Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

23 November 2019

30 Menit Berada Di Pulau Wawonii


PERJALANAN yang singkat, pikirku. Setelah saya dan Ila menyetor amplop yang berisikan berkas-berkas persyaratan CPNS di kantor Pos Langara, Konawe Kepulauan, kami berbalik arah menuju Kendari. Kami menghabiskan waktu perjalanan sekira 6 jam pulang-pergi dari Kendari-Konkep dan Konkep-Kendari.
.
Jadwal keberangkatan kapal Very pada pukul 11.00 Wita. Kami berdua tiba tepat pada pukul 11.00. Saat saya memasuki pelabuhan, terlihat di lobi pengambilan tiket mengantri begitu panjang. Anehnya, di lobi pengambilan tiket sangat berantakan, tidak teratur. Para pengantri tiket kemudian saling dorong hingga terjadi keributan. Ini penyakit masyarakat kita. Tak pernah membudayakan mengantri. Saling serobot, semua ingin lebih awal dan terdepan. Pada hal, mengantri hanya bermodalkan kesabaran.
Setelah saya mengantri tiket yang melelahkan itu, kami kemudian menuju kapal Very. Tak terbayangkan bagaimana padatnya Very yang kami tumpangi. Para pejuang NIP itu berdesak-desakan, hingga ada yang melantai. Semua penuh. Kami berdua pun ikut melantai.
Teman saya Ila mengatakan perjalanan seperti memang punya seni. Teman-teman saya yang kini jadi PNS, mereka merasakan hal yang sama, katanya Ila sambil tertawa. Dari situ, mereka termotivasi agar kesusahan dan kesulitan itu terbayarkan. Mereka belajar dengan tekun untuk kemudian bisa lolos jadi PNS.
“Saya tau, ini pengalaman pertamamu tes CPNS kan”, kata Ila sambil terkekeh.
Kami sangat menikmati perjalanan itu. Semua terbayarkan setelah kami tiba di pelabuhan Wawonii. Saya begitu terkesan dengan keramahan warganya. Pemandangannya juga begitu indah. Meskipun panas, saya dengan Ila tak ingin melewatkan momen itu. Kami berdua lalu selfie-selfie di pantai, dekat pelabuhan Wawonii.


.
Konawe Kepulauan (Pulau Wawonii) di kenal dengan sebutan Pulau Kelapa ini memang punya banyak tempat sumber wisata untuk di kunjungi. Ada permandian Air Panas yang berada di Desa Wungkolo. Pantai Kampa yang memiliki keindahan bawah laut, yang dipadukan dengan pemandangan pasir putih, deburan ombak, pohon-pohon kelapa serta keindahan hutan yang begitu memanjakan mata. Dan masih banyak lagi. Sayang, saya tak bisa mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut. Kepentingan saya, hanya membawa berkas-berkas itu, lalu putar balik untuk kemudian menuju Kendari.
Hanya 30 menit berada di Konkep, saya meraskan telah jatuh cinta dengan julukan Pulau Kelapa ini. Dari beberapa artikel yang saya baca tentang Konkep, saya juga bisa tau bahwa pulau ini ternyata tidak hanya punya julukan Pulau Kelapa tapi juga Pulau Hati atau Pulau Cinta. Di sebut Pulau Cinta karena Pulau Wawonii berbentuk hati atau love. Menarik bukan.

Ah, mungkin itulah alasan, mengapa orang yang pertama berkunjung di Pulau Wawonii bisa langsung jatuh cinta. Ada banyak hal yang menarik disana. Kedepan, ada harapan agar saya bisa punya waktu untuk leluasa mengunjungi Pulau Wawonii.
Semoga.

                                    Laode Halaidin

02 November 2019

Deasy Tirayoh

Deasy Tirayoh.
Sumber foto: beritaklick.com
Penyair M Aan Mansyur ikut berkomentar di twitternya terkait 5 nama-nama penulis Indonesia yang menjadi favorit netizen. Menanggapi itu, M Aan Mansyur justru menyebut beberapa penulis dari Indonesia Timur. Dari deretan nama-nama yang saya baca, ada satu nama yang menarik perhatian saya yaitu nama Deasy Tirayoh penulis dari Sulawesi Tenggara.
Sebagai orang Sultra, nama itu begitu asing ditelinga saya. Saya kemudian tertarik dan menelusuri hasil karya-karyanya untuk ku baca.
Deasy Tirayoh adalah salah satu penulis berbakat. Dari perjalanan kepenulisannya, Deasy sudah menghasilkan beberapa sajak seperti Kaghati Kolope, yang menjadi puisi terbaik pada lomba cipta cerpen dan puisi yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Dia juga sudah menghasilkan beberapa karya cerpen seperti Mas In B Minor, Purnama di Atap Rumah, Udumbara, Dari Timur (2017), Kulminasi (2017), Sadasa (2018), Cerpen Tani (2018) serta buku ontologi cerita mini bertajuk Tanda Seruh di Tubuh.
Dari bakat kepenulisannya, pada tahun 2015 Deasy Tirayoh lolos dalam penulisan bergengsi Makassar Internasional Writers Festival (MIWF). Dia lalu mewakili Indonesia dalam ajang Internasional, Ubud Writers and Readers Festival pada tahun 2016. Tak berhenti disitu, pada tahun 2018 Deasy juga mewakili Indonesia di Majelis Sastra Asia Tenggara.
Di Kendari, nama Deasy dan karyanya kurang diperbincangkan. Pada hal dia adalah salah satu penulis asal Indonesia Timur yang karya-karyanya sangat diapresiasi. Jika melihat sepak terjangnya, bagi saya ini bukan hal biasa tapi sangat luar biasa. Dia telah melewati lika-liku dan mengasah keterampilan kepenulisannya diberbagai ajang. Yang paling terakhir, Deasy terlibat dan tampil bersama dengan para penulis muda perwakilan Maestera se-Asia Tenggara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura dan Thailand.
Yang membuat saya kagum dan pantas diidolakan, Deasy berhasil menulis beberapa skenario yang telah diproduksi jadi film seperti Pelangi Menjuntai di Langit Muna, Larumbalangi, Sahabat Merah Putih dan lain-lain. Untuk skenario film “Pelangi Menjuntai di Langit Muna” saya telah menoton filmnya dan baru tahu ternyata penulis skenarionya adalah Deasy Tirayoh. Hiksss....
Semoga saja di Sultra semakin banyak melahirkan penulis-penulis berbakat seperti Deasy Tirayoh juga seperti penulis tampan Yusran Darmawan. Kedepan, harusnya penulis-penulis berbakat seperti diatas harus sering diberikan panggung untuk kemudian membincangkan hasil karya-karyanya. Juga cara kita untuk menghargai penulis-penulis lokal.
            Kendari, 2 November 2019

24 Oktober 2019

Semalam Bersama ILA


Semalam, seorang teman bernama ILA menghubungiku untuk bertemu. Tak tahu persis kami hendak bertemu tentang apa. Namun diujung telpon, dia seperti sedikit memaksa saya untuk bertemu malam itu. Rasanya dia juga kangen, sama seperti diriku. Karena mau ditraktir, akhirnya saya memutuskan untuk bertemu dengannya.
Sehari sebelumnya, dia juga sempat menghubungiku, mengajak untuk nonton bersama di bioskop Hollywood Cinema Kendari. Tidak dua kali, saya pun langsung meng-iya-kan. Katanya, dia ingin nonton film yang dibintangi oleh pasangan suami istri, Cut Meyriska dan Roger Danuarta itu bersama saya. Judul film bergenre religi itu yakni Ajari Aku Islam.
Tapi ternyata malam itu tidak jadi. Dia masih punya urusan kerja dan harus dibatalkan. Semalamlah pertemuan itu baru terjadi. Duh, kira-kira apa ya, yang ingin dibicarakan?
Kami bercerita sekitar sejam lebih. Dia masih ceria seperti dulu, waktu sama-sama kos di Asrama Tersanjung. Sesekali dia mengingat-ingat persahabatan di asrama dulu. Juga menanyakan kabar teman-teman Asrama yang dia sudah tidak ketahui dimana keberadaannya.
Ada nama Firman, Amir, Rasul dan teman-teman lainnya. Dia masih kangen dengan sahabat-sahabat itu. Dia terhenti berbicara saat mengingat dan menyebut nama Alan. Katanya, dia tak menyangka sahabat kita, Alan pergi begitu cepat, menghadap pada sang pemberi kehidupan. Dalam hati kami mengucap, membacakan Alfatiha untuknya.
Kedatangannya di Kendari mewakili sekolahnya, untuk mengikuti kegiatan pendampingan dan pelatihan. Rupanya dia kini telah menjadi guru di salah satu SMA di Tampo. Ada rasa senang mendengar dia memilih mengabdi menjadi guru meski dengan honor kecil. Di luar sana, ada banyak orang yang menolak mengabdi untuk menjadi guru karena honor kecil atau tak menerima honor sama sekali.
Dia berujar, alasan seperti itu masuk akal sebab guru yang mengabdi juga punya tanggungan baik untuk orang tua, maupun anak-anaknya bagi yang sudah menikah. Mereka harus punya pendapatan. Di desanya, bahkan ada yang memilih untuk menjadi petani tambak dari pada mengabdi jadi guru.
Namun, dia tak mempermasalahkan hal itu. Baginya, honor kecil tidak ada masalah. Yang dipentingkan sekarang adalah dia bisa berbagi ilmu pengetahuan dengan siswa-siswinya. Dia juga belajar membangun jejaring sesama guru-guru untuk mendapatkan akses dan pengalaman yang lebih luas. Buktinya, dia dimintai oleh kepala sekolah di SMA-nya untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka mengikuti kegiatan pelatihan. Katanya, di usia sekarang pengalaman itu memang lebih penting.
Sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia, dia lalu menunjukan chat whatsapp dengan siswa-siswinya. Untuk mempermuda komunikasi dengan siswa-siswinya, dia lalu membuatkan WAG (WhatsApp Grup). “Ini untuk mempermuda komunikasi dengan siswa-siswi saya. Saat ada kegiatan seperti ini, saya tinggal menyuruh mereka agar tetap di dalam kelas. Saya memberitahu mereka, tidak ingin di kantor ada yang menelpon saya gara-gara mereka ribut. Nah, sekarang sudah ada siswa yang sering nelpon-nelpon saya nih”, cetusnya sambil tertawa.
“Jangan-jangan siswanya naksir sama gurunya”, kataku sambil terkekeh bersama.
Saat bergegas pulang dan hendak mengendarai motor masing-masing, ada suara yang tiba-tiba seperti berbisik.
“Din, nanti kalau pulang dikampungmu, jangan lupa singgah di rumah ya. Nanti saya kenalkan kamu ke.....” katanya seraya bergegas pergi bersama malam.
Kata-kata itu tiba-tiba terputus, tak dilanjutkan. Pada hal saya masih penasaran apa kelanjutannya. Apakah saya akan dikenalkan ke orang tuanya atau ke komunitas petani tambak di desanya. Duh, ingin rasanya ku chat saja, memintai penjelasannya.

                             Kendari, 24 Oktober 2019

21 Oktober 2019

Belajar Jadi Juru Foto

JIKA banyak orang lebih senang di foto, saya justru sebaliknya, lebih senang jadi juru foto. Ada rasa senang tersendiri setelah saya memotret sesuatu, meskipun masih amatiran.
Kemarin, saat jalan-jalan ke pantai Toronipa, Konawe, saya mencoba memotret hal-hal yang saya sukai. Sebenarnya ada banyak hal untuk di foto, termasuk perempuan-perempuan cantik yang berjejer di ujung bibir pantai Toronipa. Karena tak ada keberanian, saya menggugurkan niatku, lalu memilih menikmati kopi yang saya buat.
Di bibir pantai itu, saya melihat seorang gadis yang sedang asyik berselfi sendiri. Dari jauh, saya memantaunya. Dia sesekali bergaya, mencari posisi dan pemandangan yang menurutnya indah. Sambil menyalakan kamera, dia memotret dirinya lalu melihat hasil foto-fotonya. Sebentar-sebentar dia melihat gambarnya, lalu gadis cantik itu kembali selfi dengan senyumnya yang mengembang. Pikirku, mungkin dia butuh juru foto. Maka, saya berusaha mendekati lalu memintanya untuk menjadi juru fotonya.
Apakah saya bisa jadi juru fotonya? Dia hanya tersenyum, tak menjawab apa-apa. Ku beritahukan bahwa saya lagi belajar memotret. Dia diam lagi. Tapi dari raut wajahnya, dia terlihat tak menolak.
Saat saya hendak mengambil gambar, gadis itu terlihat tersipu malu. Dia tak lagi bergaya, seperti saat saya memantaunya dari jauh. Sesekali dia membuang senyum. Dia terlihat tidak biasa untuk di foto. Dia kurang percaya diri. Ku yakinkan saja, bahwa tak bergaya pun dia tetap terlihat cantik dan menawan.
Mendengar pujianku, dia seperti sudah menemukan rasa percaya dirinya. Gadis itu sudah siap untuk diambil gambarnya. Dengan sigap, saya memotretnya. Saat saya perlihatkan hasilnya, dia memujiku dan mengatakan bagus. Bagus, katanya. Lalu dia kembali tersenyum.
Saat hendak pulang, saya menanyarankan agar dia mengambil foto-fotonya. Ujarku, nanti saya kirimkan lewat nomor WhatsApp saja. Responnya justru membuatku tersipu.
“Fotonya untuk Kakak saja, untuk dilihat-lihat. Jangan lupa dijadikan wellpapers ya.” Lalu gadis itu bergegas pulang.
Ayokk, siapa yang mau di foto sama juru foto amatiran ini, hehehe.

                   Kendari, 21 Oktober 2019

17 September 2019

Menjenguk Anak Sahabat

Hari ini, saya kembali menjenguk anak sahabat lama saya di rumah sakit Bahteramas Kendari. Hari Kamis lalu dia menghubungi saya, bahwa dia dengan anaknya sedang di rumah sakit. Setelah mendengar penjelasannya, mengapa anaknya masuk rumah sakit, lalu saya pergi menjenguknya.
Tiba di rumah sakit, saya melihat raut muka yang penuh rasa kekhawatiran. Dia begitu gelisah. Dia khawatir anak bayinya bisa terjadi apa-apa. Dia tak bisa membayangkan, dengan umur bayinya yang masih hitungan hari langsung disentuh oleh pisau bedah. Dia menununduk kelihatan sedih.
Istrinya pun demikian. Saat bertemu saya, istrinya terlihat sayu. Dia terlihat begitu lelah. Dari sejak semalam dia menangis. Sebenarnya dia tak menginginkan bayinya di bawah diruang operasi. Sama dengan suaminya, dia juga begitu khawatir. Tapi karena bayinya harus segera membutuhkan penanganan, maka dia tak punya pilihan lain. Dokter berusaha menyakinkannya. Setelah mendengar penjelasan Dokter, dia percaya lalu menyerahkan semuanya kepada sang pencipta.
Bayinya yang mungil itu mengalami gangguan pada usus. Di kampung, bayinya yang masih hitungan hari itu diberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) seperti SUN sehingga terjadi kerusakan pada usus bayi. Tapi itu bukan atas inisiatifnya. Katanya, dia mendapat masukan dari tetangga untuk diberikan SUN karena pisang hanya menimbulkan diare. Pada hal pemberian MPASI pada bayi harus sudah berumur 6 bulan keatas. Bayinya mengalami invaginasi atau intususepsi hingga harus dioperasi.
Sebagai sahabat, saya hanya ikut menguatkannya. Ketidaktahuan mereka tentang bagaimana merawat bayi atau memberi nutrisi pada bayi menjadi penyebab atas apa yang terjadi pada bayinya. Harusnya tak perlu mendengar masukan tetangganya, tapi harus bertanya pada bidan atau dokter di kampung.
Dari kejadian-kejadian seperti ini, tentu menjadi pelajaran berharga buatku. Berumah tangga itu tak sekadar berumah tangga saja. Nikah, cari uang dan punya anak. Tidak. Kita harus punya pengetahuan bagaimana merawat rumah tangga, merawat bayi dan lain sebagainya.
Kuncinya, segala sesuatu harus direncanakan dengan sebaik-baiknya.

Laode Halaidin

25 Agustus 2019

Saat Mengikuti Pelatihan Enumerator Dan Jurnalis Di Makassar


“Rejeki anak sholeh.” Begitu kata sahabat, saat mendengar saya berangkat ke Makassar untuk mengikuti pelatihan enumerator dan jurnalis. Sahabat itu mengetahui bahwa saya hanya pengurus perkumpulan penikmat konau dikampung halaman. Makanya, dia juga merasa kaget saat saya mengikuti pelatihan itu, pada hal tak ada hubungannya sama sekali.
Saya sungguh beruntung bisa mengikuti pelatihan itu. Sebagai enumerator dan pernah magang jadi jurnalis di salah satu media di Kendari, saya bisa mendapat dua ilmu sekaligus, yakni bagaimana tehnik melakukan wawancara untuk kebutuhan survey lapangan dan bagaimana cara bertemu narasumber melakukan wawancara untuk kebutuhan berita. Kata narasumber pelatihan itu, enumerator dan jurnalis sama-sama pekerjaan lapangan, tak banyak perbedaan saat hendak melakukan wawancara pada responden dan narasumber.
Pada kesempatan itu, saya hadir sebagai peserta enumerator. Bersama tiga orang sahabat, kami mewakili Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo. Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia itu, saya bertemu dengan banyak peneliti dan jurnalis lokal di Sulawesi Tenggara. Kami sharing banyak hal, membincangkan pengalaman-pengalaman dalam penelitian lapangan. Bersama para jurnalis, saya belajar banyak bagaimana menulis sebuah berita yang baik. Saya sangat banyak belajar dan berguru dari mereka.
Yang mengesankan buat saya adalah saat mendengar pemaparan dari narasumber media ternama, Tempo. Namanya Yandrhie Arvian. Di Tempo, dia menjabat sebagai managing editor for economic and business. Pada permulaan presentasinya, dia membawakannya dengan menarik.
Dia menceritakan siapa saja narasumber yang gampang diwawancarai. Baginya, wakil Presiden Jusuf Kalla adalah orang yang gampang untuk diwawancarai. Para jurnalis tidak kesusahan saat ingin bertemu dengannya. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga bisa melayani jurnalis dengan pertanyaan apa saja. Kata Yandrhie, pertanyaan apapun yang dilayangkan jurnalis, Jusuf Kalla pasti menjawabnya. Bahkan disuruh wartawan untuk pemotretan ditengah hujan dengan memakai payung, dia mau.
Menteri yang paling susah untuk ditemui jurnalis Tempo saat ini, baginya adalah Rini Soemarno. Saat pertama menjabat menteri BUMN , Rini Soemarno sangat welcome dengan jurnalis. Namun, setelah majalah Tempo mengulik skandal korupsi pelindo, kereta cepat, jurnalis tidak pernah bertemu dengan Rini Soemarno. Dia seperti menghindar, tak mau melayani jurnalis untuk menjadi narasumber.
Jika Jokowi bisa diwawancarai tergantung mood, Setia Novanto justru lain hal. Novanto adalah narasumber yang paling genit. Bahkan ditengah kasus korupsi E-KTP yang menimpahnya, dia tetap bersedia untuk diwawancarai. Pejabat biasanya, jika dikejar jurnalis seputar kasus yang tengah dihadapi, mereka memilih menghindar. Novanto justru tidak, bahkan setelah kejadian kontroversial “tabrak tiang listrik” dia tetap seperti biasa, menjawab setiap pertanyaan para jurnalis.
**
Saya menyaksikan para peserta begitu antusias mendengar ceritanya. Bahkan sebelum dia masuk pada materi presentasi, para peserta sudah melayangkan beberapa pertanyaan. Misalnya terkait dengan perlindungan jurnalis lokal dan pusat. Juga konflik antara Tempo dan pemilik Arta Graha, Tomy Winata.
Sayang, dia tak banyak bercerita tentang hal itu karena keterbatasan waktu. Dia sudah harus membawakan materi presentasinya untuk peserta. Yang saya suka adalah dia bisa membagi waktunya, tak melulu soal presentasi tentang prinsip-prinsip in-depth interview, tapi menyelipkan cerita pengalaman yang sesuai dengan materinya. Bagi saya ini gaya presentasi yang menarik, tak membosankan dan selalu mencairkan suasana.
Dia lalu mengajak peserta berdiskusi banyak setelah selesai acara kegiatan. Entah para jurnalis berdiskusi dengannya atau tidak saya kurang tahu. Saya lupa meminta kontak para jurnalis agar mengabarkan jika mereka bertemu dengannya. Lagian, saya siapa. Saya kan hanya mengurusi konau dikampung halaman. Hikss…
                                                                               Muna, 25 Agustus 2019

15 Agustus 2019

Bersama Nur Afif Di Makassar

Sumber foto: Irmayanti
Sudah dua hari saya berada di Makassar. Kegiatan pelatihan belum juga usai. Sudah tidak sabar rasanya, saya ingin berkeliling di kota Makassar, melihat bagaimana pesatnya pembangunan di kota Daeng itu. Sehari sebelumnya, saya berusaha menghubungi sahabat­-sahabat di kampung yang kuliah di Makassar, meminta untuk mengajak saya berkeliling menyusuri kota Anging Mammiri. Hasilnya nihil. Rupanya mereka sedang libur dan pulang kampung.
Hari itu, saya membatalkan semua niat untuk berkeliling kota Makassar. Pikirku, ya sudah, nanti di lain kesempatan saja. Saya memilih fokus untuk mengikuti kegiatan pelatihan itu.
Di Makassar saya tak punya banyak teman. Beberapa teman, memiliki kesibukan. Saya sungkan menghubungi mereka, sebab merasa tau diri akan menganggu. Lagian saya hanya seorang pengangguran. Saya merasa tak enak saja, meminta mereka untuk menemaniku menyusuri kota Makassar.
Beruntung, saya punya sahabat kuliah di Kendari dulu yang tinggal di kota Makassar. Namanya Nur Afif atau biasa saya panggil Ipo. Saat saya mengikuti pelatihan, ia ternyata mengomentari statusku di Facebook. Ia menanyakan keberadaanku di Makassar. Saya sebut saja, lagi menginap di hotel Novotel. Lalu saya mengajaknya keluar untuk ngopi-ngopi.
Ipo, demikian ia disapa, sangat bersedia menemaniku, mengantarku keliling di kota Makassar. Bersama sahabat-sahabat saya yang lain, ia siap mengantar kami kemana pun kami mau. Sontak saja, sahabat-sahabatku menyebut ingin ke Mall Nippah, Pantai Losari hingga ke Mesjid 99 kubah.
Sepanjang perjalanan, kami saling bertanya, kesibukan apa yang kami kerjakan semenjak diwisuda. Ipo mengaku, semenjak diwisuda ia sibuk mengurus usaha jual-beli mobil bekas Omnya. Sementara saya, sampai saat ini masih melakoni sebagai pengangguran di kota Kendari.
Saya begitu senang mendengar cerita Ipo, bagaimana ia mengurus usaha jual-beli mobil Omnya. Sebagai orang yang berlatar belakang sarjana ekonomi, sekiranya ia pantas melakoni pekerjaan itu. Ia mengurus usaha besar. Bahkan beberapa mobil yang ia beli, berasal dari Kalimantan juga ada yang dari Kendari. Mobil-mobil yang ia beli adalah mobil bekas tambang. Jika mobil yang di datangkan dari Kalimantan tidak rusak parah, ia bisa memiliki keuntungan yang cukup besar, bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Saat ini, bahkan ada yang dari Kendari sedang memesan mobilnya.
Saat tiba di Mall Nippah, setelah memesan kopi, Ipo menanyakan bagaimana bisa saya ikut kegiatan pelatihan itu. Sontak saja, saya terkejut dan diam. Saya sedang memutar otak, bagaimana memulai penjelasan. Saya menyeruput kopi, lalu mengatakan bahwa sebenarnya saya tidak tahu mengapa diikutkan. Di Kendari, saya pengangguran. Di kampung, saya hanya mengurus Perkumpulan Penikmat Konau. Mungkin ini hanya sekadar rejeki anak sholeh. Hehehe....

                                                                       Makassar, 14 Agustus 2019