Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

15 Mei 2015

Bahasa Merupakan Tempat Tinggal Manusia

                                                                    Ilustrasi

Bahasa merupakan satu-satunya pilihan untuk menampakkan realitas yang kitapun tak dapat memendamnya. Dengan bahasa kitapun bebas mengungkapkan apapun yang kita inginkan. Dengan bahasa makna hadir dengan bebasnya kedalam atmosfir kesadaran kita.

Bahasa ibarat rumah hati dan jiwa kita. Bahasa ibarat fondasi rumah kita yang kokoh dengan bangunan yang utuh, di sanalah kita bisa menampakkan apapun yang kita inginkan. Ide-ide, gagasan-gagasan serta pemikiran yang terangkum dalam otak kita bebas untuk mengalirkannya dengan bahasa-bahasa, baik lisan maupun tulisan.

Dengan bahasa kita bebas untuk hanya sekedar berceloteh, atau membumikan hal-hal yang masih tersembunyi di jagad raya ini. Mengungkap ketidakadilan, kesewenang-wenangan yang selama ini dibungkam oleh pihak-pihak yang berkuasa. Ini merupakan suda menjadi penyakit kronis masyarakat selama orde lama dan juga orde baru dan bahkan juga bisa saya katakan pada orde reformis sekarang ini.

Pembungkaman terjadi kepada masyarakat karena kerasnya tekanan yang dilakukan oleh birokrat dan pejabat-pejabat lingkup pemerintahan, DPR, Gubernur, dan Bupati. Inilah yang saya dapatkan dari beberapa daerah. Penekanannya bervariasi, berupa tekanan psikologis, ancaman, peneroran dengan jasa preman dll. Masyarakat akan dijadikan sebagai objek yang seperti batu karang diam seribu bahasa. Tak mampu berucap, tak mampu berkata-kata, bagai orang lata yang mulutnya agak kesusahan ketika menyusun bahasa dan hanya akan mengulangi satu bahasa itu.

Dengan penekanan itu, rakyat seperti diajak diam dirumahnya sendiri, diam di alamnya yang seharusnya mempunyai kebebasan mengungkapkan seluruh isi hati, uneg-uneg dan seluruh permasaalahan dalam rumah tangga pemerintahnya dan dengan wakil rakyatnya. Pemerintah dan wakil rakyat seperti itu berarti tak lagi mempunyai respon, suara dengan bahasa yang penuh dengan uluran tangan, suara dengan bahasa yang penuh pengharapan, suara dengan bahasa yang penuh derita, suara dengan bahasa yang penuh darah dan nanah tak lagi di dengar. Telingan mereka tertutup oleh ke-egoisan, status quo, dan hausnya kekuasaan untuk hanya sekedar memburu rente. Sungguh sadis kan.. ketika negeri ini tidak mendengarkan bahasa-bahasa minoritas!

Bahasa ibarat pedang yang dapat memenggal kesunyian kita yang kian pekat, yang dapat memenggal oknum-oknum penguasa yang otoriter atau yang bahkan diktator sekalipun. Cobalah tengok kebelakang, bagaimana jatuhnya Orde Baru yang dimotori oleh seluruh pergerakan mahasisiwa Indonesia tahun 1996, yang dimulai dengan protes, suara yang lantang serta bahasa yang memanaskan kuping-kuping penguasa yang dictator sampai akhirnya tumbang.

Bahasa dapat mengaktifkan seluruh indra kita, lalu menuntun kita untuk kemudian mengungkapkannya dengan hati, mulut dan juga tangan-tangan kita. Bahasa dapat membuat nadi-nadi kita berdenyut dan dapat mengalirkan peredaran darah yang tertahan akibat kekakuan kita dalam mengkomunikasikan bahasa itu.

Bahasa ibarat tubuh, yang akan terus bergerak ketika kita mengaktifkan seluruh komponen sel-sel yang terdapat dalam tubuh itu. Otak merupakan terminal bahasa itu. Disanalah semua terkumpul ide-ide, gagasan-gagasan dan segala pemikiran yang kemudian kita mengungkapkannya dengan bahasa lisan maupun tulisan. Informasi terbuka, keadilan yang seimbang, kesewenag-wenangan musna karena kita mempunyai satu suara dengan bahasa yang sama, menuntut negeri ini untuk berjalan pada koridor yang ada. Itulah bahasa. Bukankah bahasa menurut Haidegger merupakan tempat tinggal manusia (The house of being). Tempat tinggal rakyat yang bebas mengungkapkan segala kebenaran dan realitas yang ada.

Maaf tulisan saya kali ini mungkin pendek, tapi itulah proses dan saya saat ini sedang pada tahap itu. Dengan proses maka dapat memberi kita kesalahan dan juga pelajaran untuk menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi sampai menjadi yang terbaik. Terimah kasih bagi orang-orang yang telah membaca blogger saya.
                                                                                                                         

                                                                                                 La ode Halaidin
                                                                                            Kendari 16 Mei 2015

07 Mei 2015

Tradisi Ataukah Hanya Pelampiasan Kesenangan!

                                                                             Ilustrasi

Suda empat tahun saya tinggal ngekos di depan kampus Universitas Halu Oleo. Namun itu suda empat tahun juga saya menyaksikan setiap kali mahasiswa selesai di wisuda, sorenya sampai pagi mereka seperti melakukan kegiatan pesta, memutar musik dengan suara besar-besar sambil bernyanyi dan menenggak minuman-minuman keras.

Saya tak mengerti dengan semua itu. Apakah ini yang di namakan sebagai sebuah tradisi masyarakat kampus. Ataukah hanya bagian dari pelampiasan karena kesenangan mereka telah melalui masa-masa sulit pada saat kuliah atau kesenangan mereka karena telah berhasil menghadapi dosen-dosen yang ngiler yang membantai mereka pada saat ujian skripsi.

Entalah,….kalau mereka beranggapan demikian, saya kira itu hanya bagian dari kenangan pergulatan kita di dunia kampus dan setelah keluar kampus masaalah-masaalah yang akan kita hadapi mungkin sangat sulit. Kita hanya butuh penguatan diri untuk menghadapi dunia luar, butuh refleksi dan tak menganggap bahwa masa-masa sulit itu hanya di dunia kampus. Di dunia luar sana menunggu, kita hanya butuh sekuat seperti batu karang yang ada ditengah laut, biarpun diterjan ombak keras iya tak akan pernah goyah.

Jika kita melihat proses belajar mahasiswa-mahasiswanya sepertinya biasa-biasa saja. Tidak seperti di kampus-kampus terbesar didalam dan luar negeri. Tak ada yang keluyuran keluar-masuk perpustakaan Universitas Halu Oleo. Karena memang miskin buku-buku bahan bacaan (nanti lain kali saya akan tunjukan foto-fotonya, rak-rak atau lemari yang tak mempunyai buku bacaan apapun). Tak pernah juga saya dapatkan mahasiswa-mahasiswanya sekedar duduk-duduk dibawah pohon yang di temani sebuah buku, kemudian tenggelam dalam bacaannya. Karena kebanyakan mahasiswa maupun mahasiswinya bukanlah buku-buku yang dibawanya tapi make-up, Aipet dll.

Kemarin tanggal 4 dan 5 Mei 2015 ada acara wisuda di Universitas Halu Oleo. Saya menyaksikannya dengan penuh semangat, melihat senior-senior telah di wisuda. Saya mengucapkan selamat kepada teman-teman itu dan mereka tersenyum bangga dan penuh semangat.

Tepat tanggal 5 sore hari, kemudian saya sempatkan diriku untuk ke fakultas ekonomi. Ehh…ada teman yang panggil untuk datang ke acaranya. Teman ini mengatakan bahwa acarnya cuman makan-makan, kemudian saya mengiyakan saja tetapi dalam hati, saya tak akan datang karena saya suda menduga pasti pesta miras lagi sambil karaokean.

Tak ada hal lain, selain pesta miras sambil karaokean. Selama saya melihat acara selesai wisuda sahabat-sahabatku dalam kurung waktu empat tahun ini semuanya sama, saat malam pasti miras dan karaokean. Saya tak suka akan hal ini dan saya selalu menghindari acara-acara seperti ini. Dan yang paling mengerikan lagi, ketika mabuk malah baku hantam sama-sama mereka. Wwaaa….kan lucu ini….tapi itulah orang mabuk segala kemungkinan pasti akan terjadi. Dan orang-orang Indonesia timur memang miras di nomor satukan ketika ada momen acara seperti ini.

Malam ini, di samping kiri-kanan asrama bunyi dentuman music itu sangat menganggu dalam gendang telinga saya. Menghindari panggilan teman-teman, malah di samping asrama ternyata ada yang pesta miras dan karaokean. Tak kenal laki-laki atau perempuan mereka berkumpul sama-sama menikmatai acara pesta miras itu. Hhhmmm….sepertinya ini mungkin suda bagian dari tradisi sekaligus pelampiasan kesenangan itu…


                                                                                                  La ode Halaidin
                                                                                              Kendari 6 Mei 2015
Saat tengah malam menunggu pertandingan Bola Liga Champion Barcelona VS Bayern Munchen dan yang saya dukung adalah Barcelona.

06 Mei 2015

Cinta Merupakan Motor Kehidupan

                                                                                        Ilustrasi


Kita memang butuh kemauan yang mengebuh-ngebuh jika hendak melakukan sesuatu. Jika kemauan itu mati, meskipun kita bernapas sebenarnya kehidupan itu suda tak ada lagi. Tentu kemauan yang didorong oleh hasrat jiwa maupun hati kita, dan emosi yang meluap-luap lebih tinggi ketika sayap-sayap semangat kita hendak dipatah-patahkan. Yahh…hanya kemauanlah yang akan terus mendorong kemajuan kita, semangat serta motivasi untuk terus hidup, melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk lingkungan sekitar kita.

Kadangkala ketika kita hendak membuat suatu karya atau belajar merangkai kata-kata dalam sebuah tulisan, semangat itu ada. Namun, semangat itu akan rapuh hanya dengan sekejap ketika kemauan itu musnah dalam diri kita. Iyaa…musnah bagai ditelan sang bumi yang perkasa di kegelapan malamnya dan tak menyisakan harapan apapun untuk hanya sekedar memacu kita untuk tegak berdiri.

Itulah penghancur hati dan  jiwa kita yang sesungguhnya. Hidup kita hancur ketika nurani dan naluri tak lagi singggah direlung hati kita. Hidup kita hancur ketika tak melihat kemegahan dunia yang terus menyimpan berbagai misteri di dalamnya. Hidup kita hancur ketika tak menyimpan satu tetes cinta pun terhadap kehidupan. Dan semua akan terasa kosong. Kosong dan hambar lalu kitapun hidup seperti tidak ada rmanfaatnya.

Bunga-bunga mawar dengan kelopaknya yang indah, seperti di taman surga yang menarik perhatian banyak orang yang sering berseliweran, kini tak menarik lagi. Semua terasa layu. Layu bagaikan di sinari pengapnya matahari di musim panas dan tak mendapatkan setetes air pun di akarnya. Bunga-bunga itupun kian hari kian berguguran. Bunga-bunga itu berguguran karena tak pernah dipupuk dengan cinta oleh alam kehidupan.

Cinta. Iya cintalah yang terus membangun semangat itu. Cintalah yang akan terus memacu kita, untuk terus mendayung menyelami sengitnya kehidupan. Cinta akan kehidupan, dan cinta apapun yang ada di alam ini. Karena dicinta dan mencintai itu menganggap manusia terus punya arti., punya harga dan punya eksistensi dalam kehidupan. Dan kemauan untuk hidup akan terus ada jika terus dibutuhkan oleh lingkungan. Memberi manfaat seperti setitik embun yang kemudian menjalar pada akar-akar pohon yang kering, kemudian menjadi rindang dengan dedaunan yang hijau.

Terkadang tak ada kemauan untuk hidup, ketika segala tujuan kita tak tercapai, merasa frustasi dan tak dapat menyelesaikan problem yang ada dalam jiwa kita. Sehingga hambarlah melihat kehidupan ini. Hidup ini memang terasa pahit, sulit namun kita tak semestinya kita membuatnya sesulit dan sepahit itu lagi. Cukuplah kita menjalaninya seperti halnya filososfi matahari yaitu apapun yang terjadi kita akan selalu bersinar membawa kehangatan bagi kehidupan manusia. Iyaa….seperti itulah sesungguhnaya kita harus menjalani kehidupan ini.

Kita harus terus memakai kompas kehidupan, terus bergerak melaju dengan penuh tujuan. Berlayar seperti kapal-kapal layar yang sedang mencari ikan-ikan yang indah, atau mencari ikan-ikan yang hanya sebagai penghidupan mereka, yang selalu lalu-lalang melintasi laut tanpa merasakan terik panasya matahari dan derasnya gelombang. Hasrat mereka ada karena melihat kehidupan adalah sebuah momen yang harus terus ditatap, ditantang, meskipun itu panas, meskipun itu pahit, dan meskipun itu sakit.

Itulah cintanya akan kehidupan. Mencintai kehidupan sama halnya memupuk hidup kita, menciptakan akar-akar yang kokoh dibawah tanah, yang kemudian melebarkan ranting-rantingnya yang menjuntai kelangit biru sehingga angin sekeras apapun bertiup tak akan bisa merobohkannya atau sekedar mematahkan ranting-ranting  itu.

Sebab jika kita tak mencintainya maka kita akan mengalami kegagalan, tak mampu berdiri, tak mampu berkarya karena fisik kita dilumpuhkan oleh ketidakberdayaan hasrat kita. Kita tak akan pernah memetik buah-buah yang ranum dengan ranting-ranting yang menjuntai di pohon kehidupan itu. Dan oleh karena itu sepertinya kita harus lebih mencintai hidup ini. Seperti dalam syair Chairil Anwar berjudul “AKU” yang “Ingin hidup seribu tahun lagi”.


Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

           Bagaimana hidup anda hari ini, apakah anda mencintainya……..


                                                                                              La ode Halaidin
                                                                                           Kendari 6 mei 2015