Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

16 September 2016

Mari Bicara Serius Kawan

Bisakah kita membicarakan yang lebih penting dikehidupan ini. Jika berbicara mengenai kemewahan, popularitas, Kekayaan saya tak bisa menjangkaunya. Jika kita berbicara mengenai pangkat, pekerjaan dan kedudukan atau sekolah yang lebih tinggi lagi, saya tak bisa menjangkaunya juga. Saya hanya penambal ban dijalanan sana, pembaca kesepian yang terkurung dalam kamar kecil, seorang pejalan yang terlempar (keterlemparan dalam bahasa Martin Heidegger) dalam kesunyian ( kesunyiannya dalam bahasa Gabriel Garcia Marquez).
Mari kita bicarakan sesuatu yang penting, ditengah kabut kehidupan yang gelap ini. Bicara mengenai kamu, diriku dan dunia. Bicara mengenai semesta, yang keberadaannya terhuyung oleh gelombang ketidakberdayaan. Bicara mengenai ekonomi_politik biar kita seolah-olah seperti intelektual (bahkan kiri dan kanan), yang dianggap progresif dan anti progresif.
Aku adalah aku yang tiada. Aku ingin berada diantara kamu dan kita semua. Bahkan akupun tak ada, aku ingin ada. Ada yang menginginkan sebuah revolusi.
Bukankah langit terang datang, setelah badai berlalu!

                                                                                                  La Ode Halaidin

03 September 2016

Kisah Nura Lam dan Istana Kacanya (1)

ilustrasi dari: travel.detik.com
Kita mungkin perna membaca sebuah buku “Istana Kaca”, buku karya Jeannette Walls. Dalam kisahnya yang kelam itu, ia menceritakan kehidupan keluarganya yang penuh dengan pertualangan. Buku itu merupakan sebuah kisah nyata. Keluarga Jeannette Walls, ayah dan ibunya beserta dua adiknya hidup berpinda-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka hidup nomaden di daerah Nevada, Arizona, California, San Fransisco hingga Las Vegas.
Sejak kecil Jeannette bersama dengan keluarga tinggal disebuah kota di Nevada yang kaya akan pertambangan. Ayahnya kemudian tdak menyukai daerah itu, lalu ia memilih berpetualang meninggalkan kota tersebut. Baginya hidup di kota itu seperti hidup dalam sebuah penjara para mafia. Banyak para korup, bandit-bandit yang ingin mengakumulasi kekayaan untuk memperkaya diri mereka sendiri. Ayah Jeannette lalu lebih memilih pergi dan bertempat tinggal di sebuah daerah yang sunyi dan damai.
Dalam perjalanan yang terus berpindah-pindah itu, ayahnya selalu bermimpi untuk membangun sebuah istana kaca. Dengan keterampilan yang dia miliki, ia mencari sebuah daerah yang kaya, lalu berharap menemukan emas untuk membangun istana kacanya. Namun harapan itu, tinggal harapan, impian itu tinggal impian, tak pernah membangun sebuah istana kaca. Ia terjerumus dalam hidup yang mabuk-mabukan dan perjudian. Namun Jeannetta Walls, menemukan arti rumah istana kaca yang sebenarnya. Mereka membangun rumah ditempat yang sepi, penuh hutan-hutan yang menyediakan banyak oksigen. Menurut Jeannetta, istana kaca yang sebenarnya, yang berdiri megah tidak akan pernah terwujud, tidak akan pernah ada. Ia, lalu mengartikan rumah istana kaca adalah tempat yang sepi, nyaman, bebas dari para mafia tambang dan koruptor.
Istana kacanya yang dimaksud itu ada ditengah-tengah hutan, dirumah gubuknya yang reyot namun bebas meliarkan pikiran. Itulah istana kaca sebenarnya yang dianggapnya. Hidup ditengah-tengah kesunyian yang dapat meliarkan pemikiran, bukan hidup ditempat yang kaya namun penuh bandit-bandit yang menimbulkan kemelaratan sosial.
Mereka lebih memilih kegelapan, karena seperti yang dikatakan Dylan Thomas bahwa kegelapan itu adalah jalan sementara cahaya adalah tempat. Ibunya pernah mengatakan bahwa kehidupan adalah drama yang penuh tragedi dan komedi “kau harus belajar untuk sedikit lebih menikmati episode-episodenya yang menggelikan” kata Ibunya. Untuk itulah mereka lebh memilih terus berpetualang, berpindah-pindah tempat demi menemukan sebuah tantangan.
Itulah kisah heroik mereka. Menghindari kenyamanan adalah sebuah kehidupan. Baginya, kekayaan daerah yang mereka tinggali tidak akan penah menguntungkan. Kenyamanan hanya buat mereka yang cengeng, kata Ayahnya disuatu waktu. Mereka tidak memanfaatkan daerah yang kaya tambang untuk membangun istana kacanya. Mereka menemukan sebuah alam yang damai, yang tidak ada eksploitasi disitu, yang menyediakan oksigen yang dihirup setiap waktu. Istana kaca itu, berupa rumah gubuk yang terbentang ditengah-tengah alam yang damai, alam yang penuh dengan keliaran.
***
Lain kisah Jeannette Walls, lain kisah Nura Lam seorang lelaki yang hidup di daerah yang masih miskin penduduknya. Daerah yang ditinggalinya belum berkesejahteraan dengan baik, namun memiliki sumber kekayaan alam yang sangat melimpah, terutama kaya akan tambang.
Nura Lam adalah seorang lelaki yang punya cita-cita tinggi, bekerja keras dalam mewujudkan impiannya. Ia ingin menjadi pemimpin/penguasa di daerahnya di suatu waktu. Sewaktu mahasiswa ia hidup sebagai aktivis, suka berdemonstrasi menolak kebijakan pemerintahnya yang tidak pro rakyat. Ia sesekali menjadi parlemen jalanan, berdemonstrasi di ibu kota negaranya untuk menyuarakan ketidakadilan, korupsi yang dilakukan oleh pemerintahan orde baru. Ia juga ikut terlibat dalam gerakan yang menjatuhkan pemimpin otoriter Soeharto waktu itu.
Seiring dengan perjalaan waktu, kehidupan aktivis itu lalu mengubah pandangan hidupnya. Ia mencoba melebarkan pertemanannya, berkenalan dan bertemu dengan banyak orang. Dari mulai para aktivis, politisi─pengusaha, akademisi─pengusaha, sampai dengan para penguasa─pengusaha. Suara yang dulu lantang diperjuangkannya dengan idealismenya yang tinggi, kini sunyi dan tak terdengar lagi. Ia sedang menyusun sebuah agenda untuk membangun sebuah kerajaan bisnisnya, yang lalu akan mengantarkannya menjadi penguasa di daerahnya. Pikiran itulah, yang memengaruhi ideologinya bahwa untuk menjadi penguasa tidak bisa dibangun dengan kerja stempel sebagai aktivis semata. Dari perjalanan itu kemudian dapat merubah pandangannya, bahwa untuk menjadi penguasa ia perlu menjadi pengusaha terlebih dahulu.
***
Nura Lam kemudian menjalani kehidupannya sebagai pengusaha tambang di daerahnya. Ia membangun relasi dengan pengusaha luar negeri untuk mengeksploitasi kekayaan tambang di daerahnya. Hubungan relasi inilah awal kehidupan Nura Lam untuk memulai bermimpi membangun istana kacanya. Sebagai pengusaha tambang, ia mulai mengenal kemewahan dan kekayaan. Baginya saat itu, bahwa kekayaan tanpa kekuasaan adalah sangat mustahil untuk membangun sebuah istana kaca. Itu akan menjadi angan-angan semata, katanya. Ia kini suda mengenal diri sebagai borjuis mapan, yang sebentar lagi akan berebut kekuasaan legislatif di daerahnya.
Namun, apakah mimpi Nura Lam untuk menjadi penguasa hanya sampai di legislatif, anggota DPRD. Tentunya tidak. Ia masih bertekad untuk berkuasa, ingin menjadi penguasa daerah (Gubernur) agar cakupan kekuasaanya lebih luas. Disinilah tekad mantan seorang aktivis ini, ingin mengakumulasi kekayaan lewat kekuasaanya, hingga dapat membangun istana kacanya berpuluh-puluh istana. Istana kaca itu akan dibangunnya bukan hanya di daerah sendiri, namun di daerah yang menjadi ibu kota negaranya, negara Indopetaka. Inilah yang menjadi mimpi-mimpinya sekarang ini.
Bersambung..... (Berlanjut pada kisah ke 2).

27 Agustus 2016

Belajar Dari Kasus Nur Alam

Nur Alam yang saat ini ditersangkakan oleh KPK

NUR ALAM JADI TERSANGKA. Inilah berita beberapa hari ini. Menjadi berita hangat, mungkin boleh dibilang kontroversial di republik medsos. Awal berita yang paling kontroversial mulai dari naiknya harga rokok yang merupakan berita hoax, yang banyak dipelintir oleh para penguasa yang kemudian dijadikan sebagai putusan/kebijakan, sampai dengan pemberian tersangka oleh KPK orang nomor satu di Sultra, Gubernur Nur Alam.
Saat ini khususnya di Kendari memang ada berita kontroversial, yang banyak diperdebatkan oleh para penghuni republik medsos. Apa itu! Penggeledahan ruang kerja Gubernur Nur Alam di kantor Guberur, rumah pribadinya di jalan Wua-Wua, rumahnya yang megah di Jakarta dan kantor dinas ESDM Provinsi Sultra. Semua ikut diperikasa terkait kasus Nur Alam itu.
Pertanyaannya, ada apa gerangan sehingga dilakukan penggeledahan? Yang jelas dibalik tugas-tugas berat mereka sebagai pemimpin, dibalik niat baik mereka sebagai pemimpin, tetap saja ada masaalah dalam sebuah kekuasaan, maksud saya dengan kebijakan yang dibuatnya. Banyak “penyetan” yang kemudian ikut membisiki kuping, pada akhirnya membengkokan niat lurus dengan membuat kebijakan yang salah kaprah. Maksud saya, ada kebijakan pragmatis-transaksional, dengan mengeluarkan kebijakan untuk memperkaya diri sendiri, untuk kolega, relasi bisnis atau mungkin ada niatan untuk memburu rente. Untuk itulah mungkin KPK melakukan penggeledahan.
Kasus yang menimpa orang nomor satu di Sulawesi Tenggara ini memang masuk pada kasus yang besar. Saya tidak ingin menilai nominal seberapa besar yang menjadi kerugian negara, yang dihitung-hitung secara kuantitatif dimana kebanyakan orang menilai. Ini suda menjadi tugas mulia KPK dengan PPATK untuk menghitungnya. Namun dengan itu, penilaian saya hanya pada seberapa banyak orang-orang yang terjerat dalam kasus ini.
Mengapa demikian! Karena Sulawesi Tenggara merupakan daerah yang mempunyai lumbung tambang (bukan lumbung padi ya), yang mungkin juga suda masuk kategori besar di Indonesia. Dalam kasus Nur Alam ada beberapa orang yang disebut-sebut terlibat seperti Bupati Buton dan Bombana dan juga beberapa orang yang lain. Sejumlah nama pun akan ikut diperiksa oleh KPK, termasuk akhir-akhir ini muncul nama wakil Rektor III bidang akademik Universitas Halu Oleo.
Ada banyak perusahaan tambang di Sulawesi Tenggara yang terdiri dari pertambangan nikel, emas, aspal dan batu bara seperti PT. Adaro Energi, PT. Aneka Tambang, PT. Wijaya Kusuma (Wika), PT. Inamco Varia Jasa, PT. Anugrah Harisma Barakah (AHB) dan masih banyak lagi.
Banyaknya perusahaan-perusahaan itu tentu, membuat elit-elit di daerah ikut campur yang hanya sekedar memburu rente. Mereka bisa saja politisi-pengusaha, akademisi-pengusaha atau mungkin juga penguasa-pengusaha. Campur tangan elit-elit inilah yang kemudian mempengaruhi kebijakan seorang pemimpin atau penguasa di daerah. Yang menjadi masaalah, kebijakan yang tidak memuarakannya untuk memakmurkan daerah, tetapi kebijakan yang mempengaruhi yang lalu mengakumulasi kekayaan bersama para elit, lalu membuat daerah terkungkung dengan kemiskinannya.
***
Jangan pernah membayangkan daerah Sulawesi Tenggara itu maju, meskipun tambangnya cukup kaya, banyak. Jika anda pemuja dan pemuji data statistik maka silahkan anda bersorak-sorai, mempunyai kebanggaan yang tiada tara bahwa kita ternyata masuk daerah yang maju atau berpotensi maju, pertumbuhan ekonomi tinggi. Atau mungkin anda ikut merayakannya dengan pesta pora, meletuskan kembang api terbesar seperti yang dilakukan oleh Nur Alam pada tahun baru yang lalu.
Namun coba kita merenungkan nasib masyarakat kita yang jauh dari Ibu Kota Sultra, atau di dekat kota Kendari, tanyakanlah indeks kebahagiaan mereka, tanyakanlah kepuasan mereka, berselancarlah di seluruh pelosok daerah Sulawesi Tenggara. Maka jangan heran jika anda melihatnya dengan “nyingir” mengeluarkan kata “kasian daerah ini” ternyata orang-orangnya masih miskin.
“Kondisinya memang timpang” begitulah konklusi jika saya berdiskusi dengan para pakar atau akademisi di Kendari. Maksudnya pembangunan kita itu tidak merata, tidak menetes ke masyarakat bawah. Perkembangan ekonomi yang digembar-gemborkan oleh pemerintah daerah yang selalu dibanggakan itu ternyata berjalan “di atas bara api”. Kebanggan dengan pertumbuhan ekonomi kita itu “tumbuh diatas penderitaan orang lain”. Yang tersentuh kebijakan itu kelas menengah-atas, bukan kelas menengah-bawah atau kelas bawah.
Untuk itulah perlu suatu paradigma baru dalam membangun daerah. Politik transaksional perlu dihilangkan. Jika susah kita perlu mencobanya secara perlahan-lahan. Pemilu juga perlu diperbaiki, partai politik juga begitu. Jangan sampai kita masih memelihara paradigma lama, bahwa pemilu dianggap hanya sekedar untuk mendapatkan penguasa. Partai politik juga seperti itu, jangan sampai memberi dukungan terhadap calon hanya sekedar untuk menang-menangan saja. Partai politik adalah mercusuar perubahan, maka dari itu dalam menentukan calon harus jeli, disaring sebaik mungkin agar memperoleh kandidat seorang petarung (bukan bertinju), yang mepunyai politik gagasan, berpolitik dengan argumen.
Namun jika tidak, maka siap-siaplah kita menyaksikan kebijakan pragmatis-transaksional, yang akan mempuruk daerah. Tapi tunggu dulu, bicara politik itu tidak melulu bicara kebijakan kecuali sebaliknya.
Jika kita bicara kebijakan, memang mau tidak mau kita akan berbicara politik. Jika kita berbicara tentang politik, jangan disalahtafsirkan dulu karena makna politik itu banyak macamnya: dari politik sebagai seni kemungkinan merebut dan mempertahankan kekuasaan sebagai upaya untuk menanamkan kebaikan, juga politik sebagai ilmu. Kata Aristoteles ini tentu berkaitan dengan kebijakan publik.
Jika kita membaca buku Machiavelli dalam II Principe kita akan menemukan sebuah pengibaratan tentang seorang penguasa dengan kekuasaannya. Dalam buku M Alfan Alfian (Bandit-Bandit Segala Bidang) dia menulis seperti ini: karena seorang raja terpaksa mengetahui cara bertindak seperti binatang, ia meniru rubah dan singa: karena singa tidak dapat membela diri sendiri terhadap perangkap, dan rubah dapat membela diri terhadap srigala. Karena orang harus bersikap seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap, dan seperti singa untuk menakuti srigala.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa seorang politisi penguasa yang hanya bersikap seperti singa adalah bodoh. Sehingga seorang penguasa yang bijaksana tidak harus memegang janji karena dengan demikian ia hanya merugikan diri sendiri, dan karena alasan yang mengikat tidak ada lagi.
Lain Machiavelli, lain seorang filosof Immanuel Kant yang menyebut adanya dua binatang dalam tiap diri politikus yaitu ular yang ada di dada kiri dan burung merpati di dada kanan. Ular menyimbolkan kelicikan, tetapi jahat. Ular itu sangat lincah, bisa bergerak kekiri dan kekanan semua bisa diembat. Sedangkan burung merpati menyimbolkan ketulusan dan kejernihan hati nurani.
Politisi dalam pengibaratan seperti Immanuel Kant ini selalu bimbang: mau licik seperti ular atau tulus seperti merpati. Namun politisi bisa berbadan ular berkepala merpati atau bisa berkepala merpati berbadan ular.
Tetapi, tentunya saya tidak mengibaratkan Nur Alam seperti seorang politisi dalam pengibaratan dua binatang diatas. Gubernur Nur Alam adalah pemimpin yang mempunyai hati nurani, bukan sosok seperti ular seperti yang diibaratkan oleh Immanuel Kant atau singa seperti yang di contohkan oleh Machiavelli. Ia seorang penguasa yang mempunyai tugas berat untuk memakmurkan masyarakatnya.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan pemimpin kita, Gubernur Nur Alam yang hari ini sedang ditersangkakan oleh KPK. Jika memang terbukti, maka ini bagian dari pelajaran kita sebagai generasi saat ini. Nur Alam hanya akan menjadi masa lalu.

                                                                                     Kendari, 27 Agustus 2016
                                                                                     La Ode Halaidin

16 Agustus 2016

Ayo Merdeka, Sekali Lagi Merdeka!

ilustrasi

Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi rumah salah seorang sahabat. Dari jauh saya melihat ada beberapa bendera merah putih yang dikibarkan dengan menggunakan bambu dan kayu-kayu. Wajar saja jika bendera bertebaran karena kita tengah memperingati hari proklamasi kemerdekaan tepatnya tanggal 17 Agustus. Setiap sekali setahun kita memperingati hari kemerdekaan ini, menghormati dan mengingat para pahlawan kita yang gugur dalam memperjuangkan Indonesia dari penjajah kolonialisme dan imperialis.
Saya kemudian mengatakan kepada sahabat itu; saya bilang, ternyata bendera disini banyak sekali! Lalu sahabat itu langsung menangkap cepat kata-kata saya itu; iya, ini kan 17 Agustus, hari proklamasi kemerdekaan, kita harus memperingatinya. Kita harus merayakannya, kita harus bangga dan itu pertanda kita punya nasionalisme.
Mendengar jawaban sahabat itu saya terdiam sejenak. Iya juga ya. Tapi apakah logis jika kita memasang bendera, merayakan dan memperingati yang kemudian membumbuhi tanda bahwa kita punya nasionalisme!. Saya memang tidak memasang bendera karena tak ada kamar, dan tempat tinggal. Tapi jangan menganggap bahwa saya tidak nasionalis. Saya hidup dengan melalangbuana, dari kamar teman ke kamar teman, dari rumah sahabat ke rumah sahabat lainnya. Masa saya harus memasang bendera di jalanan sana lantaran saya, punya nasionalisme yang tinggi. Tetangga rumah sahabat saya pun tidak memasang bendera. Boro-boro katanya memasang bendera, bendera kan hanya bagian dari nasionalisme simbolik belaka. Saya punya nasionalisme, tapi bukan dalam artian dengan hanya memasang bendera.
Saya kemudian mengajukan pernyataan ke sahabat itu; jika kamu ingin mengetahui nasionalisme seseorang, tidak bisa hanya dengan mengibarkan bendera didepan pagar rumah. Itu absurd Bung. Kamu ingin mengetahui nasionalisme saya! Nasionalisme saya itu ada dihati dan pikiran saya sendiri, bukan ditunjukan dengan sesuatu yang simbolik semata. Itu namanya nasionalisme pagaran. Apa penting orang seperti kita yang tidak punya kekuasaan dan uang punya nasionalisme. Kita mau apa! Suda seberapa sering kita melihat tanah-tanah rakyat kecil dirampok dan kita tak bisa berbuat apa-apa. Kita memperjuangkan mereka, tapi akan sampai dimana! Sementara mereka dilindungi oleh negara dengan produk hukumnya. Kita sering dibuat meringis kesakitan karena tak bisa berbuat apa-apa.
Banyak yang mengatakan dirinya nasionalisme, tapi dalam tindakannya justru tidak menunjukan demikian. Proyek diakumulasi untuk kepentingan keluarga, kelompok, kerabat dan mitra bisnis di partai. Tidak percaya! Lihatlah partai-partai, politisinya sering berkoar-koar tentang nasionalisme mementingkan kepentingan dalam negeri, tetapi ikut kongkalingkong berebut proyek, untuk memperkaya diri dan ujung-ujungnya korupsi dan jeruji besi.
***
Perdebatan tentang nasionalisme memang selalu menarik perhatian berbagai kalangan baik cendekiawan, intelaktual, akademisi, dan para politisi. Jika kita tidak pro dengan kebijakan nasional untuk kepentingan dalam negeri, kita akan dianggap lliberal, kapitalis dan mungkin juga dianggap pro Barat. Sebaliknya jika pro, maka kita dianggap nasionalis, pendukung kepentingan dalam negeri. Namun, melihat kelakuan para politisi dan pemimpin kita beberapa tahun terakhir ini. selalu diperhadapkan dengan berbagai paradoksal tentang hal ini. Kepentingan dalam negeri, tapi masyarakat kita tak makmur-makmur, bangsa kita tak besar- besar (hanya wilayahnya yang besar). Pertanyaannya, kepentingan dalam negeri yang seperti apa yang dikedepankan? Jangan-jangan kepentingan itu hanya untuk para elit pengusaha dalam negeri, partai politik dan oknum-oknum tertentu yang selalu mengumbar nasionalisme.
Lalu ada lagi pertanyaan yang mengganjal dalam pikiran, kalau nasionalisme, lalu nasionalisme yang seperti apa? Para bandit juga punya nasionalisme yaitu nasionalisme untuk kepentingan bisnis, memperkaya keluarga dan kolega, kelompok dan juga partai politik di dalam negeri. Bukan untuk kepentingan Barat kan, tapi kepentingan dalam negeri. Lalu buat siapakah kepentingan dalam negeri itu! Buat wong cilik, boro-boro. Masyarakat kecil kita makan saja susah. Kita punya kekayaan alam yang begitu besar, namun dimanakah hasil kekayaan alam semua itu dialirkan!
***
Tulisan ini bukan bentuk propaganda atau doktrinisasi agar sebagian wilayah Indonesia memerdekakan diri. Ini tentunya sangat sulit, karena ada doktrin yang suda melekat dalam darah daging elit dan tokoh politik kita sendiri yaitu NKRI. Tulisan ini hanya bentuk refleksi karena bertepan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia tahun ini. Kemerdekaan yang terlepas dari belenggu penjajahan kolonialis dan imperialisme. Bung Karno bilang; bahwa kemerdekaan saat itu adalah jembatan emas. Ia, bentuk kemerdekaan saat itu hanya ingin terlepas dari belenggu penjajah, bukan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya.
Dari kemerdekaan itulah, saat ini kita membutuhkan kemerdekaan lagi dalam arti yang sesungguhnya. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari ketidakadilan, merdeka dari ketakutan dan merdeka dari bandit-bandit yang terus mengekang dan mengangkangi demokrasi.
Dalam buku M Alfan Alfian Bandit-Bandit Segala Bidang (2016) kita dapat menemukan pencerahan mengapa bangsa ini tidak bangkit-bangkit. Dalam tulisannya itu ia mengatakan bahwa ada tujuh jerat yang membuat bangsa kita sekarang ini belum bangkit-bangkit; pertama, jeratan korupsi, kedua, pragmatisme-kekuasaan dan jalan pintas, ketiga, ketergantungan, keempat, konsumerisme, kelima, feodalisme, keenam, primordialisme dan ketujuh, simbolis-mitologis. Semua ini tentunya akan bermuara pada ketidakmerdekaannya masayarakat kecil kita diakar rumput yang  terus terkungkung pada kemiskinan dan kemelaratan.
Dalam tulisan lain M Alfan Alfian mengutip pendapat Ignatius Wibowo yang mengulas tentang fenomena bandit demokrasi. Dalam buku Ignatius Wibowo itu tentang Negara dan Bandit Demokrasi (2011) ia meminjam tesis Mancur Olson dalam Power and Prosperty (2000). Ada dua jenis bandit yang menyebabkan kemiskinan dan tak kunjung datangnya kemakmuran dalam suatu negara yaitu adanya  roving bandit atau bandit yang mengembara dan stationary bandit atau bandit yang menetap. Satu lagi ditambahkan oleh M Alfan Alfian sendiri yaitu in between bandit atau bandit yang setengah menetap setengah mengembara.
Masih menurut M Alfan Alfian bahwa demokrasi kita bisa kolaps oleh tingkah laku para bandit seperti ini. Ia mencatat pendapat Ignatius Wibowo bahwa roving bandit lebih buas dari pada stationary bandit, meskipun sama-sama berpikiran menjarah, merampas kekayaan negara, roving bandit lebih leluasa, atraktif dalam mengerahkan aji mumpung bahwa mumpung masih berkuasa, ia akan menjarah dengan sepuasnya. Sementara stationary bandit ia menjarah secara pelan-pelan tetapi daya rusaknya tidak kalah mengerikan. Sementara between in bandit ia lebih luwes dalam berpraktik.
Tiga bandit diatas adalah bandit-bandit disegala bidang (meminjam sitilah M Alfan Alfian) yang mebuat masarakat kecil bangsa ini dimiskinkan. Sistem dikangkangi sehingga tidak terjadi perbaikan, politik disandera demi kepentingan kelompok. Hak hidup mereka secara layak dirampas meskipun dalam sistem demokrasi seperti hari ini. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah seperti sinyalemen Hobsbawm bahwa perbanditan akan selalu ada dan berkembang, dengan menjarah dan terus menjarah.
Pada akhirnya kita tidak bisa terus terlelap dalam tidur pulas kita sebagai bangsa. Mental bangsa harus terus diperbaiki dari berbagai penjuru. Saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh presiden Jokowi pada penyampaian sidang MPR kemarin bahwa negara kita bisa menjadi negara yang besar dan maju jika kita bisa keluar dari zona nyaman. Namun kita tidak hanya perlu inovasi namun juga paradigma berpikir yang lalu menghilangkan mental pelancung anak-anak bangsa.
Kita perlu bangun dari keterlelapan kita (meminjam istilah Nurcholish Madjid) “terowongan gelap sejarah”. Demokrasi harus menjadi sistem yang dapat bermuara pada kemakmuran masyarakat kecil dan bukan sebaliknya dikangkangi atau dijadikan sandra untuk mengakumulasi kekayaan. Demokrasi perut (meminjam istilah Ahmad Syafii Maarif dalam buku M Alfan Alfian) perlu dihilangkan karena menjadi politisi bukan sekedar hanya untuk mencari pekerjaan tetapi dengan melayani rakyat. Sehingga dengan demikian kemerdekaan yang sesungguhnya dapat terwujud dan dinikmati oleh masyarakat kecil dibangsa ini.
Ayo merdeka, sekali lagi merdeka!

                                                                                    Kendari, 17 Agustus 2016
                                                                                    Laode Halaidin