Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

14 September 2017

MAHASISWA BARU: Selamat Datang di Kampus Impianmu

Foto dari: Laode Muliadi

WAHAI para mahasiswa/i baru yang gagah, yang cantik, yang kaya, yang miskin, dari kota maupun dari desa. Selamat datang dikampus impianmu. Kampus yang akan menempahmu menjadi manusia intelektual─yang siap menyelami dunia ilmu pengetahuan─atau menempahmu menjadi manusia yang peduli dan peka akan keadaan sosial-lingkunganmu. Atau hanya kampus yang akan menjadikanmu sebagai manusia pencari gelar dan ijazah sarjana dengan IP (Indeks prestasi) yang tinggi.

***
Kampus saat ini, dijadikan hanya semacam ritual perlombaan gaya penampilan maupun prestasi. Juga dijadikan tempat jalan-jalan seperti Mall dengan memamerkan mobil dan pakayan yang mewah sambil selfi-selfi. Di banyak tempat, kita menemukan kampus serupa medan laga dimana pertarungan kalah─menang ditonjolkan. Yang selesai cepat dan ber−IP tinggi adalah mereka para mahasiswa yang dianggap juara. Mereka diapresisasi dengan berbagai macam pujian─mahasiswa/i pintar, cerdas dan lain sebagainya. Sementara para mahasiswa/i yang terkatung-katung─terlambat selesai─bisa di cap sebagai mahasiswa yang malas bahkan bodoh.
Namun, benarkah demikian! Anggapan ini tentu salah kaprah. Tengoklah mereka para tokoh, cendekiawan, penemu hingga aktor, dimana kuliahnya pernah gagal namun karirnya sangat gemilang. Mereka tidak bersandar pada IP tinggi, tetapi keuletan dan kegigihanlah yang membawah mereka pada keberhasilan. Kampus, mereka jadikan sebagai pengujian terhadap mimpi-mimpi dan nyali untuk berpetualang dalam mencari pengalaman hidup.
Dalam memperdalam pengetahuan, jalan tidak hanya berpusat pada proses dibangku kuliah, mendengarkan penyampaian dosen. Mahasiswa dapat mengambil jalan tengah, menempah diri dengan membaca banyak buku, diskusi dan berorganisasi. Jalan ini ibarat berupa sangkar, yang akan menguji idealisme dan keberanian dalam mengarungi jalan panjang. Disana para mahasiswa akan dilatih, diuji tentang kepekaan, berpolemik serta melawan apa yang dianggap menyimpang terhadap keadaan sekitar.
Di organisasi, kita akan berguru dengan segala guru kehidupan. Apa yang kamu dapatkan di organisasi tidak didapatkan dibangku kuliah. Menolak korupsi, membela petani yang tertindas, menyuarakan ketidakadilan serta pelanggaran-pelanggaran HAM dan menolak kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh para korporasi perkebunan. Semua tidak didapatkan dibangku kuliah. Tak ada mata kuliah yang terkait dengan hal itu. Hanya organisasilah yang membukakan pintu selebar-lebarnya, untuk mendapatkan pengetahuan itu semua. Diorganisasi, para mahasiswa akan terlatih dalam memimpin, membangun kepekaan, melindungi petani yang tertindas serta membangun solidaritas antar sesama aktivis.
Maka biarkanlah dirimu ter─ramu dalam berbagai macam aktivitas. Engkau akan tersesat seperti di gurun pasir─namun pada jalan yang benar. Di organisasi, mahasiswa/i tidak diajarkan untuk mencari IP tinggi, tetapi pengalaman sebagai bekal untuk menempuh jalan hidup yang sesungguhnya. Jalan, yang penuh dengan liku-liku, tantangan serta peluh-keringat bahkan darah. Itulah mahasiswa yang sesungguhnya, membangun kesadaran lewat realitas sosial, membumikan gagasan lewat dialog dan tulisan. Bukan sebaliknya; pergi, duduk manis, selfie-selfie, jalan-jalan dan pulang dikamar. Bukan juga memperbanyak koleksi sepatu, kosmetik, jaket kulit, Hp Android dan juga koleksi cowok-cewek, tetapi perbanyaklah koleksi buku-buku bacaan.
Dari itu semua, mahasiswa/i akan berbauran dengan banyak kenangan; manis ataupun pahit. Kenangan saat melawan elit-elit penguasa desa, aparat keamanan, menentang keputusan yang tidak adil dan sewenang-wenang, bahkan membangkang pada kebijakan yang merugikan rakyat petani. Juga kenangan saat berani mengoleksi berbagai macam buku dengan keterbatasan uang. Setidaknya, dari pergumulan itu, mahasiswa/i berani bersikap, mengambil posisi dengan pendirian teguh, menghargai kebebasan berpendapat dan tak gampang lesu dengan keterbatasan keadaan.
Pada konteks ini, organisasi dapat mengajarkan mahasiswa/i bahwa kebenaran itu bukan cuman ilusi. Ia ada dan berada ditengah-tengah kehidupan masyarakat, meskipun sering tertutupi oleh berbagai macam kepalsuan. Mahasiswa/i diajarkan untuk selalu menyelidiki dan mencurigai, dengan menajamkan logika pemikiran. Hal itu akan membawamu pada keyakinan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Engakau akan menemukan keberpihakan yang benar saat para petani kita dizalimi, tidak membenarkan mereka yang memberikan kebijakan pada rakyat miskin yang justru ditindas. Dengan organisasi, engkau akan mengerti bahwa hidup itu adalah sebuah pertalian yang terus jalin-menjalin; masih banyak yang membutuhkan uluran tangan, akibat kehidupan yang terampas, bukan monoton; kawin, beranak, cari makan lalu mati.
***
Wahai mahasiwa baru, yang masih bersemangat tinggi. Engkau yang masih polos dalam menyikapi keadaan bangsamu. Apakah engkau percaya dengan himbauanku ini! Memang tak mudah saya membangun kepercayaan ini padamu dan tak berhak menuntut agar engkau percaya padaku. Dari kampung, engkau sudah dituntut bagaimana menjadi mahasiswa yang baik, soleh dan pintar; rajin ke kampus, dapat nilai baik, lulus dengan cepat, lalu dapat gelar sarjana. Pikiran itu sudah engkau bawah jauh-jauh datang dari desa ke kota untuk kuliah dikampus impian. Harapanmu hanya satu, mengondol ijazah sarjana lalu ingin meraih kesuksesan.
Tetapi, asal kau tau, kampus tidak menyediakan bahkan tidak memfasilitasi apa yang engkau mau─menyiapkan kesuksesan. Kampus hanya menyiapkan selembar ijazah, lalu membiarkan engkau lalu-lalang dalam lalulintas kehidupan. Selebihnya, dirimulah yang menentukan dimana titik keberhasilanmu. Tengoklah, berapa juta jumlah sarjana yang gelisah, akibat tak tau arah akan hendak kemana. Tengoklah, berapa juta jumlah sarjana yang bingung, karena tak kunjung mendapat pekerjaan dan kekayaan. Membangun usaha, tak ada modal. Tes PNS pun masih gagal, karena banyak oknum yang bermain curang.
Lalu, engkau akan termenung, menyalakan diri sendiri. Entah hendak berbuat apa lagi dikehidupan ini.
Inilah akibat dari kampus hari ini, yang seolah-olah mendoktrinkan mahasiswa bagaimana agar mendapatkan uang secara cepat. Mau terima uang tiap bulan, sambil jalan-jalan ke Mall maka jadilah PNS, mau jadi orang terkenal dengan jabatan maka jadilah politisi, mau kaya raya, jadi konglomerat maka jadilah pengusaha dan lain-lain.
Kampus seolah mengajarkan engkau ilmu kesuksesan, bukan sebuah pertualangan dalam melawan badai kehidupan. Bukan mengajarkan engkau untuk membangun kepekaan terhadap realitas sosial, tetapi mengajarkan agar engkau menjadi manusia sukses meskipun itu menerobos aturan. Seolah-olah kampus menginginkan engkau menjadi manusia yang terkenal dan punya banyak kekayaan. Maka tak heran, kampus dipoles, dengan membangun gedung-gedung megah bak istana, tapi lupa membangun gedung perpustakaan sebagai taman surga pengetahuan.
Maka perhatikanlah mereka yang kuliahnya berhasil, yang ber-IP tinggi. Mereka mendapat kekayaan besar dan punya jabatan yang terhormat. Apakah engkau dalam hidupmu hanya menginginkan yang demikian! Sungguh pendek pemikiranmu, duhai para mahasiswa baru. Apakah engkau ingin menjalani kuliahmu datar-datar saja, tak memilih sibuk dalam dunia aktivis, agar cepat meraih kesuksesan yang kamu inginkan! Sungguh, hidupmu berada dalam fatamorgana. Engkau hadir untuk dirimu sendiri, bukan hadir untuk semua orang yang membutuhkanmu.
Apakah engkau tak pernah melihat para petani kelapa sawit yang hak-haknya dirampas dan dipermainkan secara licik oleh perusahaan perkebunan? Apakah engkau tak pernah melihat para politisi yang membuat aturan dengan seenak perutnya sendiri? Apakah engkau tak pernah melihat kepala daerah kongkalingkong membagi-bagi yang rakyat? Apakah juga engkau tak melihat bagaimana para penegak hukum memperjual belikan perkara? Apakah matamu dan nuranimu tertutup, saat elit-elit desa mencaplok dana desa? Sungguh, ini merupakan kondisi yang sangat berbahaya untuk bangsa ini jika engkau menutup mata. Lihatlah mereka, menari-nari dalam istana kemegahan, sementara masyarakat petani kita menangis histeris dalam gubuk tak beratap.
Wahai mahasiswa baru penerus bangsa. Para pendiri bangsa ini sangat berharap pada generasi muda sepertimu untuk melanjutkan kepemimpinan. Engkaulah harapan masa depan untuk membangun bangsa ini. Saat para pejabat kita sibuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dengan cara korupsi, maka niatkanlah dalam hatimu bahwa generasimu tak akan melakukan yang demikian. Jauhilah perilaku kotor yang merugikan masyarakat miskin. Saat para korporasi mengusir petani dari tanah tumpah darahnya, maka lawanlah. Jangan biarkan para korporasi menindas para petani kita. Engaku dan kita semua hidup dari keringat mereka.
Tak apa jika amarahmu berkobar saat melihat kesewenang-wenangan dan ketidakadilan terjadi dikehidupan masyarakat. Tak apa jika engkau membela mereka dengan gigih dan berani sampai dara membuncah dan berakhir dipenjarah. Jalanmu tidak salah. Justru itulah jalan yang benar sebagai generasi muda. Tidak diam saat melihat ketidakadilan membelenggu hidup petani kita. Itulah jejak langka generasi muda yang harus diambil. Bukan berdiam diri dan hanya mengejar IP tinggi dan gelar. Tetapi berani bersikap, memperjuangkan yang benar.
Menarilah dikampus impianmu itu. Kampus yang membawamu pada pertualangan dan perjumpaan dengan masaalah. Kampus itu kelak akan membentukmu menjadi pribadi yang tangguh ketika berbenturan dengan apapun. Kebohongan, kriminalisasi, manipulatif dan segala bentuk kepalsuan. Engkau terseleksi dari segala empati, yang kemudian membentuk dirimu menjadi manusia yang peka dan tersentuh. Dari sini, engkau tidak akan menjual kebenaran demi kerakusan segelintir elit di bangsa ini.
    
                                                                                    Kendari, 15-09-2017
                                                                                    Laode Halaidin

04 September 2017

Saat Sawit Menjadi Air Mata

Sumber foto; Hasrun

SEBUAH panorama indah memanjakan mata kita. Di sebuah desa―namanya desa Bandaeha langitnya sangat cerah―putih ke biru-biruan. Desa itu dikelilingi oleh bukit dan hutan yang membuat mata kita terkagum-kagum akan keindahannya. Sinar mataharinya begitu menyengat, panas. Sebuah hamparan sawah bersuka cita menyambut sinarnya. Sudah berhari-hari sawah itu tak mendapat sinar, karena langit seringkali tertutupi
oleh awan hitam.
Di desa Bandaeha, kecamatan Oheo, terkenal sebagai desa persawahan. Disepanjang jalan terdapat hamparan sawah yang memanjang dengan daun kehijau-hijauan. Sawah itu dikepung oleh bukit dan hutan lebat yang senantiasa mengirimi udara sejuk. Dibawahnya, air mengalir tanpa henti menandakan desa itu diberkahi tanah subur. Sementara hutannya dijadikan masyarakat sebagai sumber rejeki, karena didalamnya terdapat limpahan berbagai rotan.
Tidak terlalu jauh dari desa itu―masuk desa Polora Indah, kecamatan Langgigima, kita disuguhkan dengan pemandangan yang lain lagi. Kali ini bukan persawahan, tetapi sebuah perkebunan kelapa sawit yang cukup luas dibawah bukit. Tanaman sawitnya terlihat miring, namun tidak mengurangi kesuburannya. Sawit itu terlihat tumbuh subur, bersih karena terawat dengan cukup baik.
Masuknya perusahaan perkebunan sawit di kecamatan Langgigima, boleh dibilang sudah agak terlalu lama. Yang mengelola perkebunan sawit adalah PT. Damai Jaya Lestari (DJL). Sawinya ditanam sekitar tahun 2006―dan awal panen sekitar tahun 2011. Meskipun demikian, perkebunan sawit ini ternyata sudah menimbulkan berbagai masalah.
Belum lama ini, dari informasi yang saya himpun, masyarakat melakukan demonstrasi bahkan menutup dan mendirikan tenda dikantong-kantong perlawanan karena tuntutan mereka tak kunjung dipenuhi. Masyarakat menyarankan agar perusahaan perkebunan PT. DJL memberikan klarifikasi apa yang tertuang dalam MoU. Karena selama ini masyarakat tidak pernah diberitahukan apa isi dalam MoU tersebut.
Ada beberapa tuntutan petani sawit Langgigima, dua diantaranya yaitu pembayaran lahan milik warga yang telah ditanami kelapa sawit dan pengembalian sertifikat tanah yang telah ditahan perusahaan PT. DJL. Hal lainnya terkait dengan keterlambatan pembayaran, seharusnya setiap satu bulan, kini petani sawit harus menunggu setiap tiga bulan.

Sumber foto; Hasrun
Perlawanan-perlawanan masyarakat seperti itu ternyata bukan sesuatu yang baru. Juga bukan tuntutan-tuntutan yang baru pula kepada perusahaan perkebunan. Dibalik sebuah iming-iming perusahaan beserta pemerintah daerahnya yang menjanjikan kesejahteraan, ternyata menyimpan sebuah jerat. MoU hanyalah kertas putih yang disepakati perusahaan dengan pemerintah, bukan dengan masyarakat. Selebihnya perusahaan bergerak sendiri, berbuat seenaknya sendiri. Ia berbuat sewenang-wenang tanpa mempertimbangkan keadilan dan hak-hak masyarakat petani sawit.
Kejadian ini, juga berlaku di perkebunan kelapa sawit kecamatan Wiwirano. Sebuah perusahaan perkebunan, PT. Perkebunan Nusantara XIV justru tidak memenuhi kesepakatan yang tertuang dalam MoU. Akibatnya masyarakat banyak mengalami kerugian. Terutama saat perusahaan tidak menepati janjinya membangun sebuah pabrik besar untuk menampung hasil sawit. Selama kurang lebih 5 tahun, hasil panen sawit masyarakat Wiwirano terbuang sia-sia, rusak atau dibiarkan membusuk dipohon.
***
Semua berawal, saat pemerintahan Soeharto menjalankan program transmigrasi. Pada tahun 1997, banyak masyarakat Jawa, Bali, Sumatra dan Nusa Tenggara Timur menanggungkan hidup di daerah Wiwirano, dekat perbatasan Sulawesi Tengah. Warga transmigrasi itu disediakan lahan untuk menggarap perkebunan dan pertanian untuk keberlanjutan hidup mereka. Mereka diberikan tanah dengan luas 0,5 sampai 3 hektar.
Nanti pada tahun 1999 perusahaan perkebunan, PT. Perkebunan Nusantara XIV mulai menginisisasi membuka lahan perkebunan sawit. PT. PN XIV merupakan perusahaan negara, BUMN, yang bergerak dalam pemberdayaan pertanian, perkebunan dan peternakan, dengan bidang usaha meliputi komoditi tebuh, kelapa sawit, karet, kelapa, dan ternak sapi.
Melalui pemerintah, warga kemudian menyediakan lahan-lahan yang ada untuk digarap dan ditanami oleh perusahaan perkebunan. Sementara itu, bank Agro (bank BRI) sebagai penyedia pinjaman modal. Besaran pinjaman warga kepada bank Agro kala itu berkisar 13 juta/1 hektar. Saat itu masyarakat Wiwirano, dari beberapa informasi yang saya himpun, hanya mengetahui besaran utang saja, tanpa ada perincian secara jelas.
PT. PN XIV dalam perjanjiannya, semua kegiatan, mulai dari pembukaan lahan, penanaman, pemupukan, perawatan serta pemanenan hasil dilakukan oleh perusahaan sendiri. Perusahaan juga berjanji akan mendirikan pabrik. Warga saat itu hanya dijanjikan menunggu hasil, dalam artian menunggu pembayaran lahan. Selebihnya dari hasil panen itu, perusahaan melakukan pemotongan untuk pembayaran utang pada bank Agro.
Itulah awal perjanjian masyarakat dengan perusahaan PT. PN XIV yang dikemudian hari justru tidak ditepati bahkan dilanggar. Perusahaan perkebunan hanya menanam, dipelihara dan dibiarkan berbuah. Tetapi perusahaan tidak bisa memanen hasil sawit karena pabrik belum tersedia. Akibatnya buah sawit itu rusak dan membusuk dipohon. Para petani kemudian melakukan demonstrasi dan perlawanan, menuntut perusahaan agar menepati janjinya. Sebagian para aktivis masyarakat saat itu dipenjarah. Ini adalah bagian dari kelicikan perusahaan, kata Abdul Rahmat Badwin, seorang aktivis petani sawit Wiwirano.
Abdul Rahmat Badwin merupakan seorang aktivis petani sawit di desa Tetewatu, kecamatan Wiwirano. Ia merupakan mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di Kalimantan Timur tahun 1990. Di Wiwirano, ia bersama teman-temannya, terus memperjuangkan hak-hak petani yang selama ini diabaikan oleh perusahaan PT. PN XIV.
Ia terus menentang perusahaan perkebunan, agar hak-hak petani sawit dapat diberikan. Dengan usia yang sudah tergolong tua, semangatnya masih berkobar. Bahkan ia pernah membubarkan sebuah musyawara, lantaran tidak ketemu kesepakatan dengan pihak perusahaan. Idealismenya masih tinggi. Ia sama sekali tidak tergiur ketika ditawarkan jabatan dan sejumlah uang.
Saya pernah didatangi oleh seseorang, menanyakan saya mau jadi apa. Ditawarkan uang pun tidak akan menerimanya. Bagi saya itu suatu ketelodoran, sama halnya kita menjual idealisme. Itu juga akan menyakiti masyarakat yang lain. Saya memilih untuk menjadi petani. Semua ini adalah kodrat dari yang kuasa. Jika kita menentang, tidak mau menerima, berarti sama halnya kita melawan kehendak yang kuasa. Saya tidak pernah menyesal dengan keputusanku. Dengan menjadi petani, maka saya bebas, saya merdeka dan menjadi diriku sendiri, kata Abdul Rahmat Badwin dengan penuh semangat.
Namun demikian, memang tidak selalu muda menyelesaikan persoalan ketika berhadapan dengan kekuasaan perusahaan. Sudah lebih dari 10 tahun ia terus menyuarakan hak-hak petani, melalui dialog dan juga demonstrasi. Semua tanpa hasil, nihil. Perusahaan selalu memiliki banyak akal, mengamankan aktivis (para mahasiswa) dengan diberikan uang amplop, kemudian dibantu aparat kepolisian dan pemerintah setempat.
Banyak yang ikut membantu kami, kata Abdul Rahmat, termasuk para aktivis mahasiswa di Kendari. Tapi suara mereka seperti putus ditengah jalan, dibungkam. Setelah kita telusuri, ternyata para aktivis mahasiswa itu diamankan oleh perusahaan dengan diberikan  amplop. Dari situ, maaf, kami tidak lagi mempercayai aktivis mahasiswa, ungkap Abdul Rahmat B. saat memulai mencoba menjelaskan.
***
Sebelum warga transmigrasi mendiami, Wiwirano sebagai daerah setengah belantara. Hutan masih lebat, sementara penduduk lokalnya belum terlalu banyak. Semua orang bisa memulai hidup baru di Wiwirano, termasuk seorang pembunuh dan perampok sekalipun. Warga transmigrasi kemudian bermunculan sekitar tahun 1997-1998. Saat itu, tanah Wiwirano menjadi tanah emas bagi para pengusaha perkebunan sawit. Ini merupakan suatu keajaiban bagi tanah Wiwirano, diprediksi menjadi suatu kebangkitan masyarakat setelah masuknya perusahaan perkebunan sawit pada tahun 1999.
Tetapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Wiwirano berubah menjadi daerah yang penuh dengan ketidakwarasan. Berubah menjadi tempat yang aneh, miskin dan terbelakang. Yang kaya dan yang banyak tanah hanya mereka para kepala desa dan kroni-kroninya. Sementara petani yang mempunyai lahan 0,5 sampai 3 hektar, masih menjadi sampah ketidakdilan bagi perusahaan. Para petani itu, telah diperlakukan semena-mena oleh pihak perusahaan perkebunan PT. PN XIV.
Itulah yang saya dengar, yang saya lihat, kemudian saya himpun, setelah bertemu dan berdiskusi dengan warga Wiwirano. Pemerintah kabupaten dan desa, perusahaan beserta penguasa-penguasa tanah dengan asyiknya ber-tango diatas karpet, yang mencoba menyembunyikan debu kemiskinan (Budiman Sudjatmiko, buku: Anak-anak Revolusi 2). Jeritan mereka tidak terdengar, tersumbat oleh kehidupan yang semakin susah dan menghimpit. Kesusahan begitu  membelenggu, kelaparan semakin menusuk-nusuk perut, para petani terus bekerja mencoba mempertahankan hidup.
Dari situ, banyak warga yang tidak tahan dengan penderitaan itu. Sawit mereka selama bertahun-tahun tidak bisa mendapatkan uang satu rupiah pun, dibiarkan membusuk dipohon. Saat panen hasil tiba, masyarakat bingung kemana sawitnya akan dijual. Janji perusahaan membangun pabrik tidak pernah terealisasi. Para petani kadang menjualnya di Sulawesi Tengah, tetapi terkendala pada infrastruktur jalan. Itupun dengan resiko, berhadapan dengan preman perusahaan.
Jalanan saat itu sangat rusak bahkan berhari-hari kami bermalam, itupun sawit kami sudah membusuk sebagian. Kadang juga kami dilarang dan ditahan sama pihak perusahaan agar tidak menjual sendiri diluar daerah. Kami rugi besar, ungkap pak Umar setengah terbata-bata.
Yang tidak tahan dengan penderitaan, para petani lalu menjual kebun sawit yang ditangani oleh perusahaan (sawit plasma), lalu memilih pergi meninggalkan Wiwirano. Mereka kembali dikampung halaman atau pergi merantau di kota mencari kerja informal, menjadi buruh. Para petani itu tidak bisa menggarap pertanian yang lain karena keterbatasan lahan yang ada. Mereka betul-betul dibuat jatuh miskin.
Bertani yang lain pun kami tidak bisa. Kami tidak mempunyai banyak tanah. Tanah kami yang disediakan oleh pemerintah hanya 0,5 sampai 3 hektar. Itupun semua ditanami kelapa sawit oleh perusahaan. Banyak petani yang memilih pergi meninggalkan Wiwirano, karena tak ada lahan. Berharap sama hasil kelapa sawit susah, harganya sangat murah. Dulu Rp. 1.200, sekarang tinggal Rp. 950,00 sampai Rp. 750, 00. Belum lagi perusahaan melakukan pemotongan hasil dan keterlambatan melakukan pembayaran. Dulu janjinya setiap satu bulan, sekarang sudah tiga bulan perusahaan belum membayar, ungkap pak Sukrani, seorang transmigrasi asal Jawa.
Beberapa hari di Wiwirano, Konawe Utara, saya bertemu dengan banyak kemalangan. Sejak pertama menginjak tanah itu, terlihat hamparan tanaman kelapa sawit yang cukup luas, berjumlah 2.500 hektar. Pikirku, warga disini hidup lebih sejahtera. Jumlah itu ternyata tidak membuat kehidupan mereka beranjak pada kebaikan hidup, tetapi justru malah hidup serba susah. Petani sawit tidak berdaulat atas harga sawitnya. Harga sawit dipatok para tengkulak dengan harga Rp. 750,00. Hal itu merupakan salah satu alternatif agar hasil sawit mereka tidak membusuk dipohon. Jika menjualnya ke pabrik kelapa sawit, para petani sawit tidak mampu membiayai ongkos transportasinya.
Semua itu bermuara pada penghasilan yang pas-pasan. Bahkan sama sekali tak cukup hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Belum lagi kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit. Hasil sawit petani harganya dipotong dengan alasan pembayaran utang. PT. PN XIV hanya datang menagih/meminta ke masyarakat. Pada hal menurut Abdul Rahmat Badwin, yang merawat kelapa sawit petani sendiri. Perusahaan tidak lagi mengurus, tidak merawat dan tidak ada perlakuan sama sekali.
Yang menjadi kegelisahan Abdul Rahmat yaitu terkait dengan utang para petani. Ia mempertanyakan, mengapa utang petani tidak pernah lunas, pada hal sudah 15 tahun lebih. Selama dua tahun petani sawit berhenti membayar, tetapi perusahaan perkebunan kembali muncul melakukan penagihan.
Ini aneh. Perusahaan perkebunan ini memang nakal. Sepertinya ada yang dilindungi. Ia mencoba menggunting dalam lipatan, ungkap Abdul Rahmat Badwin.
Saya membayangkan, apa yang terjadi kepada masyarakat petani sawit Wiwirano adalah bagian dari eksploitasi. Mereka tak ubahnya seperti para pekerja rodi di zaman kolonial. Bukan saja dimiskinkan tapi dibuat bodoh. Para petani sawit itu, secara sadar dan tidak sadar mengemis pada tanahnya sendiri. Sawit telah berubah menjadi air mata. Sementara perusahaan perkebunan berdiri pada singasana bisnisnya, meraup ber-miliyar-miliyar keuntungan.
Terakhir, saya ingin mengutip pernyataan Abdul Rahmat Badwin;
“Perusahaan perkebunan ini adalah perusahaan negara. Dan kami juga adalah anak-anak negara. Tapi lihatlah, apa yang diperbuat oleh negara kepada masyarakatnya!”

                                                                                    Wiwirano, 2017
                                                                                    Laode Halaidin

26 Agustus 2017

Anggun Kekasihku

Sumber Gambar: Pixabay

Wahai angin, sampaikanlah salamku kepada permatahatiku
Tanyakan padanya, apakah dia mau berjumpa denganku?
Apakah dia mau menyatu bersamaku dengan cinta?
Aku rela berkorban demi kebahagiaan dirinya
Hingga disini terlunta-lunta, sengsara bersama kepedihan

Wahai awan pagi yang indah dan cerah
Maukah engkau menyampaikan kata cinta kepada pujaanku!
Berikanlah bunga-bunga yang semerbaknya mewangi
Hingga menembus hati yang tertutup rapat
Bukalah pintu hatinya, lalu
sampaikanlah dahaga cinta yang memenuhi hatiku

Wahai bulan yang memiliki ratu segala keindahan
Berikanlah cahaya rembulan kepada pujaanku
Aku tak ingin ia berada dalam selubung kegelapan,
ditelan bumi terlelap selamanya
Aku ingin melihatnya lebih cerah, ceria, bangkit
Mengangkasa bersama pusaka kecantikannya

Aku merindu disini, wahai pujaanku
Gelora cinta memenuhi sanubariku
Duhai Anggun, dengarkanlah bisikan hati ini
Sudikah engkau menjadi kekasihku?
Aku telah melepaskan ke‘aku’anku, untuk menjadikan kita satu
Betapa pedih hatiku jika aku tak memilikimu
Membuatku tak kuat lagi menanggung beban kehidupan ini
Andai kau tahu
Aku begitu tulus mencinta

Wahai kesedihan yang membelenggu jiwa
Janganlah engkau lilitkan kesengsaraan didalam tubuh dan hatiku
Sudah-sudahlah engaku putuskan pengharapanku akan cinta
Aku sudah begitu remuk, redup
Hinggah bertali-tali kemalangan hidup menimpahku

Kekasihku, taukah engkau….
Sejak bertemu denganmu semua terasa berubah
Engkau laksana dewi dalam gelimang cahaya, yang memancarkan keharuman bunga surga
Kecantikanmu, membahagiakan hati yang memandang
Parasmu selalu muncul dalam pandangan
Siang maupun malam, aku selalu mengingat namamu

Duhai kekasihku, hanya engkaulah pengobat jiwa dan penawar kalbuku
Tubuhkan yang mulai lenyap, mencoba bangkit
Melintasi padang pasir yang tandus
Mata yang kering dan gelap, kini mulai terang
Mencoba mengepakkan sayap-sayap yang patah
Terbang melampaui cakrawala yang biru
Aku tak kemana, duhai pujaanku
Hanya menuju pengabdianku
Cinta sucimu

Duhai embun pagi, muarakanlah dahagaku
untuk mengairi ladang-ladang cinta yang telah lama mengering
Bukalah gerbang hatinya yang tertutup rapat
Sampaikanlah dengan lembut salamku

Sampaikanlah pesanku ini;
Aku merindu ingin disampaingmu
Duhai Anggun, terimalah hati yang tulus-bersih ini
Engkaulah semangatku, mencari keberuntungan hidup
Di bawah tanah, aku bagai benih dan engkaulah musimnya
Di atas bumi, aku bagai akar dan engkaulah pohonnya
Hanya bersama, kita dapat berdiri tegak
melawan pusaran badai

Wahai Anggun, pujaan hatiku….
Mari minum bersamaku cawan kehidupan
Akan kuisikan anggur dalam gelas agar kita menyatu
Dalam dirimulah segenap angan-anganku terbentang luas
Bersamamu mengarungi lautan
Menuju keabadian cinta

Tahukah engkau, bahwa hadirmu adalah mimpiku
Aku begitu mencintamu
Demi rasa cintaku yang begitu mendalam
Aku rela berjalan dipadang pasir tanpa air, panas dan tandus
Demi mencari kebahagiaan kita
Wahai pujaanku, marilah kita genggam bersama
asa kehidupan
Aku ingin menjadi bagian hidupmu dan
kamu bagian hidupku
Kau akan menjadi awal dan akulah akhir
Bersama
Selamanya

                                                                                 La Ode Halaidin
                                                                                Kendari, 27 Agustus 2017

10 Agustus 2017

Zaman Topeng

Sumber gambar: Pixabay

Setiap zaman terus berubah. Generasi pun demikian. Generasi yang pertama muncul apa yang disebut dengan generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964. Kedua, generasi X, yang lahir 1965-1980. Ketiga, generasi Y alias milenial, lahir 1981-1994. Keempat, generasi Z, yang lahir 1995-2010. Dan kelima, kita juga akan kelahiran generasi baru bernama generasi Alpha, yang kelahirannya tahun 2011-2025.

Setiap generasi yang lahir selalu berevolusi. Generasi yang paling terkenal dibahas saat ini adalah munculnya generasi Z. Tetapi sebelum itu, kita kelahiran generasi Y alias milenial, yang mana generasi ini juga terkenal karena merasakan atau telah melewati masa milenium kedua.
Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam dunia yang serba cepat. Taknologi, bagi generasi Z adalah dunianya. Mereka dikenal sebagai generasi yang melek teknologi. Dalam kehidupannya, generasi Z dapat melakukan berbagai hal dengan sangat muda dan cepat seperti bersosialisasi, dan mengontrol jalannya pemerintahan lewat media sosial. Atau bisa melakukan hal lainya yang bisa berpengaruh terhadap ekonomi, politik dan sosial.
Di Indonesia, zaman ternyata terus mengalami perubahan. Dimasa kerajaan, kita mengenal dengan nama zaman Kutai. Zaman ini merupakan zaman yang pertama kali menampilkan nilai-nilai sosial politik dan ketuhanan. Setelah itu, ada zaman Sriwijaya yaitu sebuah zaman yang ingin membangun cita-cita sebuah Negara yang adil dan makmur.
Kemudian munculah zaman-zaman lainnya seperti zaman kerajaan sebelum Majapahit, zaman kerajaan Majapahit, zaman penjajahan dan zaman merebut kemerdekaan.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, dimana Negara dipimpin oleh presiden Soekarno, munculah sebuah zaman yang disebut zaman Orde Lama. Lalu, di bawah rezim kepemimpinan Soeharto, di Indonesia kemudian muncul sebuah zaman baru, bernama zaman Orde Baru.
Tetapi kekuasaan itu ternyata tidak abadi, tapi fana. Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto berhasil dijungkalkan dari kekuasaannya 21 Mei 1998. Zaman Orde Baru tumbang. Lalu, dengan semangat reformasi, banyak kalangan saat itu menginginkan sebuah zaman dengan harapan dan perubahan baru. Zaman itu (sampai saat ini masih disebut) sebagai zaman reformasi.
***
Tetapi sebelum itu, di zaman Orde Lama, Soe Hok Gie pernah menyinggung tentang manusia-manusia baru. Ia sama sekali tidak menyinggung tentang lapisan atau generasi baru, tetapi manusia-manusia baru. Dalam buku Daniel Dhakidae “Menerjang Badai Kekuasaan” Soe Hok Gie menyebutkan, mereka yang saat itu lahir setelah kemerdekaan─disebut manusia-manusia baru adalah mereka yang mengalami sesuatu yang baru, harapan baru, pengalaman politik dan sosial baru dan semangat baru yang mungkin menjadi keprihatinan dan ketakutan baru pula.
Pemikiran Soe Hok Gie itu tentu bukan hanya sekadar teori. Hal itu merupakan fakta pahit yang ia saksikan, tetapi tentu dengan kritikannya. Dibalik yang serba baru itu, kekuasaan ternyata tidak mengandung kebaruan. Ia justru banyak menemukan kepingan-kepingan fakta keruntuhan demi keruntuhan.
Kekuasaan Soekarno pasca proklamasi kemerdekaan ia anggap sebagai kebijaksanaan politik kemewahan dan kesewenang-wenangan. Korupsi bermain dilingkar istana, sementara rakyat diluar hidup melarat, bahkan ada yang kelaparan lalu memakan kulit mangga. Orde Lama, tak lain adalah sebuah harapan baru yang menjelma menjadi sebuah ketakutan baru pula.
Setelah jatuhnya Orde Lama, banyak pihak yang lalu kemudian menunggu sebuah zaman baru dengan harapan baru. Soeharto saat itu mengambil alih kekuasaan dengan zaman baru, yakni sebuah zaman Orde Baru. Tetapi dalam perjalanannya, zaman ini ternyata bukanlah obat mujarab, tetapi justru mengekang rakyat dengan hukum yang sewenang-wenang.
Orang-orang yang kritik terhadap pemerintahannya ia penjarakan bahkan diculik dan dibunuh. Ia mencoba bertopeng dibalik pancasila. Dengan dalih pelaksanaan pancasila secara murni dan konsekuen, maka setiap warga tidak boleh ada tafsir yang berbeda dan mengkritik. Yang berbeda pandangan, dianggap sebagai penghianat pancasila, subversif dan makar terhadap pemerintahan yang sah.
Pemerintahan Soeharto berusaha memaki berbagai instrument terhadap pancasila, untuk terus melanggengkan kekuasaannya. Pengelolaan Negara terlihat sangat sentralistik bahkan otoriter. Budaya KKN mengakar dan terjadi dari level bawah hingga di pucuk kekuasaan. Kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah serta antara kaum kaya dan miskin sangat menganga lebar.
Pada titik ini, zaman Orde Baru justru tidak mendatangkan sebuah harapan dan perubahan baru. Ia justru berubah dengan wajah yang sangat seram dan menakutkan rakyat banyak. Zaman dengan harapan dan perubahan baru itu, ternyata hanyalah menjadi sebuah keprihatinan dan ketakutan baru pula.
Lalu, bagaimana dengan zaman reformasi?
Zaman ini bagi sebagian orang, dianggap sebagai zaman ‘juru selamat bangsa.’ Di zaman reformasi ini kita dapat menemukan suatu keterbukaan baru, pasar baru, birokrasi dengan model kerja baru, kapitalisme baru dan semua yang baru-baru. Rakyat dijanjikan dengan ruang yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam memajukan negeri.
Juga atas nama demokrasi, rakyat berhak memilih pemimpinnya yang baru, wakilnya yang baru dan juga semua yang baru-baru. Rakyat juga seringakali dijanjikan dengan surga-surga yang baru pula. Entah surga yang seperti apa!
Dari semua kebaru-baruan itu, bangsa ini sepertinya jalan ditempat. Zaman berubah tetapi kelakuan manusianya tidak berubah. Bangsa ini memiliki banyak pengalaman sosial, ekonomi dan politik yang pahit, tetapi para pengambil kebijakan hanyalah berpangku tangan, sambil menunggu datangnya keajaiban. Hasilnya jelas nihil. Dan petani bangsa kita tetap dalam kungkungan kemiskinan.
Rakyat miskin seperti sedang melihat sebuah parade pertunjukan topeng. Ada yang bertopengkan emas dengan jabatan, yang ketika berjalan diluar, dimuka umum memiliki niat baik, hatinya suci dan bersih, tetapi dilingkungan kelompoknya berhati busuk. Mereka kadang bekerjsama, kongkalingkong dengan pengusaha untuk menjarah uang rakyat.
Ada juga yang bertopengkan hitam, tetapi setia kepada bangsanya. Ia hendak menumpas banyak kejahatan yang terjadi, termasuk kepada orang-orang yang bertopeng emas. Topeng hitam hendak memberangus mereka yang menghianat kepada cita-cita bangsanya. Ia hanya menginginkan bangsanya bebas dari korupsi dan kemiskinan. Namun bagi topeng emas, topeng hitam adalah musuh besar utama. Ia harus dilenyapkan karena menganggu gurita yang sedang lapar, untuk melahap uang rakyat.
Seperti inilah pertunjukan di Indonesia. Indeks korupsi di bangsa kita, hampir memuncak. Lalu, lihatlah kinerja para birokrasi pemerintah kita dari tingkat pusat, daerah/kota dan desa. Dari para menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, hingga kepala Desa terjerat korupsi. Lihatlah wakil rakyat kita yang hanya pandai bersilat lidah, lapor-melapor dan bertengkar di media sosial, tetapi sangat minim dengan hasil kerja. Baru berapa Undang-undang yang diselesaikan selama hampir tiga tahun ini!
Lihatlah para penegak hukum kita; polisi/TNI dan para Hakim. Lihatlah partai politik, baik yang berideologikan islam maupun nasionalis. Lihatlah para politisi yang sering wara-wiri di media sosial. Mereka seperti bak pendekar penumpas kejahatan yang ingin menyelamatkan bangsanya. Tetapi dibalik itu, mereka sepertinya ingin memberangus orang-orang miskin dari kehidupannya.
Zaman reformasi ini, tak ubahnya hanyalah metamorfosis dari zaman-zaman sebelumnya. Korupsi kian menyubur, partai hanya unjuk gigi untuk merebut kekuasaan, wakil rakyat bermain-main dengan uang rakyat, pemerintah pusat sibuk dengan agenda sendiri di pulau Jawa dan Sumatra, APBN/APBD dibagi-bagi dengan menciptakan berbagai proyek, tanah dirampas bekerjsama dengan para pengusaha. Semua bertopeng atas nama agama dan nasionalisme, demi pembangunan dan kesejahteraan.
 Soe Hok Gie memang benar. Zaman yang diyakini bisa membawa harapan dan perubahan yang lebih besar, ternyata berubah menjadi sebuah keprihatinan dan ketakutan baru pula. Prihatin saat menyaksikan keruntuhan demi keruntuhan ini. Dan takut, saat melihat kemiskinan kian membelenggu rakyat. Lalu apa lagi!
***
Saat ini, rakyat memang hidup di zaman topeng. Ini tidak bisa dinafikan lagi. Kita disuguhkan dengan dua pendekar yang bertopeng, seperti yang saya sebutkan diatas. Satu pendekar topeng hitam, yang identik dengan ilmu hitam untuk menebar kejahatan. Kedua, pendekar topeng emas, yang identik dengan golongan putih penumpas kejahatan.
Namun, taukah mana pendekar yang berjubah dibalik topeng itu! Pengalaman mengatakan, kejahatan dan niat busuk selalu bersembunyi dibalik topeng kebaikan, bertopengkan emas. Ia hanya pandai beretorika, menebar janji-janji untuk kemaslahatan umat. Pendekar topeng emas juga pandai menebar pesona, lalu menarik perhatian banyak orang. Ia dianggap baik dan pintar, bisa mensejahterakan rakyat miskin. Tetapi dibalik itu, ia hendak menggusur orang-orang miskin, melenyapkan mereka yang dianggap menghalangi.
Sementara topeng hitam, hanyalah orang biasa. Ia sama sekali tidak doyan jabatan dan tidak punya jabatan. Ia juga tidak menginginkan sebuah kekayaan. Ia bertopeng hitam hanya karena tidak ingin dikenal rakyat banyak, bahwa sebenarnya ia hendak menumpas kejahatan. Orang-orang seperti pendekar topeng hitam, adalah mereka yang menyusuri jalan sunyi dan terjal demi membumikan kemaslahatan umat.
Kita menyaksikan zaman reformasi berubah, menjadi sebuah zaman topeng. Orang-orang yang berniat busuk selalu bersembunyi dibalik topeng emasnya. Sementara orang-orang yang berniat baik, demi menjaga bangsanya, mereka menggunakan topeng hitam. Bukan ia memiliki ilmu hitam lalu menebar kejahatan, tetapi ia hanya tidak ingin disanjung, disebut pahlawan. Ia hanya mendedikasikan dirinya untuk bangsanya. Baginya, kesejahteraan bangsanya adalah nyawanya yang harus ia pertaruhkan.
Zaman topeng adalah zaman yang penuh dengan tipu-daya muslihat kebaikan.

                                                                                L. Halaidin
                                                                              Kendari, 11 Agustus 2017