Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

19 Agustus 2015

Kemer [D] ekaan Milik Mereka Dan Bukan Milik Kita [?]

Beberapa hari ini, saya menyaksikan penyambutan hari kemerdekaan Indonesia di berbagai wilayah memang selalu berbeda-beda ada lomba panjat pinang, sepakbola, makan kerupuk, bola gotong dan berbagai perayaan lainnya. Ini semua tentu patut kita apresiasi karena perayaan tersebut merupakan bagian dari bentuk kebanggaan masyarakat kita setelah Indonesia lepas dari belengguh penjajahan bangsa-bangsa kolonialisme. Inilah yang masyarakat pahami tentang perayaan kemerdekaan selama ini. Semangat perayaan kemerdekaannya hanya dipahami dengan symbol formalisme belaka, atau yang bersifat kasat mata.

Inilah nasionalisme yang bersifat semu yang suda menjangkiti masyarakat kita. Dan yang lebih mencengangkan lagi setiap perayaan lomba kemerdekaan di desa-desa tak sedikit juga saya menyaksikan perkelahian antar desa. Perkelahian itu terjadi dalam pertandingan sepakbola; kadang dibenak saya sering memunculkan pertanyaan; apakah mereka mengerti makna dari perayaan kemerdakaan ini!

Menurut Asep kepada BBC Indonesia mengatakan bahwa perayaan kemerdekaan diperingati sebagai upaya untuk mengenal sejarah dan budaya bangsa dengan mengenali para pejuang karena merekalah yang melahirkan bangsa ini dan memberikan kesempatan untuk menikmati kemerdekaan dengan mengorbankan keringat, darah dan air mata. Bagi saya perayaan kemerdekaan dengan mengadakan berbagai lomba-lomba tersebut merupakan bagian dari kegiatan sosial untuk kemudian mempertautkan silaturahmi antar desa. Disanalah seharusnya kebersamaan, kesatuan dan persatuan terjadi; segengsi apapun pertandingan, yang perlu kita dorong adalah semangat nasionalisme namun tidak bersifat semu atau dangkal; dan yang lebih penting lagi adalah masyarakat tidak kehilangan harga dan martabat diri sebagai bangsa Indonesia yang merdeka.

Yang patut kita pertanyakan bersama setelah Indonesia merdeka, apa yang kita pahami selama ini tentang kemerdekaan? Apakah kemerdekaan masih berarti terbebasnya masyarakat Indonesia akibat penjajahan oleh bangsa-bangsa asing! Jika kita melihat dalam konteks perang kemiliteran pada masa penjajahan dulu memang kita suda merdeka, tidak ada lagi yang menjajah kita secara militer namun, bagaimana dengan konteks penjajahan mental dan moralitas bangsa, apakah kita suda merdeka? Seringkali Undang-undang dan setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah muda saja didikte; diintip lalu dimasuki oleh kepentingan bangsa-bangsa asing. Lalu pertanyaan berikutnya adalah untuk apa Indonesia merdeka? Setelah merdeka, buat siapakah kemerdekaan itu? Apakah betul di Indonesia ada yang masyarakatnya merdeka dan ada yang tidak merdeka!

Pertanyaan-pertanyaan ini tentu mempunyai relevansi yang kuat dengan apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Melihat realitas dengan apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini tentu sangat berkontradiksi. Disatu sisi Indonesia diharapkan menjadi Negara yang makmur, sejahtera dalam bidang politik, ekonomi dan budaya, dengan mencipatakan pembangunan yang berkeadilan di segala bidang atau mungkin hanya sekedar seperti yang sangat populer selama ini diucapkan oleh Prabowo Subianto menjadi macan Asia.

Di sisi lain bangsa ini selalu terkungkung dengan kebijakan yang diterapkan oleh para penguasa, permainan partai-partai politik dengan kepentingannya, pemodal dengan doktrinisasinya lewat gedung putih atau istana, dll. Sehingga apa yang mmenjadi kebijakan yang diambil bukan lagi kepentingan yang bertemakan rakyat tetapi kepantingan orang-orang yang berdasi; tak kenal dasi asing atau dasi orang Indonesia sendiri.

Pemahaman kemerdekaan tentu tidak hanya dilakukan dengan pengukuran dalam satu barometer saja, sehingga tidak menjadi sesuatu pseudo kemerdekaan (pemahaman kemerdekaan yang semu). Jika hal demikian maka kemerdekaan itu menjadi sesuatu yang tak bermakna, tak bernilai dan tak berkarakter. Kita bisa menjastivikasi pemahaman kemerdekaan dengan cara mengalami; mengalami disini bukan berarti kita kembali dimiskinkan, atau menjadi seseorang yang miskin namun melibatkan diri dengan pergulatan kehidupan mereka; kita bisa turun ke desa-desa, ke petani-petani, nelayan, pekerja buruh, keperumahan-perumahan kumuh, atau orang-orang yang berumah dikolong jembatan. Disanalah kita dapat memahami kemerdekaan dalam konteks yang moderat bahwa kemerdekaan sekarang tidak hanya dipahami dengan terbebasnya dari penjajahan bangsa-bangsa asing, namun terbebasnya dari masaalah-masaalah ekonomi (kemelaratan, kemiskinan dan ketertinggalan), social dan politik.

***
Indonesia memproklamirkan kemerdekaan tentu merupakan langka awal untuk menjadikan titik balik kehidupan bangsa untuk membangun negeri. Namun pembangunan negeri tidak bersifat yang berat sebelah, pilih kasih; atau ada sitilah “wilayah mana yang telah memenangkan saya maka wilayah itu berhak mendapatkan perhatian dan bantuan; atau akan ada pengajuan proyek besar-besaran untuk wilayah tersebut karena pemilihnya telah memenangkannya”.

Yang lebih popular lagi sekarang ini adalah relawan para calon; setelah juragannya memenangi pertaruhan pemilu maka relawan tersebut memiliki peluang untuk duduk dikursi-kursi basah tersebut. Tentunya ini bukan relawan biasa, tetapi relawan-relawan yang propfesional; yang telah membuat komitmen-komitmen liar dengan juragannya. Pada akhirnya kemerdekaan itu seolah milik mereka, orang-orang yang dekat dengan kekuasaan/jabatan bukan lagi kemerdekaan kita semua yang tak mengenal garis pembatas.

Jika hal demikian maka kemerdekaan bukan lagi berada pada genggaman kekuasaan rakyat tapi hanya mereka yang pemodal, kuasa/jabatan, dan mungkin juga organisasi-organisasi non pemerintah yang telah berhasil mempermainkan strategi liciknya dengan mengusulkan berbagai proposal proyek besar di negeri ini. Akhirnya kata kemerdekaan yang mempunyai nilai-nilai yang mendasar kemajemukan; tak pandang kelas, status social, dan wilayah seolah hanya milik mereka; maka tak salah jika kata KEMERDEKAAN itu akan berubah menjadi KEMER [D] EKAAN bukan lagi KEKITAAN.

Apa yang membedakan Kemerekaan dan kekitaan dalam konteks kemerdekaan Negara republik Indonesia? Kemerekaan merepresentasikan bahwa kemerdekaan itu hanya milik segelintir orang-orang tertentu; disana ada pertarungan kelas, status social, kekayaan, jabatan dan sebagianya yang merupakan wujud dari kelompok-kelompok yang individualitas. Kongkritnya kemerekaan itu tidak merangkul semua kalangan; namun hanya orang-orang tertentu yang masuk pada kriteria-kriteria yang disyaratkan.
Berbeda dengan kekitaan yang sifatnya merangkul tanpa ada pembedaan, kelas, dan status social; kongkritnya bahwa kekitaan itu merepresentasikan kemerdekaan semua kalangan dan kemerdekaan semua wilayah; yang berada dalam lingkaran kemiskinan maka mereka berhak untuk mendapatkan bantuan social, pengangguran berhak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, yang tidak mampu untuk membiayai pendidikan berhak untuk mendapatkan biaya pendidikan gratis.

Sama halnya dengan kemerdekaan semua wilayah; jika kemajuan selama ini hanya dialami oleh satu kawasan yaitu kawasan Indonesia barat dalam konteks kemerdekaan _ ke-kitaan maka seharusnya tidak ada pengecualian, kawasan Indonesia timur juga harus maju. Anggaran seharusnya juga adil, tidak mesti harus terus yang lebih besar di kawasan Indonesia barat; sehingga kemajuan dalam bidang pembangunan kelihatannya merata. Mungkin inilah monumen sebuah  keadilan, kerajaan keadilan yang kemudian akan melahirkan persatuan dan kesatuan bangsa untuk membangun negeri, seperti yang disemangatkan hari kemerdekaan pada usia yang ke 70 tahun ini; bukan masing-masing wilayah menyatakan diri untuk merdeka atau ingin pisah dari sebuah Negara Indonesia. Dan semoga semua hal ini tidak terjadi, dan keadilan itu semoga cepat terwujud. Dirgahayu RI yang ke 70. Selamat menatap gejolak dan pertarungan dunia yang tidak menentu...

                                                                                    Kendari, 19 Agustus 2015

11 Agustus 2015

Kecantikan

                                                                          Ilustrasi
 
Kecantikan dalam industri kebudayaan merupakan bagian dari konsumsi masyarakat. Iklan, film-film serta drama yang dipertotonkan dihadapan kita merupakan kerja sang produser, yang kemudian di buat semenarik mungkin untuk menarik para konsumtifnya. Tak memungkiri, kita dapat menyaksikan berbagai film-film, drama atau adegan panas persetubuhan didepan layar dengan pemeran-pemeran utama yang cantik  nan seksi atau laki-laki yang berotot dan bermata sipit yang bergincu merah. Namun semua itu tak banyak juga dari para konsumen film dan drama serta iklan tidak dapat menangkap makna sejati dari semua adegan-adegan yang dipertunjukan itu.

Banyak hal yang menjadi gambaran kita, bagaimana kerja sang produser dalam merekayasa semua adegan perfilman, misalnya dalam film-film Holiwood, drama korea dll. Misalnya saja dalam film Holiwood banyak sekali film-film yang dipertontonkan dengan memamerkan kecanggihan teknologi, senjata-senjata yang berteknologi tinggi, pesawat tempur, serta adegan-adegan pertunjukan yang melawan mahluk luar angkasa. Itu semua pertanda bagian dari kekuasaan dan kemajuannya dalam bidang teknologi dan mempunyai kekuatan dan dominasi atas semua industri hiburan dunia.

Sesuatu yang ironis bagi kita ketika melihat adegan-adegan pertunjukan itu. Mata kita terbelalak ketika kita menyaksikannya, terdiam dan mengagguminya. Kita seakan-akan terhipnotis oleh sihir dengan mantra-mantra kecantikannya dengan lekuk tubuh yang indah, bermata sipit, berotot,dan muka bersih. Dengan semua itu kita hanya bertanya-tanya betapa hebatnya film-film atau drama tersebut dibuat, tanpa memperdalam pertanyaan kita berapa keuntungan yang diraup dari pembuatan film-film dan drama tersebut? Film-film dan drama tersebut dibuat karena merupakan salahsatu ladang bisnis dalam dunia hiburan yang terus menjadi ikon kapitalisme.

Produser merupakan seseorang yang ahli dan Industri hiburan seperti film-film atau drama merupakan ladang bisnisnya. Bisnis suda menjadi bagian dari ideologi mereka. Mereka dapat berbuat apa saja untuk meningkatkan bisnis industri hiburanya. Tak tanggung-tanggung mereka akan mengeluarkan dengan jumlah uang yang sangat besar untuk membayar pemeran-pemeran film atau drama yang cantik nan seksi dan laki-laki yang bersih, berambut rapi atau seperti yang sering didefenisikan banyak orang yakni laki-laki yang tampan. Karena kecantikan nan seksi atau tampan merupakan tontonan para konsumstif film dan drama maka sang produser bekerja dengan mengelaborasikan dari kedua hal tersebut. Cantik nan seksi, tinggi agak kurusan sedikit atau bermata sipit untuk perempuan dan untuk laki-laki bertubuh kekar, tinggi besar berotot, plontos atau laki-laki tampan yang sering memakai gincu merah serta bermata sipit yang mempunyai budaya di negaranya, laki-laki yang harus melakukan bedah plastik. Itulah dambaan dari para konsumtif film dan drama yang mereka inginkan.

Film-film atau drama Asia baik Korea ataupun yang mulai muncul sekarang Thailand yang sering dipertontonkan dilayar kaca suda menjadi selerah masyarakat. Masyarakat seakan keteranjingan, meskipun tak banyak menangkap makna dari setiap adegan yang dipertunjukan dalam film dan drama tersebut. Menurut Theodor W. Adorno  dan Max Horkheimer bahwa masyarakat yang selalu menjadi konsumen film dan iklan adalah pekerja dan buruh, petani dan kelas menengah rendah.

Namun jika kita melihat realitas dikehidupan masyarakat sekarang ini, konsumen film dan drama suda menyentuh berbagai kalangan masyarakat. Tak kenal kelas, berpendidikan atau status sosial. Seakan-akan masyarakat hidup terkungkung dengan apa yang dipertunjukan oleh film-film dan drama. Masyarakat kadang sering terkecoh dengan hal-hal tersebut bahwa apa yang terjadi di film-film dan drama juga terjadi dengan realitas kehidupan.

Suda banyak saya melihat seseorang yang keteranjingan dengan film-film dan drama Korea atau yang baru muncul sekarang ini drama Thailand. Ketika saya menyempatkan diri untuk menontoni adegan-adegan film atau drama tersebut, tak satupun dibenak saya untuk melanjutkan menontoninya. Menurut saya adegan-adegan dalam film atau drama tersebut tak mempunyai sesuatu makna yang dalam. Seperti yang terdapat dalam drama Korea Love Rain. Didalamnya hanya ada adegan tentang persoalan cinta yang sangat hambar. Selama saya menontoninya adegannya kahilangan makna. Tak ada keseruan tentang drama cinta yang dipertunjukannya.

Ketertularan kita akan dunia hiburan yang berbaur Asia maupun Barat membawah sesuatu yang negative terhadap masyarakat. Masyarakat terkadang mendewakan sosok-sosok yang ada dalam film atau drama tersebut. Mengidolakan apa yang menjadi penilaian mereka pantas untuk di idolakan. Mereka menjadi fans terberatnya ketika melihat sosok yang cantik dan ganteng bermata sipit atau bertubuh kekar. Tak melihat apakah sosok tersebut mempunyai bakat yang luar biasa, kecerdasan, atau hal-hal yang tidak dimiliki oleh orang lain. Semuanya hanya dilihat dari satu segi yaitu kecantikan.

Di Indonesia sendiri banyak yang menilai sosok yang dikagumi atau menjadi fans terberatnya hanya melihat dari segi kecantikan tersebut. Najwa Sihab pernah mewawancarai salahsatu fans terberat JKT 48 dalam programnya Mata Najwa di Metro TV. Yang membuat saya tercengang adalah ketika masyarakat rela mengeluarkan isi dompetnya puluhan juta hanya sekedar bertemu, berkenalan, bersapa kata dan menontoni mereka. Mereka mengunjungi member JKT 48 biasa tiga sampai empat kali dalam seminggu. Member-member JKT 48 sangat mempunyai daya magnet atau sihir yang kuat untuk memikat kaum laki-laki. 


                                                    Foto dari salahsatu personil JKT 48.
                                            Kecantikan ini seringkali membuat saya tak bisa tidur.

Kecantikan member JKT 48 ibarat sang ratu dari Asia, karena semua membernya bermata sipit dan salahsatunya merupakan orang Jepang. Menurut saya munculnya JKT 48 merupakan bagian dari pengaruh budaya Asia yang sering dipertontonkan dilayar kaca. Manajemen JKT 48 memang suda memikirkan bahwa masyarakat Indonesia sedang keteranjingan dengan sosok-sosok bermata sipit sehingga tak memungkiri dia mengumpulkan member-member yang seperti sosok-sosok Asia tersebut. Tak tanggung-tanggung fans-fansnya sangat banyak terutama laki-laki dan tak kenal tua dan muda. Inilah pengaruh dari sebuah drama atau film-film yang dipertontonkan selama ini yang merupakan kerja dari sebuah industri kebudayaan yang liberal-kapitalis.

Ini semua hanya demi sebuah bisnis untuk meraup keuntungan bukan kemudian mencari dan mengumpulkan orang-orang berbakat yang ada di Indonesia seperti yang diungkapkan oleh manajemennya.

Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno suda menjelaskan hal ini bahwa kekuatan masyarakat industrial kebudayaan selalu tersangkut dalam pemikiran manusia. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa para produsen hiburan-hiburan mengetahui bahwa produk-produk mereka akan dikonsumsi dengan segera bahkan ketika mereka bingung sekali, karena masing-masing dari mereka adalah sebuah model dari permesinan ekonomi raksasa yang selalu menyokong massa.

Dalam industri kebudayaan masyarakat yang suka doyan mengkonsumsi film atau drama tak lebih hanyalah bagian dari mesin ekonomi, yang hanya meningkatkan bisnis hiburan para kapitalistik. Masyarakat diibaratkan seperti robot yang terus bekerja dan mengikuti apa yang diarahkan oleh produsen hiburan.
Ketika badai hiburan tengah melanda dunia lalu kemana kita akan terdampar?. Jawabannya hanya tiga yaitu Asia, Barat atau Indonesia sendiri.

Kita hanya tinggal memilih mana yang lebih bermanfaat untuk kita!


                                                                                                Kendari, 11 Agustus 2015
 



09 Agustus 2015

Orang-Orang Yang Menghembuskan Kebaikan

                                                                                      Ilustrasi.

Jika jalan untuk menuju surga kebanyakan orang-orang melakukan ibadah ke mesjid-mesjid, orang-orang ini hanya tau dan percaya bahwa kebaikan terhadap sesama juga akan mengantarkan hidupnya untuk menuju surga. Mereka percaya akan Tuhan dan mempunyai agama tapi tak pernah saya melihat mereka melakukan ibadah shalat lima waktu atau hanya hendak untuk melaksanakan shalat jum’at sekali seminggu. Mereka mengatakan, saya tak melaksanakan ibadah shalat karena saya tak mampu, jika melakukannya terputus-putus maka sama halnya saya membodohi Tuhan, sedangkan Tuhan itu maha melihat dan mendengar. Saya hanya tau bahwa kehidupan harus selalu di isi dengan kebaikan dengan sesama meskipun itu dengan hal-hal kecil.

Momen lebaran idul fitri seperti sekarang ini selalu dimanfaatkan untuk bersilahturahmi. Berkumpul bersama keluarga merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi para pemudik. Di saat lebaran-lah kita selalu mempertautkan silahturahmi bersama keluarga, kakak, adik, ipar-ipar, sahabat serta bersama masyarakat di desa setempat. Disinilah saya menemukan kebahagiaan itu. Semua keluarga di kota-kota, baik di Sulawesi maupun di luar Sulawesi berbondong-bondong untuk mudik di kampung halamannya. Tujuan mereka hanya untuk bertemu dan berkumpul dengan seluruh keluarga. Dalam setiap lebaran idul fitri, sudah menjadi tradisi setiap insan manusia untuk kemudian bertemu dengan seluruh keluarga, bersilahturahmi, ber-maaf-maafan, dan berucap semoga kita diberikan umur panjang dan bertemu pada lebaran berikutnya. Inilah setiap doa ketika saya menyalami masyarakat di desa-desa.

Saya melihat kebahagiaan itu terpencar diraut wajah mereka. Ada perasaan dalam hati bahwa ternyata kita tak perlu jauh-jauh untuk mencari kebahagiaan ini karena kebahagiaan sesungguhnya selalu ada disekitar, disamping dan didepan kita. Kebahagiaan bukan berarti mempunyai kekayaan atau materi/financial yang melimpa, atau tinggal dirumah yang mewah dan terkesan jauh dengan masyarakat kecil. Biasanya orang-orang seperti ini tidak mempunyai keunggulan untuk bermasyarakat atau hanya sekedar untuk bercerita dengan masyarakat di desa-desa karena terlalu mengurung diri mereka dengan kekayaannya. Orang-orang ini menganggap, masyarakat kecil tak pantas untuk mendapatkan salaman atau silahtuhrahmi dengan kami, toh mereka hanya orang-orang miskin yang tak mungkin diajak kerjasama dalam hal keuntungan atau untuk meningkatkan kekayaannya.

Kebahagiaan itu ada dan datang tergantung bagaimana kita memanfaatkan dan memandang situasi serta momen-momen tertentu. Ketika kita memandang momen atau situasi tertentu dengan pikiran yang negativ, maka situasi itu atau momen tersebut akan buram dan suda tentu bukan memancarkan suatu kebahagiaan tetapi kebencian, stress dan sebagainya.

Jika setiap orang menganggap bahwa idul fitri merupakan momen untuk kembali fitra, suci kembali atau kemenangan karena telah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, orang-orang ini menganggap bahwa lebaran idul fitri sama halnya dengan pembuncaan kebahagiaan bersama, dengan membantu orang-orang yang tak dapat melaksanakan lebaran shalat idul fitri di mesjid-mesjid terbesar. Mereka mungkin tak mengerti apa itu fitra, suci atau kemenangan yang sering digemahkan oleh para pendakwah di mesjid-mesjid. Mereka hanya mengerti bahwa idul fitri hanyalah sebuah momen terpenting untuk melihat tawa masyarakat, memberikan maaf atas segala hal yang menjadi pertentangan selama ini, mengikhlaskan apa yang telah menjadi kejadian atas masa lalu dan menatap sebuah masa depan yang lebih baik, harmonis dan penuh kedamayan.

Saya melihat orang-orang ini tidak agamis, tidak pernah saya melihat menjalankan shalat lima waktu dan mungkin juga mereka tak pernah puasa. Idul fitri seperti ini mereka tidak melaksanakan shalat idul fitri tetapi dia menyewakan mobil untuk mengantar orang-orang yang ingin melaksanakan shalat idul fitri. Tidak seperti orang-orang yang bersorban serba putih dimana setiap bertemu dengan seseorang selalu mengeluarkan ayat-ayat atau dalil-dalil Al-Qur’an dari mulutnya, menceramahin tentang kenikmatan akhirat dan meninggakan segala bentuk yang berkaitan dengan kegiatan duniawi tetapi tidak mengerti bagaimana membahagiakan atau membuat senyum tawa masyarakat yang hanya dengan hal-hal kecil.

Orang-orang ini tinggal jauh dari keramayan, kampungnya lumayan terpencil bahkan listrik pun belum masuk tetapi mereka sangat menikmati kehidupannya. Mereka menganggap bahwa tak ada halangan atau rintangan apapun untuk selalu membuat kehidupan masyarakat selalu tersenyum. Setiap tahun dia membantu masyarakat yang kesusahan bahkan pada saat lebaran seperti ini dia membantu menyewakan mobil untuk masyarakat. Biasanya mobil-mobil tersebut digunakan masyarakat untuk pergi ke mesjid-mesjid yang besar untuk melaksanakan shalat idul fitri atau hanya sekedar jalan-jalan di permandian terdekat.

Kemarin saya kembali melihat dia bersama dengan masyarakat yang ada di desanya menumpangi mobil untuk pergi merayakan lebaran idul fitri di mesjid Muna. Saya mendengar dialah yang menyewah mobil-mobil tersebut. Masyarakat di desanya hanya tau pergi dan pulang saja. Dia tidak mempunyai kekayaan uang, dia hanya memiliki kekayaan hati yang berupa kebaikan untuk melihat senyum masyarakat di desanya dalam momentum lebaran idul fitri ini.

Keikhlasannya terpampang di raut mukanya yang seram, dan hitam karena keseringannya bertarung dengan panasnya kehidupan. Keseramannya tak membuat masyarakat takut lalu kemudian menjauh karena hatinya begitu lunak, rendah hati dan tak mempunyai rasa kesombongan. Dia pandai berbagi kebahagiaan dengan sesama sesuai kesanggupannya. Meskipun di desa sangat-lah susah untuk mendapatkan puing-puing rupiah, dia tak pernah memikirkan berapa puing rupiah yang akan mengeruk isi dompetnya untuk membantu masyarakat di desanya. Kebahagiaan terbesar dalam hidupnya ketika dia bisa berbagi, serta melihat masyarakat di kelilingi oleh tembok kedamayan dan keharmonisan.

Lantas, apa yang akan kita pilih untuk sebuah kehidupan ini!

                                   
Ditulis di Muna, 18 juli 2015