidupinya. Dalam keadaan tertekan, ketakutan dan juga kesedihan, dia harus memilih satu diantara dua pilihan; takut Corona atau tetap jalan demi sesuap nasi. Karena ada naluri untuk terus melanjutkan kehidupan, maka dia memilih untuk tetap jalan.
Setahun yang lalu saya juga merasakan takut, saat orang tua menderita sakit yang dialaminya. Takut jangan sampai Bapak pergi lebih cepat meninggalkan kami. Yang kami lakukan saat itu, berusaha mengobati penyakit Bapak dengan membawanya di berbagai Rumah sakit. Saat sang pemilik kehidupan berkehandak lain dengan memanggilnya, kami sangat terpukul. Sangat sedih. Kehilangan dalam hal apapun adalah hal yang paling meyakitkan. Namun, kami mencoba beradaptasi dengan kesedihan itu, mengikhlaskan kepergian Bapak pada sang Illahi. Mungkin, itulah yang terbaik buat Bapak.
Setiap manusia selalu beradaptasi untuk melawan rasa takut dan kesedihan. Saya, pedagang dan driver ojek online sama-sama mengalami ketakutan dan kesedihan. Tapi, larut dalam kesedihan dan mempertahankan ketakutan dalam diri sangat tidak baik. Hidup saya akan berefek buruk, jika saya terus larut dalam kesedihan. Saya mencoba melupakan semuanya, dengan mengikhlaskannya. Pedagang dan driver ojek online akan berdampak buruk pada ekonomi keluarganya, jika melarutkan diri dalam ketakutan. Maka pilihannya, tetap mencari uang demi bertahan hidup.
Demikianlah, hidup manusia selalu diperhadapkan dengan masalah yang sangat kompleks. Corona memang menakutkan. Per Selasa 7 April, jumlah terinfeksi virus Corona di seluruh dunia sebanyak 1,34 juta kasus. Yang meninggal pun sudah cukup banyak sekitar 74.565 orang.
Tapi, bagi para pekerja informal seperti driver Ojol dan pedagang kaki lima jika berdiam lama dirumah, itu lebih mengerikan lagi. Kelaparan menghantui mereka. Tak ada pilihan lain, kematian karena virus Corona atau mati karena kelaparan. Demi alasan bertahan hidup, mereka memilih tetap jalan dan berjualan.

26 Januari 2020

Vandalisme di Kota Raha

Vandalisme di Raha
Tentu saya merasa kaget, saat kawan-kawan memosting prilaku vandalisme ini. Betapa tidak, lima bulan lalu saat saya pulang tulisannya masih lengkap. Kini, hanya menyisahkan beberapa huruf saja.
.
Saya masih teringat bagaimana suasana di bulan Agustus lalu saat saya pulang. Wajah kota Raha ada sedikit perubahan. Di depan pelabuhan Raha, kita dapat menemukan ada banyak warga yang menikmati suasana pagi, memandangi laut yang cukup indah. Ada yang olahraga, ada juga yang menyempatkan diri untuk selfie-selfie. Ketika saya pulang dengan kapal malam, saya pasti menghabiskan waktu sekitar 15 menit disini. Ya, sekadar memotret suasana sekitar.
Sebelum terjadi vandalisme
Tak lupa pula, saya terus mengomentari adanya sampah-sampah yang membangkai. Bagi saya, pemerintah daerah tak bisa hanya fokus membuat fasilitas publik, lalu mengabaikan sampah-sampah yang berserakan di laut. Ke duanya harusnya beriringan.
Namun perlahan-lahan terus dibenahi. Ada kebanggaan juga tentunya. Dua minggu yang lalu saat balik di Kendari, saya melihat tersedianya fasilitas untuk menampung sampah di depan Mesjid Al-Munajat. Ada tong sampah yang disediakan. Dari tulisan yang saya perhatikan, tong sampah itu disediakan oleh komunitas alumni SMA Raha. Hal positif seperti ini, harusnya terus digalakkan. Tak lupa pula, perlu ada kesadaran dari warga untuk mencintai lingkungannya.
.
Setelah ke Mesjid Al-Munajat, saya kemudian menyusuri tempat lainnya. Tulisan “I Love Wuna” yang dulu masih lengkap, tinggal menyisahkan “Wuna.” Dua minggu kemudian, huruf-huruf itu mulai hilang satu persatu.
Prilaku vandalisme seperti ini tentu sangat tidak terpuji. Bagaimana tidak, fasilitas publik yang harusnya dijaga, kemudian di rusak. Saya susah mencernah dengan akal, apa yang membuat pelaku vandalis melakukan ini. Tak bisakah menjaga fasilitas publik seperti ini, untuk dinikmati bersama. Entah apa yang merasukinya, saya juga tak pernah tau.
Jika membaca beberapa refrensi tentang vandalis, kita bisa menemukan bahwa vandalis ini bagian dari gejala yang mengalami gangguan prilaku atau biasa disebut dengan conduct disorder. Gangguan prilaku ini terkait dengan emosi atau tingkah laku yang dialami oleh kebanyakan remaja. Di kampung halaman, saya banyak menemukan remaja-remaja seperti ini. Bahasa gampangnya itu kenakalan remaja.
Tapi siapa yang tau, pelaku vandalisme di Raha seorang remaja atau bukan. Kita tak pernah tau. Semoga ke depan, prilaku-prilaku seperti ini tidak terjadi lagi. Pemerintah daerah, harus segera terlibat untuk menangani gangguan-gangguan ini.

18 Desember 2019

PILKADES

Warga dan mahasiswa Muna Barat dipelabuhan Raha.
SAAT TIBA di pelabuhan kapal malam Kendari untuk pulang ke Muna, saya merasa tercengang melihat suasana di pelabuhan itu. Sangat ramai, antrian tiket cukup panjang. Yang membuatku heran adalah membludaknya penumpang kapal malam. Yang saya tau, biasanya membludaknya penumpang terjadi pada saat-saat momen Pilkada, bulan puasa dan lebaran.
Menyaksikan mereka, membuatku ingin bertanya pada salah satu penumpang. Saya dekati beberapa orang, lalu bertanya. Kepulangan para mahasiswa/i itu ternyata karena ada momen Pilkades di Muna Barat. Mereka ingin menyalurkan hak politiknya untuk memilih kepala desa, di desanya masing-masing. Pikirku, antusiasme warga untuk pemilihan kepala desa ternyata sudah cukup besar. Berbeda dengan lima belas atau dua pulu tahun lalu, antusiasme warga terhadap Pilkades sangat kecil.
Yang menarik, tentu bukan saja antusiasme yang besar, namun jumlah kandidat calon-calon kepala desa yang ikut berkompetisi. Rata-rata kandidat yang mencalonkan diri di setiap desa, terdapat paling banyak lima Cakades. Salah satu mahasiswa mengatakan kepada saya bahwa, banyaknya Cakades yang ikut berkompetisi tak terlepas dari adanya dana desa. Tak main-main, setiap desa mendapat kucuran dana desa sekira satu miliyar per desa dari APBN. Jika dulu sangat jarang yang ingin jadi kepala desa, kini semakin banyak peminat.
Bagi saya ini sangat wajar, jika saat ini banyak orang yang ingin jadi kepala desa. Saya tak ingin memberi stereotip kepada mereka yang mencalonkan diri kepala desa karena tergiur dengan dana desa. Tentu, masih banyak orang yang berpikiran rasional, mencalonkan diri karena ingin memanfaatkan dana desa untuk kesejahteraan warganya. Tapi tak salah juga jika sebagian warga mengeneralisasi, mereka yang mencalonkan diri kepala desa hanya karena mencari pekerjaan atau tergiur karena besaran dana desa.
Di kapal malam itu, saya coba mewawancarai beberapa orang terkait kepulangannya di desanya masing-masing. Apakah diberi uang transportasi oleh salah satu Cakades? Beberapa yang saya temui membenarkan, mereka pulang karena diberi uang transportasi. Tak tanggung-tanggung, ada calon kepala desa yang mengeluarkan uang sejumlah ratusan ribu per orang. “Salah satu calon kepala desa di desaku, relah mengeluarkan uang lima ratus ribu per orang demi memenangi Pilkades, kata mahasiswa itu. Tapi bukan Cakades yang saya pilih” mahasiswa itu melanjutkan.
.
Saya benar-benar tercengang mendengar cerita itu. Tentunya terlepas apakah itu fakta atau bukan, itu bisa diperdebatkan. Namun, informasi itu tentu menjadi pertanyaan mendasar kita, mengapa seorang calon kepala desa rela mengeluarkan uang sebanyak itu? Bahkan, ada yang mengeluarkan uang sekitar ratusan juta rupiah.
Tentu bagi saya ini memprihatinkan. Ongkos politik kian mahal mulai dari pemilu, pilgub, pilbup, pilwakot sampai pilkades. Demi memenangi kompetisi, masing-masing calon termasuk calon kepala desa, harus mengeluarkan ongkos politik yang begitu banyak. Di sisi yang lain, masyarakat juga disebut-sebut lebih proaktif, tak malu-malu lagi untuk meminta uang kepada para calon.
Inilah pola pragmatisme-transaksional yang banyak terjadi dilapangan politik. “Ada uang, saya pilih. Tak ada uang, saya pilih yang sedikit uangnya.” Atau jika tak menyukai calon yang menghambur-hamburkan uang akan mengatakan begini “Ambil uangnya, jangan pilih orangnya” dan lain sebagainya.
Pola-pola seperti ini bukan lagi hal yang tabu, untuk kita temukan dilingkungan masyarakat kita. Coba sediakan waktumu, berbaur dengan warga lalu tanyakan siapa yang mereka pilih. Sebagian akan mengatakan, “Saya akan memilih yang ada uangnya”. Antara masyarakat dan calon, sudah sama-sama memiliki keberanian untuk memberi dan meminta. Yang punya banyak uang, tentu memiliki peluang besar untuk memenangi kompetisi. Yang irit uang, jangan berharap banyak untuk menang. Sementara yang keluar ongkos banyak, tetapi tetap kalah itu hanya sebuah anomali dalam politik.
.
Dalam demokrasi, “kaum penjahat” dan “kaum orang baik” memang punya kesempatan yang sama dalam berebut kekuasaan. Dua-duanya bisa jadi pemimpin. Kata Nurcholish Madjid, bahkan “setan gundul” pun bisa jadi pemimpin. “Kaum penjahat” dan “kaum orang baik” dua-duanya karena dipilih oleh orang banyak. Namun, tak menutup kemungkinan, “kaum orang baik” tak berubah jadi “kaum penjahat.” Semua bisa berubah, tergantung motif dan kepentingan disekelilingnya.
Hal ini bisa terjadi pada semua tingkatan kepemimpinan, baik Presiden, Gubernur, Bupati, Wali kota dan Kepala Desa. “Kaum penjahat” dan “kaum orang baik’ bisa berkuasa pada semua tingkatan kepemimpinan itu. Potret kepala daerah yang terjerat korupsi adalah cerminan dimana “kaum penjahat” itu bisa berkuasa karena sistem demokrasi liberal seperti sekarang ini. Korupsi itu bisa jadi karena telah mengeluarkan ongkos politik yang mahal pada saat pencalonan.
Dalam kepemimpinan tingkat desa atau kepala desa, juga bisa melahirkan “kaum penjahat” dan “kaum orang baik.” Sudah banyak fakta dimana kepala desa menjadikan dana desa sebagai lahan basah untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Berdasarkan catatan Indonesia Corruption Watch (ICW), sepanjang 2015- 2018 sudah ada 214 kepala desa yang terjerat korupsi.
Dengan ongkos politik yang semakin mahal dalam pemilihan kepala desa, bagi saya, ini justru akan semakin memperbesar jumlah kepala desa yang terjerat korupsi. Para kepela desa yang terpilih, tentu akan dengan mudah memanfaatkan kuasanya untuk menilap dana desa. Apalagi dengan besarnya dana desa yang dialokasikan ke setiap desa, tentu itu dapat membuka celah kepala desa untuk melakukan korupsi. Dengan berbagai motif, mereka menginginkan uang balik dan untung.
Begitulah wajah politik kepemimpin kita. Kepala daerah dan kepala desa sama, sama-sama dipilih oleh orang banyak dan dengan ongkos yang banyak. Yang saya tidak sepakat bukan soal dipilih oleh orang banyak tapi soal politik uang. Jika dulu politik uang hanya banyak terjadi dalam pemilu atau pemilihan kepala daerah, kini terjadi dalam pemilihan kepala desa. Bisa jadi, para calon kepala desa belajar dari pemilu atau pilkada dalam memenangi kompetisi secara tidak sehat. Siapa yang tahu!
Pada akhirnya, budaya politik uang ini sangat sulit untuk dihilangkan, karena telah mengakar kuat. Juga dipengaruhi oleh calon-calon yang tak memiliki program, sehingga politik uang telah menjadi salah satu instrument untuk memenangi kompetisi. Ke depan, bisa jadi korupsi dana desa akan semakin masif terjadi karena dipengaruhi oleh ongkos politik Pilkades ini. Semoga saya salah.
                        Muna, 18 Desember 2019

04 Desember 2019

Ceria BERSAMA DUA GADIS Kecil di Mata


BUKAN kali ini saja, saya diterima dengan baik saat mengamen di pinggiran kota Kendari. Di Alolama atau di Gunung Jati, saya mendapat sambutan yang hangat dari warga, saat saya hendak mengamen di lingkungan mereka. Dari yang tua, yang muda maupun anak-anak kecil. Yang nihil sampai saat ini, tak ada perempuan-perempuan muda yang terpikat dengan kehadiranku. Pada hal, hampir semua jurus sering ku keluarkan. Yang janda, banyak. Hehehe.
.
Cerita tentang kampung Mata adalah cerita tentang warga pinggiran kota, yang hidup di teluk Kendari. Kita dapat menemukan banyak cerita di Mata, dari soal banjir, kehidupan nelayan hingga ceria anak-anak kecil. Warganya cukup ramah. Anak-anaknya ceria. Saya merasa betah dalam artian, merasa senang berada di Mata. Rasanya, saya akan menghabiskan berbulan-bulan lagi untuk mengamen di sini.
Sudah sebulan lalu saya berkunjung di sini. Kali ini, saya berkunjung kembali untuk kepentingan penelitian yang saya kerjakan. Saat saya tiba, warga Mata serta gadis-gadis kecil itu langsung menyapa dengan senyum yang merekah. Ada yang panggil saya Pak, Om dan juga Kakak. Saya merasa risih soal panggilan Pak dan Om. Tapi saya nikmati saja, sambil mengatakan saya masih bujang. Mereka sedikit tertawa, lalu saya mengajak mereka untuk memulai bercerita.
Setelah bercerita, dua gadis kecil ini dengan polosnya meminta untuk meminjam HP saya.
“Kak, Dilma mau pinjam HP-nya untuk foto-foto” kata gadis kecil yang berbaju putih itu. Dengan senang hati, saya memberikannya lalu menanyakan hendak berfoto di mana. Dengan senangnya, dua gadis kecil ini menunjuk ke arah depannya.
“Di situ Kak, di Taman Cinta” kata Dilma. Saya terkekeh mendengar itu. Di belakang, saya mengikuti mereka untuk menuju ke Taman Cinta yang mereka sebut.
Benar saja. Tidak terlalu jauh dari situ, terlihat bentuk Love berdiri dengan warna putih dan merah yang terbuat dari besi, menghiasi kampung ini. Suasananya cukup indah. Menjelang sore, ada banyak anak-anak kecil bermain di sini. Dengan riang gembiranya, dua gadis polos ini selfie-selfie. Mereka juga senang dengan kehadiranku. Sesekali, dua gadis ini memerintahkan saya mencari tempat yang bagus untuk selfie bersama.

.
Di kejauhan, terlihat ada banyak pekerja yang hendak memperindah jalan di Taman Cinta ini. Para pekerja itu hendak memoles Mata, agar terlihat indah dan bersih. Mata yang dulu kumuh dan kotor karena sampah, kini sudah mulai terlihat bersih. Kepada warga, saya juga mengatakan agar mereka menjaga lingkungan, tak membuang sampah di kali sembarangan.
Saat dengan cerianya selfie-selfie bersama dua gadis ini, ada suara yang terdengar hendak memanggil nama gadis berbaju putih. Putri.....begitu suara itu terdengar. Putri lalu menoleh. Perempuan itu muncul di seberang jembatan Taman Cinta.
“Ayok, pulang” kata perempuan itu. Sebelum pergi, saya menanyakan pada gadis kecil bernama Putri.
“Itu apamu? Kakakmu ya” tanyaku dengan penasaran.
“Bukan. Itu Mamaku” kata Putri, sambil bergegas pergi. 
Duhh.