Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

11 April 2017

Dari Desa Lakarinta, Menuju Desa Lohia: Menapaki Jejak Kemiskinan dan Potensi Wisata di Pulau Muna

La Ida dan Istrinya
Terik matahari panas menyengat, menembusi kulit para nelayan itu. Seketika mereka tetap beraktivitas, berlalu lalang dengan perahu kecil. Saat mengambil gambar, para nelayan itu sesekali menyunggingkan senyum. Ronah senyum dimukanya terlihat, mereka sedang menikmati pertualangannya dalam mencari penghidupan di tengah laut.
Namun, cuaca siapa yang bisa menebak. Jika saat ini langit terlihat terang dan matahari menyinari begitu panas hingga kulit terlihat lebam, sejam atau dua jam kemudian awan bisa berubah jadi hitam keganasan. Itu pertanda bahwa hujan akan segera turun. Angin segera bertiup kencang. Para nelayan pun siagap.
Saat perahu kecil itu sandar di dermaga, saya mencoba bertanya pada seorang nelayan bernama La Ida. Dari mana Pak? Kami habis melaut, sekalian tadi singgah ke kebun di seberang mengambil kayu, tuturnya. Di dalam perahu kecil itu memang terlihat seikat kayu dan beberapa jenis ikan tangkapan.
La Ida bersama istrinya saat saya temui terlihat basah kuyup. Mereka diterpa angin kencang disertai hujan, saat jarak perahunya tinggal beberapa ratus meter dengan dermaga. Hasil tangkapannya hanya ini saja pak, tanyaku. Hari ini saya lihat kebun saya diseberang, sekalian mencari ikan untuk makan malam nanti, tutur La Ida.
Sejenak saya melihat di perahunya ada tulisan Dana Desa. Ternayata di desa Lakarinta dana desa dimanfaatkan dengan baik. Ada 23 perahu bantuan dari Anggaran Dana Desa untuk para nelayan, kata La Ida. Kami sangat bersyukur bisa mendapatkan bantuan ini. Perahu saya ada dua, satunya bukan bantuan, digunakan oleh keluarga untuk mengambil pasir, satunya lagi bantuan. Perahu bantuan ini, saya gunakan untuk mencari ikan dan berkebun diseberang, ungkap La Ida.

La Ida beserta Istri dan Warga Yang Sedang Mengangkut Pasir: Foto Laode Halaidin
Dari Desa Lakarinta saya menemukan pelajaran-pelajaran baru. Desa ini tergolong bebatuan, dataran tinggi dan berjurang-jurang. Maka tak heran sebagian masyarakatnya memilih berkebun diseberang daripada di desa Lakarinta. Saat menyusuri jalan, kemiskinan terpampang didepan mata. Rumah-rumah panggung masih mendominasi. Sebagian rumah masih beratap alang-alang, yang dibuat seperti atap rumbia. Dinding rumah masih ada yang terbuat dari bambu-bambu.
Pekerjaan masyarakatnya selain sebagai nelayan, juga mereka berkebun. Seorang teman lama bernama La Madi menuturkan, bahwa kebun-kebun petani sangat jauh, ada dibalik puncak itu. Ada yang berkebun jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang. Dibawah bukit itu, ada Danau Motonuno yang biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat. Biasanya digunakan untuk memasak, mandi dan mencuci, kata La Madi.

Danau Motonuno, di desa Lakarinta: Foto Laode Halaidin
Selain itu, di desa Lakarinta akan dibangun pabrik semen. Di bukit itu ada potensi pertambangan batu gamping dan karst yang bisa diproduksi sebagai semen. Sudah dirapatkan, tapi sampai sekarang masih bermasaalah. Lahan ada disini, yang punya lahan juga orang-orang disini. Tapi ditanda tangani dan disetujui oleh desa sebelah, dari desa sebelah. Ini akan menjadi masaalah kedepannya, kata La Madi.
Jika pabrik semen tersebut akan dibangun, tentu akan merusak Danau Motonuno dan perkebunan masyarakat yang ada dibawah bukit. Ini tentu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat Lakarinta. Danau Motonuno dan juga hutan yang ada dibawah bukit itu seharusnya dijaga dan dilestarikan, bukan dihancurkan. Para petani sangat menggantungkan hidupnya dihutan-hutan itu dan Danau Motonuno.
Kehidupan masyarakat Muna memang mayoritas bergelut pada sektor pertanian dan nelayan. Pemerintah daerah perlu serius menangani dua sektor ini. Para petani dan nelayan butuh uluran tangan dari pemerintah, bukan pengabaian, diabaikan. Mereka tak bisa dibiarkan sendiri dalam mengarungi hidup.
Keberhasilan mereka, bukan saja tersaji dalam bentuk data-data statistik yang dianggap sukses, berhasil, tumbuh, berkembang dan lain sebagainya. Tetapi penyajiannya perlu dalam bentuk fakta-fakta dilapangan. Kehidupan petani dan nelayan yang sejahterah dalam bentuk data, biasanya berbeda jika kita mencoba telusuri fakta dilapangan. Selama ini, kita kerap disajikan dengan data-data yang kebenarannya masih perlu dipertanyakan.
Desa Lakarinta bagi saya tidak terlepas dari itu. Yang perlu dilakukan adalah merevolusi desa, mengembangkan dan menata segala potensi yang tersedia untuk kepentingan dan kesejahteraan warga desa. Potensi sumber daya perlu untuk dieskplorasi, tapi tidak untuk dieksploitasi yang sifatnya menghancurkan ekosistem yang ada didalamnya.
***
Setelah saya berkeliling dan berdiskusi dengan warga desa, ada yang menarik perhatian saya di desa Lakarinta. Disini terdapat potensi ekowisata yang perlu dikembangkan. Ada Pantai Maleura, yang panoramanya sangat memanjakan mata. Pemandangannya indah, diapit oleh bukit-bukit dan hutan. Airnya jernih dan terdapat batu karang-batu karang besar.
Bagi warga sekitar, Pantai Maleura memiliki keunikan tersendiri. Banyak masyarakat yang berkunjung bahkan dari mancanegara. Jika kita menyewa kapal dan keliling disamping pantai, kita akan dimanjakan dengan pemandangan gua-gua.
Sejenak saya melihat ada masyarakat yang sedang melakukan pemotretan untuk wedding, pernikahan. Kalau hari-hari biasa itu memang kadang sepi. Pengunjungnya hanya seperti ini, kecuali hari sesuda lebaran pengunjungnya banyak bahkan kendaraan padat, mengantri hingga sekitar satu kilo, kata La Ida.

Salah Satu Pengunjung, sedang Melakukan Pemotretan Wedding: Foto Laode Halaidin
Gadis Pantai Maleura: Foto Laode Halaidin

Pemandangan Pantai Maleura: Foto Laode Halaidin
Salah Satu Pengunjung, Adin: Foto Laode Halaidin
Pantai Maleura memang sungguh indah. Di dekat pantai ada rumah-rumah permukiman wargah. Jika kita ingin bercerita mengenal Maleura lebih banyak lagi, kita bisa mengunjungi rumah warga sekitar. Maleura juga sudah menjadi favorit kunjungan warga Kabupaten Muna. Buat apa kita memotret ditempat lain, Pantai Maleura itu sudah begitu indah, pemandangannya bagus, kata Ari yang sedang melakukan pemotretan wedding.
Tapi sungguh sayang, keindahan tidak disertai dengan pengelolaan yang memadai. Pantai Maleura perlu dikembangkan dengan baik, untuk menarik perhatian pengunjung. Infrastrukturnya perlu di tata, diperbaiki. Ini bisa menjadi salah satu ikon Kab. Muna, tinggal bagaimana pemerintah mengelolanya, memberinya perhatian.
***
Berjarak sekitar lima kilo meter, saya kemudian mengunjungi Danau Napabale. Danau Napabale terletak di desa Lohia. Saat saya menyusuri jalan, tampak kemiskinan juga sangat nampak didepan mata. Tak jauh beda dengan gambaran masyarakat desa Lakarinta.
Bahkan, saya menemukan rumah seorang nenek yang sudah mau roboh, papan berlubang-lubang dan atap sudah sangat banyak yang kebocoran. Rumah nenek itu, bukan lagi tempat tinggal kategori layak. Ia sudah sepatutnya mendapatkan perhatian pemerintah daerah, merenovasi rumah yang ia tinggali. Saya merenung sesaat, lalu berkata, dimanakah pemerinta? Mengapa mereka tidak hadir, saat mereka sangat membutuhkan?
Saat tiba di Danau Napabale, kita langsung disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah, airnya warna ke biru-biruan dan terletak di kaki bukit. Ada juga terowongan alami yang bisa menembus tengah laut. Jika air sedang surut, maka silahkan anda berselancar menuju terowongan. Namun jika air sedang pasang, maka terowongan tak dapat terlihat , ditembus karena ditutupi dengan air. Inilah yang menjadi daya tarik Danau Napabale.

Danau Napabale: Foto Laode Halaidin
Anak gadis Belajar Berenang: Foto Laode Halaidin
Anak Kecil yang Membawa Perahu: Foto Laode Halaidin
Jasa Perahu Untuk Mengantar Pengunjung Danau Napabale: Foto Laode Halaidin
Danau Napabale sudah dikenal luas oleh masyarakat Muna sebagai tempat wisata. Biasanya penuh sesak pengunjung saat sesudah lebaran. Untuk hari-hari biasa, pengunjungnya juga tidak terlalu banyak. Bisanya didominasi oleh masyarakat sekitar dan bagian Kota Raha.
Saya melihat, ada berbagai jasa yang ditawarkan disini. Ada jasa perahu yang bisa disewa berkeliling untuk menuju terowongan atau hanya sekedar melihat gua-gua dipinggir laut, di bawah bukit. Sewanya pun sangat murah, 10 sampai 15 ribu rupiah.
Tapi sayang, saya tak bisa bercerita banyak dengan masyarakat. Danau Napabale tak berpenghuni seperti di Pantai Maleura. Saya tak banyak mendapatkan mutiara disini. Jauhnya lokasi dengan tempat tinggal warga, membuat Danau ini tampak seperti sepih. Kita hanya bertemu dengan sesama pengunjung, yang sama-sama asing tentang Danau.
***
Mengenai tempat wisata, di Pulau Muna terdapat beberapa tempat wisata yang harus mendapatkan perhatian serius, termasuk Danau Napabale, Pantai Maleura,  Danau Moko, Danau Ubur-ubur dan Danau yang baru ditemukan seperti Danau Randano Ghaghe, Danau Wawomata dan masih banyak lagi.

Intinya, semua perlu dukungan dari pemerintah daerah berupa infrastruktur yang memadai, guna dapat meningkatkan pendapatan desa sekitar. Sebagai daerah kepulauan, maka sudah saatnya Pulau Muna perlu perbaikan serius. Ia tak bisa lagi dibiarkan tertidur pulas, sementara apa yang menjadi sumber potensi kekayaan alamnya selalu meminta untuk dibangunkan.


                                                               Laode Halaidin
                                                               Kendari, 12 April 2017

27 Maret 2017

Aku, Kamu dan Penyatuan

Sumeber Gambar: pixabay.com
Ada pertanyaan kritis yang membayangi pikiranku tentang cinta. Apakah cinta itu ada? Jika orang berpacaran atau menikah, apakah semua itu didasari atas nama cinta, bukan nafsu? Atau jangan-jangan, selama ini kita tidak sedang mencintai tapi hanya ketertarikan, sekedar rasa suka karena lekuk tubuh yang seksi.

Jika sudah demikian, bukankah itu jauh dari kata cinta. Yang ada adalah nafsu belaka, yang bertopengkan atas nama cinta dan mencintai.

Lalu, bagaimana cinta datang kepada seseorang? Saya kadang tak memahami ini. Apakah ketika jantung kita berdetak kian kencang saat bertemu perempuan, pertanda bahwa ada perasaaan kepadanya, cinta. Saya pernah bertemu dua perempuan dalam tahun yang berbeda, merasakan degup jantung itu.

Pertanyaannya, apakah itu yang namanya cinta? Saya sungguh tak paham. Berhari-hari kadang saya melamun, terpikir oleh perempuan itu. Tetapi, apakah ia juga memikirkanku?


Namun, dua perempuan lainnya sangat jauh berbeda. Satunya, saya merasakan biasa-biasa saja, lalu kami menjalin asmara beberapa tahun. Tak lama, putus ditengah jalan karena saya tak menemukan yang namanya cinta. Satunya, ia mendekatiku tapi kujauhi, perasaanku biasa-biasa saja, tak merasakan cinta di hati saya.

Saya sungguh bingung dengan semua itu. Ketika ada degup jantung yang begitu ber-genderang, saya dibuat oleh ketidakberdayaan. Apakah itu cinta? Mungkin cinta, tapi mengapa saya tak berani mengungkapkannya.

Tetapi, saat degup jantung tak ada, saya berani mengatakan kata yang aneh itu dan ia menerimanya. Kami menjalani hubungan bertahun-tahun, dan terhenti karena saya tak merasakan cinta. Sama halnya dengan perempuan yang satunya, degup jantung tak ada. Ia mencoba mendekatiku, tapi saya tak merasakan apa-apa. Maka ia kujauhi secara perlahan-lahan.

Cinta, engaku sungguh begitu aneh bagiku.

Mengapa engkau tegah membunuh orang, yang tak bisa membunuhmu.
Aku terbunuh oleh ketidakberdayaanku sendiri.
Atas nama cinta, engkau bahkan membunuhku berhari-hari.

***
Saat itu, ketika kuliahku memasuki semester tiga, saya bertemu perempuan yang membuat degup jantung ini berdetak kian kencang. Inisialnya CMP. Ia satu angakatan denganku di Universitas Halu Oleo. Dimata saya ia begitu anggun, natural dan sangat mempesona. Ia cantik, bukannnya dipoles dengan berbagai ragam rupa make-up, tapi dandanannya yang ala kadarnya.

Saya kembali bertanya-tanya, apakah saat itu saya betul-betul jatuh cinta dengan CMP? Cinta bagiku begitu abstrak, ia sama sekali tak bisa terartikan, spontan dan tak bisa ditebak. Itulah yang saya artikan selama ini. Lalu, saya kemudian mencoba berbaik hati, memberinya perhatian, mendekatinya agar saya bisa betul-betul mengetahui, cinta.

Pendekatan dan perhatian itu, sempat berjalan beberapa tahun. Saya menemukan arti cinta
--saat degup jantung itu berdetak--ia menginginkan penyatuan antara aku dan kamu--menjadi kita. Detak itu, ingin menghilangkan ke-egoan antara aku dan kamu, lalu kemudian kita melebur menjadi satu--kita menyatu.

Cinta itu adalah proses penyerahan diri segala tentang aku, kepada kamu
--lalu kita melebur dalam penyatuan. Yang ada, bukan lagi aku dan kamu tetapi kita--kita bersama. Maka dari itu, setiap pasangan harus selalu menjaga perasaan, saling menyayangi dan tidak menyakiti. Karena mereka pada dasarnya suda satu---ada dalam satu bingkai yang bernama cinta.

Apa yang saya rasakan tak menemui kenyataan. Saat saya ingin menyerahkan diriku, memberikan segala egoku tentang aku kepada CMP, ia dikabarkan akan menikah. Harapan itu pupus dan memori semua terhapus. Saya ingin mencoba menghapus semua
--bahwa perasaan itu bukan apa-apa.

Apakah selama ini, CMP tidak merasakan hal yang sama? Apakah hanya saya yang mersakan itu? Lalu, apa artinya ketika cinta terjalin, tapi aku dan dia tidak merasakan hal yang sama.
***

Cinta lalu berubah, yang pada kenyataannya adalah gua-gua yang gelap. Kita tidak akan menemukan terang dan keindahan, saat kita terbunuh oleh ketidakberdayaannya. Tak bisa mengungkapkan cinta, sama halnya engkau masuk didasar jurang yang akan menyiksamu bertahun-tahun.

Itulah yang saya alami. Saya terpenjara oleh rasa minder, seorang pemuda yang hanya lahir dari desa. Saya datang hanya membawa diri, otak
--pikiran, untuk sebuah pertarungan dengan nasib. Dengan rasa itu, saya memutuskan untuk menutup celah-celah yang ada, agar tidak ada lagi yang mengalir memasuki labirin-labirin yang telah kering-kerontang itu. Untuk sementara waktu saya ingin mengeringkannya.

Namun, proses pengeringan itu tidak terjadi. Ada setetes embun yang datang dan menghampiri, lalu ingin mengisi celah yang kosong. Perempuan itu berinisial EVR. Ia baik dan perhatian, sering memanggilku untuk membaca diperpustakaan.

Setelah kuperhatikan, ternyata ia sudah punya kekasih. Lalu, untuk apa ia mendekatiku? Apakah ia hendak memutuskan pacarnya atau ia hanya memanfaatkan kepintaranku, untuk mengerjakan tugas-tugas dan skripsinya.

Aahhh....ia begitu jahat seperti sosok Mak Lampir yang berubah wujud  menjadi perempuan cantik, lalu menggoda lelaki polos untuk dijadikan budaknya. Tak akan kubiarkan semua itu terjadi. Saat itu, saya memutuskan untuk tidak menemuinya dan menghindar secara perlahan-lahan. Saya juga tak menemukan cinta dengannya.

Diakhir-akhir semester, saya kembali bertemu perempuan yang membuat degup jantung itu berdetak kian kencang. Ia adalah junior saya di jurusan Ilmu Ekonomi. Inisial perempuan itu adalah PAP. Ia begitu indah dan mempesona. Kecantikannya seperti dibentuk oleh alam yang diciptakan oleh maha indah sang pencipta. Ia juga sederhana, natural dan tidak bermake-up berlebihan.

Saya sering memperhatikan aktivitasnya dikampus. Saat saya merampungkan penelitianku di Badan Pusat Statistik (BPS), kami bertemu dan ia memberikan senyuman. Ia adalah orang yang tulus kepada semua, untuk memberikan kebaikan. Senyuman bagi saya adalah kebaikan, yang tanpa besifat materi. Sama halnya membantu tanpa mengharapkan imbalan.

Sejak saa itu, saya telah dibuat jatu hati olenya. Saya telah menemukan apa itu arti cinta dan mecintai. Saya berniat menuliskan sebuah surat untuknya serta memberikan hadiah buku novel. Tetapi, saya tak kunjung bertemu denganya. Surat dan hadiah itu tak pernah kesampaian.

Cinta kau begitu membunuh.

Membunuh orang-orang yang tak berdaya akan cinta. 
Cinta kau begitu indah.
Tapi membunuh, saat cinta itu tak pernah kesampaian.

Wahai perempuan- perempuanku, datang dan kemarilah. 

Aku disini menunggu.
Menginginkan penyatuan bersama kalian.
Karena aku tersadar, aku, kamu.
Adalah cinta.
                                                                     Laode Halaidin
                                                                     Kendari, 27 Maret 2017

PS. Saya sengaja menuliskan inisialnya saja, agar tak diketahui oleh mereka.

07 Maret 2017

Hari Perempuan Internasional: Ibu adalah Pahlawanku

Ibu dan Ponakanku
Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, maka hargai dan berilah cinta serta kasih sayang pada ibu kita, ibu kalian semua. Dan perempuan-perempuan yang ada disekeliling, istri, tetangga, teman kos, kantor, sambutlah mereka dengan senyum yang tulus, yang menggambarkan bahwa mereka itu ada.
Karena pada dasarnya, perempuan-perempuanlah yang melahirkan kita di dunia ini. Mereka yang membuat mata kita terbuka, demi melihat dunia yang begitu dinamis. Perempuanlah yang selalu mengajarkan kita bagaimana kesabaran itu ditanam di dalam diri. Dan perempuanlah yang selalu mengajarkan kita tentang ketegaran, ketegasan, ketulusan dan rasa syukur dengan apa yang ada pada hari ini.
Siapa perempuan itu? Dia adalah Ibu, yang selama ini selalu hadir ditengah-tengah, dikala kegelisahan menggunting semangat kita.
Kata Ibu, sabarlah nak! Kehidupan di dunia memang seperti ini. Tapi, kamu jangan pernah menyalahkan Tuhan, jika saja hidupmu dirundung dengan kesulitan dan kesusahan. Tawakal adalah obat mujarab agar kita tidak mengingkari kekuasaannya. Jalani kehidupanmu dengan semestinya. Dan jangan lupa bersyukur dengan apa yang kamu kerjakan hari ini. Itu akan lebih baik bagimu, jika tidak nak! Saya akan mendoakanmu disini, semoga apa yang kamu cita-citakan dapat tercapai.
***
Perempuan itu dikatakan sebagai pahlawan (untuk diri kita sendiri) bukan saja karena dia berani turun ke medan perang, lalu berperang habis-habisan. Perempuan pahlawan adalah perempuan yang setiap tetes katanya dapat menggerakan manusia, membuat kita tersadar, lalu kita melakukan hal-hal yang baik.
Kita teringat dengan apa yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini. Dalam kungkungan adat Jawanya, ia berani melawan untuk kemudian mendirikan sekolah perempuan. Kartini perihatin dengan nasib kaum perempuan saat itu, yang bahkan untuk pintar saja tidak diperbolehkan, kecuali kaum ningrat. Dia melawan batasan-batasan itu dengan tutur bahasanya yang lembut, yang bermuarakan pada gagasan-gagasan untuk memperbaiki nasib para kaum perempuan.
Kartini terhenti mengajar, saat ia menikah dengan Bupati Rembang. Namun, ia telah berhasil memperjuangkan emansipasi perempuan, menempatkan perempuan sebagai subyek penggerak kemajuan masyarakat bumiputra.
Kisah ini dapat kita tonton di filmnya “ Surat Cinta Untuk Kartini” yang diperankan oleh Chicco Jerikho dan Rania Putri. Ini adalah film edukasi tentang sejarah perjuangan Kartini, saat ia ingin mengangkat derajat perempuan bumiputra. Meskipun film lama, saya sangat suka, dan lagian pemeran utamanya Rania Putri cantik sekali. Tak bosan untuk dipandang. Rania Putri telah membuat saya jatuh hati.
***
Untuk itulah, bahwa perempuan keberadaannya harus dihargai. Pemikirannya juga harus dihargai. Perempuan juga harus ditempatkan dalam dunia sebagai penggerak peradaban.
Kata, Pramoedya Ananta Toer dalam novel Jejak Langkah “Perempuan adalah lautan kehidupan. Tak akan ada peradaban dimuka bumi ini, jika tak ada perempuan.” Jadi hargailah.
Untuk laki-laki dan perempuan, hargailah perempuan-perempuan yang ada disekeliling kalian. Buatlah mereka ada. Terutama untuk Ibu kita, Ibu kalian sendiri. Karena merekalah cahaya yang terang disaat purnama menjelang.
Ibu, rinduku dan cintaku bagai genderang perang, menyelimuti diri ini, yang ingin selalu dekat disampingmu. I Love Ibu.
                                     
                                                                                    Kendari, 8 Maret 2017
                                                                                    Laode Halaidin

05 Maret 2017

Membaca Novel Tan Malaka

Buku Novel Tan: Karangan Hendri Teja. Sumber ; Dok. Pribadi
Membaca novel Tan, sama seperti menyuruput kopi di pagi hari. Bahasanya renyah, mengalir dan tidak bisa berhenti jika tidak sampai pada ujungnya. Kopi juga seperti itu, ada renya-renyanya, mengalir dengan lancar jika diseruput dan tak bisa berhenti jika tak sampai pada dasar-dasar cangkirnya, yang tinggal menyisakan ampasnya.
Buku ini, bukan cerita heroik yang dialami oleh Tan Malaka. Buku ini adalah buku yang menceritakan tentang perjuangan, perjalanan, perburuan, buah pikiran dan keterhempasan Tan Malaka di sebuah negeri yang terjajah. Negeri terjajah itu, negeri yang selama ini menjadi tempat tumpah darah Tuan Tan Malaka sendiri, yaitu Hindia.
Selama sekian tahun negeri Hindia dijajah, yang kemudian diperas untuk keuntungan Nederland, membuat Tan Malaka resah. Ia tak tenang melihat negerinya dijadikan sapi perah berpuluh-puluh tahun. Matahari yang menyengat, panas menembusi kulit para buruh petani kopi, teh serta buruh-buruh kereta api dan buruh kapal ternyata untuk kekayaan negeri Nederland yang sempit itu, bukan untuk rakyat negerinya.
Kenyataan ini, sangat membakar jiwa Tan Malaka sendiri. Baginya, untuk melepaskan sebuah negeri yang terjajah, masyarakat Hindia harus diberi kepintaran. Mereka harus mendapatkan pengetahuan tentang negerinya. Anak-anak negeri harus didik, agar terlepas dari jerat nista yang dialaminya.
Lewat kesadaran itu, lalu Tan mulai mengajar, menjadi guru. Negeri ini butuh seseorang untuk mencerdaskan anak-anak bangsanya agar lagi tidak menjadi babu ditanah air sendiri. Saat ia mulai mengajar, ia melihat kenyataan dilapangan, para buruh dipukuli dengan rotan. Hal ini kemudian merubah nuraninya untuk memperjuangkan kaum-kaum buruh dengan pergerakan.
Perjuangan lewat pergerakan membawanya terus menyelam bersama kritiknya. Ia menulis tentang penderitaan rakyat Hindia dibawah kerja rodi pemerintah Nederland. Negerinya yang kaya akan rempah-rempah tak memberikan setetes keringanan untuk beban hidup yang dialami rakyat Hindia.
Mereka masih tercekik oleh kemiskinan. Kelaparan, terus menganggu siang dan malam, yang menyebabkan banyak rakyat yang meninggal, penyakit terus menggempur dan kurus kering tinggal kulit berlapis tulang. Kekayaan akan negeri, ternyata hanya memakan ulu hati masyarakat miskin, bukan memberikan penghidupan yang baik buat mereka.
Lalu, sampai kapankah penderitaan itu akan berakhir?
***
Tan adalah seorang pemikir sosialis. Ia juga sangat dekat dengan ajaran agama Islam sewaktu berada di Nagari Lumuik Suliki, Minangkabau. Di Minangkabau ia banyak belajar agama, bersama dengan ayah dan kakek-kakeknya. Sehinnga, Tan tidak bisa jauh dari ajaran agama yang suda melekat dalam darah dagingnya selama ini. Baginya, Islam dan sosialis sewaktu penjajahan Nederland isi pemikirannya tidak jauh berbeda. Sama-sama ingin melepaskan rakyat Hindia dari penjajahan, merdeka dari penindasan, kerja rodi dan buruh-buruh upah murah.
Dalam pergerakan, ia berusaha menyatukan dua kekuatan besar itu, Pan Islamisme yang berbasiskan Syarikat Islam (SI) dan Partai  Komunis Hindia (PKH) yang berbasikan orang-orang sosialis. Namun, ide-ide ini banyak ditentang oleh sahabat-sahabatnya, lalu dikhianati.
Baginya, untuk mengakhiri penderitaan di Hindia ia perlu sebuah organisasi. Dengan itu, ia memobilisasi para buruh untuk mendirikan sebuah organisasi. Perkumpulan-perkumpulan para buruh didirikan, yang kemudian disatukan dalam organisasi tersebut. Ia bersama buruh memulai perlawanan, melakukan pembangkangan dan pemogokan disana-sini.
Pemikiran-pemikiran Tan Malaka itu sangat ditakuti oleh pemerintah Nederland, Gubernur Jenderal. Apalagi ia hendak menyatukan dua kekuatan massa Islam dan PKH. Baginya Tan sendiri, Pan Islamisme dan PKH punya cita-cita dan tujuan yang sama, membebaskan rakyat dari rantai-rantai penindasan pemerintahan Nederland, menginginkan kemerdekaan negeri Hindia tanpa ada lagi kerja rodi dan perbudakan lainnya.
Namun apalah daya, diperjalanannya dalam sebuah pergerakan itu, ia banyak ditentang yang kemudian dikhiantai oleh sahabat-sahabat seperjuangannya. Ia dijebak dan dipenjara bertahun-tahun, yang membuat jiwanya tersiksa dalam penjara dekil. Setelah keluar bukannya malah bebas, sebebas burung elang, malah kembali menjadi buronan. Ia membuatnya berlari dan terus berlari.
***
Seorang Tan bukanlah seorang islamisme, ia juga bukan seorang komunis. Tan adalah keduanya, menyatukan dua pemikiran itu demi sebuah negeri yang terjajah. Hasratnya yang begitu menggebuh-nggebuh untuk sebuah cita-cita kemerdekaan Hindia, membuatnya terus berontah. Ia mengatakan, didepan Tuhan saya seorang Islam, tapi didepan masyarakat/rakyat saya seorang sosialis.
Itula Tan Malaka. Hidupnya telah ia berikan untuk negeri ini. Ancaman kematian tak membuatnya takut dan mundur sedikitpun. Dalam perjalanan hidupnya, ia terhempas dan dihempaskan oleh kekuasaan. Sebelum Indonesia merdeka, ia dihempaskan oleh kekuasaan Nederland. Sementara itu, sesudah Indonesia merdeka ia dihempaskan oleh kekuasaan anak negeri sendiri.
Tan, aku masih ingat kata-katamu, bahwa dari dalam kubur suaramu akan lebih keras daripada diatas bumi. Apakah hari ini sudah mulai lebih keras? Belum Tan, belum. Tapi saat ini engkau sudah mulai diperbincangkan. Pemikiranmu dalam buku-buku sudah mulai bermunculan, diperbincangkan dan didiskusikan.
Sosokmu bukan akan menjadi pemimpin Indonesia saat itu dan saat ini. Sosokmu dipersiapkan untuk memimpin Indonesia kedepan, untuk manusia-manusia baru.


                                                                                 La Ode Halaidin
                                                                                 Kendari, 6 Maret 2017