Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

21 Desember 2015

Paus-Paus Yang Mengelilingi Jokowi

Jokowi dan Setya Novanto

Catatan ini kutulis di gubuk kesederhanaan, desa yang belum berkemajuan, berkemakmuran dan masih bersifat patriarkal. Masyarakatnya yang hidup hanya menikmati mimpi kesejahteraan. Program selalu digaungkan dari pusat untuk kesejahteraan masyarakat di desa-desa, namun kemudian program itu di sandera oleh orang-orang pemburu rente untuk memperkaya golongan, kelompok, keluarga atau individual mereka. Hingga masyarakatnya sampai hari ini hanya hidup bertani dengan cara tradisional tanpa menikmati fasilitas dari negara—tentu saja alat-alat moderen agar lebih efektif dan efisien dalam mengeksplorasi tanah-tanah dan hasil pertanian mereka, menjadi TKI yang justru banyak mendapat siksaan di negeri orang dan hukuman mati atau memilih menjadi pengedar narkoba. Sehingga kata sejahtera itu semakin jauh dan menjauh dari masyarakat.

Saya melihatnya sangat miris ketika menyaksikan kelakuan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh para borjuis negeri ini yang duduk di parlemen. Mereka dengan enteng mengatakan ‘ini hanya mencari makan’ namun mempermainkan lembaga tinggi negara dengan mencatut nama Presiden dan Wakil Presdien untuk mengemis saham, sementara masyarakat mencari makan dengan membanting tulang di hutan-hutan untuk bertani dan berburuh, di perkebunan dengan menjadi buruh upah murah, mengelola persawahan para borjuis yang terkadang keringat mereka diperas dan mendapatkan pembagian yang tidak adil.

Selain itu, ketua DPR yang hanya sibuk melakukan pertemuan dengan pengusaha namun mengabaikan rakyat yang ingin bertemu dan membutuhkan uluran tangan atau solusi dalam setiap persoalan kehidupan mereka. Mereka malah bukan sibuk mencari solusi untuk memecahkan segala persoalan yang dialami rakyat hari ini, namun mencari koalisi dan kawan untuk saling membela untuk kemudian menguasai ketua parlemen. Mereka bukan menunjukan prestasi di hadapan rakyat yang diwakilinya, namun menunjukan kemewahan dengan kekayaan yang mentereng—uang miliaran hinngga triliunan, koleksi mobil mewah yang berjejer dan rumah mewah, sementara rakyat hidup digubuk dengan penuh kemelaratan dan kemiskinan yang tiada henti. Hingga pertanyaan itu kembali terusik, entah pemimpin dan wakil rakyat seperti apa yang harus dibutuhkan oleh rakyat di bangsa ini!

Seusai menonton film kesukaanku Soekarno yang di produksi pada tahun 2013—di perankan Ario Bayu sebagai Soekarno dan Lukman Sardi sebagai Moh. Hatta, saya menulis beberapa catatan malam ini sebagai perenungan dan inspirasi, pemimpin seperti apakah yang sangat diharapkan oleh rakyat di bangsa ini. Apalagi saat ini Jokowi di kelilingi oleh paus-paus yang siap kapan saja menerkam dirinya.

***
Sosok kepemimpinan seperti Soekarno tentu saja menjadi tumpuan rakyat dan harapan bangsa yang sangat dirindukan, agar sekarang ini dapat muncul untuk menyelesaikan berbagai persoalan di negeri ini. Meskipun harapan itu mungkin sangat kecil untuk bisa menemukan sosok seperti bapak sang proklamator tersebut. Namun orang-orang yang telah duduk di Istana dan di parlemen yang katanya telah menjadi wakil rakyat itu bisa mengambil ketegasan dan sikap kecintaan terhadap rakyatnya diseluruh pelosok negeri seperti Soekarno-Hatta—tanpa membeda-bedakan antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya.

Sikap kegigihan mereka terlihat dalam film tersebut sebagai putra bangsa terbaik pada saat itu, yang ingin melepaskan rakyat bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan sebagai awal agar kedepan bangsa ini dapat berdiri di kaki sendiri dan menentukan nasibnya sendiri tanpa bergantung pada negara-negara kolonilais. Mereka ingin mengawali kemerdekaan itu yang kelak di kemudian hari ingin mereka serahkan dan mempercayakan kepada anak-anak bangsa ini untuk memimpinnya.

Saya akan sedikit mencatat percakapan Soekarno dan Hatta dalam film tersebut “kemerdekaan bukan tujuan, kemerdekaan adalah awal dan kitalah orang-orang yang mengawali, selebihnya kita percayakan pada anak-anak kita dan pemimpin yang baik selalu muncul dalam peristiwa yang tidak terduga”.

Ia, itulah gambaran pemikiran dan sosok Soekarno yang sangat mencintai rakyatnya. Dia ingin memerdekakan bangsanya dari penjajah-penjajah kolonialisme Belanda dan negara fasisme Jepang. Mereka percaya bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang lahir dari kemandirian dan kecintaan untuk negerinya melebihi apapun. Soekarno-Hatta-lah yang mengawali kecintaan terhadap negeri dan rakyatnya di bangsa ini. Mereka tidak menginginkan daging rakyatnya di makan dan darahnya di hisap oleh negara kolonialis dan fasisme.

Pertanyaanya, adakah orang-orang yang telah berkuasa hari ini, baik di pemerintahan dan di parlemen memiliki kecintaan terhadap rakyatnya seperti Soekarno-Hatta? Tentu saja ada. Kita perlu mengakui bahwa Joko Widodo adalah salah satu pemimpin yang sangat menanamkan kecintaan terhadap rakyatnya. Jokowi sangat merespon dan mendengarkan suara publik dalam setiap pengambilan kebijakan. Meskipun beberapa penulis di media sosial yang saya baca mengatakan tidak, namun itulah langka Jokowi untuk tetap menerima hujatan dan kritikan itu sebagai pembelajaran. Yang terpenting bagi dirinya adalah melakukan sesuatu untuk kepentingan nasional meskipun sebagian orang mengatakan tidak dari pada sembunyi dibalik kesangsian akan penderitaan bangsanya dan lebih memilih menyibukan diri untuk memperluas jaringan kerajaan bisnisnya.
***
Jokowi harus memilih jalan rakyat, itulah ungkapan dari sahabat-sahabat saya. Memilih jalan rakyat berarti siap menempuh jalan penderitaan. Jokowi yang saat ini di kelilingi oleh paus-paus (mamalia) tentu akan banyak mendapatkan bentuk intervensi atau mereka ikut mempengaruhi program kerjanya meskipun program itu untuk kepentingan rakyat. Para menteri yang mengelilingi Jokowi saat ini terdiri dari paus-paus itu yang siap menerkam dan memakan satu sama lain. Menteri-menteri itu ibarat pagar yang siap sewaktu-waktu akan memakan tanaman. Dilayar seperti terlihat ikut memagari dan melaksanakan program kerja Jokowi, namun dibalik itu paus-paus mempunyai kehendak untuk memakan dengan mengintervensi untuk kepentingan bisnis mereka.

Di parlemen juga banyak paus-paus yang akan ikut mempengaruhi program kerjanya—bermain mata dengan paus-paus menteri untuk bersama-sama memperlancar kekuasaan bisnis mereka.

Paus-paus di senayan dan Istana yang mengelilingi Jokowi terus mencoba berusaha untuk mengendalikan dan mengintervensi, namun kejadian hari ini telah membuka mata jutaan rakyat Indonesia. Kedua paus itu tak bisa mengintervensi bahkan mereka kelimpuhan. Setya Novanto ketika rekaman di buka di persidangan Mahkama Kehormatan Dewan (MKD) mengakui bahwa Jokowi tidak bisa dipengaruhi dan keras kepala. Meskipun Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan tidak terkait dalam rekaman itu namun dia disebut-sebut dalam rekaman itu oleh pengusaha Muhammad Rizal Chalid. Beberapa pengamat menilai bahwa dialah yang termasuk paus-paus itu, yang mencoba menjadi perantara untuk mempengaruhi Jokowi dalam setiap kebijakan dan program kerjanya.

Tapi itulah Jokowi yang lebih memilih jalan rakyat meskipun jalan yang ditempuh berbeda dengan jalan rakyat yang ditempuh oleh sang proklamator. Jika sang proklamator jalan rakyat yang ditempuh adalah membebaskan rakyat dari penjajah kolonialis dan fasisme, Jokowi memilih jalan rakyat yang ditempuh dengan mengelolah kekayaan alam bangsa ini untuk kepentingan rakyat di seluruh pelosok negeri bukan kemudian harus diperuntungkan kepada paus-paus yang terus mengelilinginya.

Presiden Jokowi harus terus mendengarkan suara rakyat, mementingkan kepentingan rakyat agar kemerdekaan yang diperjuangkan sang proklamator benar-benar terwujud. Tentu kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya. Tugas Jokowi adalah mengelola kekayaan itu yang berkeadilan dan tentunya untuk kemakmuran rakyat bangsa ini di seluruh nusantara. Dan harus mengabaikan paus-paus yang mengemis—yang terus mencoba mengelilingi dan mengintervensi di setiap program kerja untuk kepentingan rakyat. Laksanakanlah dengan kehendak rakyat…


                                                            Di tulis di gubuk sederhana
                                                            Muna, 19 Desember 2015
                                                                  Laode Halaidin

Kopi Nikmat, Kopi Petani


Kopi…..kopi…..dan kopi. Siapa yang tak suka kopi di dunia ini? Dari kalangan petani, mahasiswa sampai pejabat pun pasti suka yang namanya kopi. Bahkan kopi Toraja yang ada di Sulawesi Selatan dari kabar yang terdengar suda dipatenkan oleh perusahaan Jepang Cey Coffe. Sunggu menyedihkan buat masyarakat Indonesia terutama di tanah Toraja Sulawesi Selatan. Kekayaan alam Indonesia malah dicaplok dan di patenkan oleh Negara lain. Buku-buku pun ada yang berjudul dengan kata kopi misalnya buku, Kopi Sumatra Di Amerika karangan Yusran Darmawan.

Apakah anda juga penikmat kopi!

***
Beberapa hari ini saya suka mengunjungi kedai kopi yang menyediakan menu-menu yang menarik untuk di santap. Dari kedai ke kedai saya hanya tertarik dengan kopi yang disediakan di menu-menu itu. Saya selalu memesan kopi jika menyempatkan berkunjung di kedai-kedai kopi. Kopi menjadi teman akrab dikala pikiran ini membuncah—memikirkan serta berdiskusi bersama para sahabat mengenai hal yang remeh-temeh tentang realitas di kehidupan masyarakat. Kopi menjadi pelengkap menyalakan pikiran yang tertekan karena kebuntuan—dikala jenuh melingkupi hiruplah aroma kopi dan seruputlah maka engkau akan merasakan kenikmatannya. Dengan kopi, pikiran akan melalang-buana—menerawang berbagai materi diskusi—pemikiran bisa terbuka bahkan dengan diskusi-diskusi yang cukup berat. Filsafat tentu saja.

Bagi seorang penikmat kopi itu semua bisa terjadi. Kopi bisa membuka pikiran lalu melancarkan semua pembicaraan bak air yang mengalir menuju samudra yang luas. Kopi bisa menghadirkan pertemanan dengan siapa-pun—bercerita dengan siapa-pun dan berdiskusi tentang apa-pun. Kopi juga dapat menghadirkan sebuah perkumpulan organisasi, lewat diskusi-diskusi ringan mengenai kemirisan melihat akan realitas kehidupan di bangsa ini. Lihatlah pemuda-pemuda dimasa perjuangan bangsa Indonesia—mereka berkumpul ditemani dengan secangkir kopi yang kemudian menghasilkan ide serta gagasan-gagasan yang brilian. Ide serta gagasan-gagasan itu kemudian dapat menembus peradaban bangsa ini menuju kemerdekaan, melawan kolonialisme penjajah, memberangus para kapitalisme—yang sampai sekarang ini bentuk kemerdekaan-kemerdekaan itu masih diperjuangkan.

Petani kopi pada masa perjuangan tentu saja bisa dikatakan sebagai pahlawan yang telah memperkenalkan produk kekayaan alam Indonesia ditengah gejolak adanya peperangan. Para pemikir bangsa ini dengan perdebatan yang sengit untuk me-merdeka-kan bangsa, tak lupa pula ditemani secangkir kopi. Dengan hal tersebut, secara tidak langsung para petani kopi tentu hadir dan ikut berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan di tanah air.

Luar biasa bukan…….

Kopi bagiku bukan hanya sebagai komoditas yang diperdagangkan—yang kemudian di poles dengan berbagai trik-trik bisnis untuk menarik para konsumen. Kopi adalah bagian dari representasi suara para petani yang selama ini tertidur dalam gua-gua yang tak terdengar jauh. Menghadirkan sejarah kopi beserta kopi-kopi nikmatnya dalam sebuah kedai kopi berarti sama halnya dengan menghadirkan petani kopi dalam kedai tersebut. Dengan hal itu tentu suara para petani kopi terdengar dengan berbagai nuansa kopi yang dihasilkan. Sehingga para petani kopi kita dikenal, terdengarkan, terangkat kesejahteraanya dan tidak terpaku dengan jual-beli yang tidak adil.

***
Di kendari, banyak kedai kopi yang berjejer di jalan-jalan dengan menghadirkan jaringan internet yang serba cepat dan lancar. Saya mencoba berkunjung di sebuah kedai kopi, namanya Lawwata Coffee. Di kedai kopi itu saya memperhatikan tak banyak yang memesan kopi yang harganya cukup murah. Kebanyakan minuman yang dipesan serba mahal—mulai dari just appel dll. Ketika pelayan menyodorkan menu, mata saya langsung tertujuh di menu kopi hitam—kemudian saya mencoba untuk memesannya Mas….kopi hitamnya dua ya. Dengan sekejap pelayaan ini datang. Lalu saya menanyakan, Mas kopi yang disediakan disini apa saja? asalanya dari mana? Lalu Mas ini menjawab, saya tidak tau, yang jelas ini kopi. Saya langsung mengangguk dan memahami bahwa ternyata Mas ini tak paham tentang kopi, dia hanya bekerja di kedai kopi tersebut.

Kopi yang disajikan pun, kopi sachet yang menggantung di kios-kios. Saya hanya tersenyum kecut seraya membatin ketika menyeruput kopi tersebut. Pikirku, sayang sekali kedai ini tak menghadirkan kopi nikmat—kopi yang masih berbentuk biji yang kemudian diracik dengan alat-alat manual tradisionalnya di kedainya.

***
Di salah satu tempat kedai kopi berikutnya saya diundang seorang sahabat untuk diskusi-diskusi ringan—sekaligus perayaan teman yang sudah diwisuda. Nama kedai kopi itu Sunnet Coffee. Sahabat itu menceritakan bahwa Sunnet Coffee biasanya tempat nongkrong anak-anak yang kuliah di Kesehatan. Tempatnya memang dekat dengan Kampus Kesehatan Mandala Waluya kendari. Di Sunnet Coffee itu juga menyediakan menu yang bertuliskan kopi hitam. Sejenak saya membaca menu-menu yang ada. Ketika lagi serius mencari menu yang tersedia, tiba-tiba terdengar suara sahabat, kamu pesan apa? saya jawab, kopi hitam saja. Suara sahabat yang lain memanggil pelayan, Mas kopi hitam satu ya. Lalu kami lanjutkan cerita sambil menunggu kopi yang ku-pesan.

Tak lama kemudian kopi yang ku pesan tersedia dihadapan saya. Saya memperhatikan lalu mencium bau aroma yang mengepul digelas itu. Pikirku, saya tak asing lagi dengan bau aroma ini. Saya kemudian langsung menyeruput kopi tersebut dan ternyata rasa kopi sachet yang tanpa gula itu—yang banyak bergantung-gantung di kios-kios—namanya kopi kapal api. Tak salah dugaanku kopi yang disajikan adalah kopi kapal api yang suda diracik sedemikian rupa oleh perusahaan kopi PT. Santos Jaya Abadi yang ada di Sidoarjo itu. Bukan kopi yang masih dengan bijinya yang berasal dari petani langsung untuk kemudian diracik dengan manual di kedai. Seraya membantin saya berpikir mungkin ini dikarenakan terlalu minimnya ide-ide sehingga pikiran itu hanya terfokus dengan bisnis dan terpatok dengan keuntungan.

 

Saya bercerita dengan sahabat-sahabat itu seputar kopi. Saya mengatakan, dari beberapa kedai kopi yang ku-kunjungi kok sama ya—selalu saja kopi sachet kapal api. Kenapa kedai ini tidak menyediakan kopi-kopi nikmat yang ada di Sulawesi Tenggara misalnya di Buton Selatan ada kopi rabika yang rasanya nikmat sekali atau mengimpor dari luar Sulawesi Tenggara misalnya kopi di Serui, kopi Toraja, kopi wamena dll. Salah seorang sahabat ikut mengomentari, itulah seorang pembisnis selalu punya strategi, kalau suda diracik sedemikian rupa pasti laku. Mendengar celoteh sahabat itu saya hanya tersenyum. Pikirku, mungkin orang yang punya kedai ini tak mengerti dengan selera konsumen. Seorang konsumen pasti punya selera yang berbeda-beda mengenai kopi dan oleh karena itu seharusnya dia bisa menghadirkan beberapa jenis kopi. Tidak hanya berpikir tentang bisnis yang kemudian dijadikan tempat untuk mengakumulasi keuntungan, namun membantu para petani dengan menghadirkan sejarah-sejarah kopi yang ada di Indonesia.

Sekejap mata saya langsung tertujuh dengan beberapa pengunjung. Saya melihat tak ada diskusi-diskusi ringan dari jejeran pengunjung lain. Saya teringat seorang sahabat dari Makasar pernah bercerita bahwa biasanya kedai kopi di Makasar dijadikan tempat untuk diskusi atau dialog untuk memperdalam pengetahuan—mengkaji apa yang menjadi permsalahan di kehidupan masyarakat bangsa ini dengan mengkorelasikan antar beberapa ilmu pengetahuan atau apa yang menjadi keilmuan mereka.

Tiba-tiba bunyi sepatu itu terdengar—semakin banyak langka kakinya melangka, bunyi sepatu itu terdengar kian mendekat di sampingku. Suara itu terdengar halus mempersilahkan kami untuk menyantap gorengan-gorengan kedai kopi itu. Silahkan dinikmati gorengannya mas, kata gadis itu. Sekejap saya langsung mengangkat kapalaku, wwwaahhh….cantik nian nih gadis pelayan kedai kopi, pikirku. Saya langsung menyahut, iya Dek makasih ya atas pelayanannya yang manis. Si gadis pelayan kedai kopi yang cantik itu tersenyum manis bak bintang yang menyinari malam ditengah kegelapannya. Pikirku, saya berhasil menyentu dinding hatinya yang paling dalam hehehe…..
 

12 Desember 2015
  La ode Halaidin