Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

04 Desember 2019

Ceria BERSAMA DUA GADIS Kecil di Mata


BUKAN kali ini saja, saya diterima dengan baik saat mengamen di pinggiran kota Kendari. Di Alolama atau di Gunung Jati, saya mendapat sambutan yang hangat dari warga, saat saya hendak mengamen di lingkungan mereka. Dari yang tua, yang muda maupun anak-anak kecil. Yang nihil sampai saat ini, tak ada perempuan-perempuan muda yang terpikat dengan kehadiranku. Pada hal, hampir semua jurus sering ku keluarkan. Yang janda, banyak. Hehehe.
.
Cerita tentang kampung Mata adalah cerita tentang warga pinggiran kota, yang hidup di teluk Kendari. Kita dapat menemukan banyak cerita di Mata, dari soal banjir, kehidupan nelayan hingga ceria anak-anak kecil. Warganya cukup ramah. Anak-anaknya ceria. Saya merasa betah dalam artian, merasa senang berada di Mata. Rasanya, saya akan menghabiskan berbulan-bulan lagi untuk mengamen di sini.
Sudah sebulan lalu saya berkunjung di sini. Kali ini, saya berkunjung kembali untuk kepentingan penelitian yang saya kerjakan. Saat saya tiba, warga Mata serta gadis-gadis kecil itu langsung menyapa dengan senyum yang merekah. Ada yang panggil saya Pak, Om dan juga Kakak. Saya merasa risih soal panggilan Pak dan Om. Tapi saya nikmati saja, sambil mengatakan saya masih bujang. Mereka sedikit tertawa, lalu saya mengajak mereka untuk memulai bercerita.
Setelah bercerita, dua gadis kecil ini dengan polosnya meminta untuk meminjam HP saya.
“Kak, Dilma mau pinjam HP-nya untuk foto-foto” kata gadis kecil yang berbaju putih itu. Dengan senang hati, saya memberikannya lalu menanyakan hendak berfoto di mana. Dengan senangnya, dua gadis kecil ini menunjuk ke arah depannya.
“Di situ Kak, di Taman Cinta” kata Dilma. Saya terkekeh mendengar itu. Di belakang, saya mengikuti mereka untuk menuju ke Taman Cinta yang mereka sebut.
Benar saja. Tidak terlalu jauh dari situ, terlihat bentuk Love berdiri dengan warna putih dan merah yang terbuat dari besi, menghiasi kampung ini. Suasananya cukup indah. Menjelang sore, ada banyak anak-anak kecil bermain di sini. Dengan riang gembiranya, dua gadis polos ini selfie-selfie. Mereka juga senang dengan kehadiranku. Sesekali, dua gadis ini memerintahkan saya mencari tempat yang bagus untuk selfie bersama.

.
Di kejauhan, terlihat ada banyak pekerja yang hendak memperindah jalan di Taman Cinta ini. Para pekerja itu hendak memoles Mata, agar terlihat indah dan bersih. Mata yang dulu kumuh dan kotor karena sampah, kini sudah mulai terlihat bersih. Kepada warga, saya juga mengatakan agar mereka menjaga lingkungan, tak membuang sampah di kali sembarangan.
Saat dengan cerianya selfie-selfie bersama dua gadis ini, ada suara yang terdengar hendak memanggil nama gadis berbaju putih. Putri.....begitu suara itu terdengar. Putri lalu menoleh. Perempuan itu muncul di seberang jembatan Taman Cinta.
“Ayok, pulang” kata perempuan itu. Sebelum pergi, saya menanyakan pada gadis kecil bernama Putri.
“Itu apamu? Kakakmu ya” tanyaku dengan penasaran.
“Bukan. Itu Mamaku” kata Putri, sambil bergegas pergi. 
Duhh.

23 November 2019

30 Menit Berada Di Pulau Wawonii


PERJALANAN yang singkat, pikirku. Setelah saya dan Ila menyetor amplop yang berisikan berkas-berkas persyaratan CPNS di kantor Pos Langara, Konawe Kepulauan, kami berbalik arah menuju Kendari. Kami menghabiskan waktu perjalanan sekira 6 jam pulang-pergi dari Kendari-Konkep dan Konkep-Kendari.
.
Jadwal keberangkatan kapal Very pada pukul 11.00 Wita. Kami berdua tiba tepat pada pukul 11.00. Saat saya memasuki pelabuhan, terlihat di lobi pengambilan tiket mengantri begitu panjang. Anehnya, di lobi pengambilan tiket sangat berantakan, tidak teratur. Para pengantri tiket kemudian saling dorong hingga terjadi keributan. Ini penyakit masyarakat kita. Tak pernah membudayakan mengantri. Saling serobot, semua ingin lebih awal dan terdepan. Pada hal, mengantri hanya bermodalkan kesabaran.
Setelah saya mengantri tiket yang melelahkan itu, kami kemudian menuju kapal Very. Tak terbayangkan bagaimana padatnya Very yang kami tumpangi. Para pejuang NIP itu berdesak-desakan, hingga ada yang melantai. Semua penuh. Kami berdua pun ikut melantai.
Teman saya Ila mengatakan perjalanan seperti memang punya seni. Teman-teman saya yang kini jadi PNS, mereka merasakan hal yang sama, katanya Ila sambil tertawa. Dari situ, mereka termotivasi agar kesusahan dan kesulitan itu terbayarkan. Mereka belajar dengan tekun untuk kemudian bisa lolos jadi PNS.
“Saya tau, ini pengalaman pertamamu tes CPNS kan”, kata Ila sambil terkekeh.
Kami sangat menikmati perjalanan itu. Semua terbayarkan setelah kami tiba di pelabuhan Wawonii. Saya begitu terkesan dengan keramahan warganya. Pemandangannya juga begitu indah. Meskipun panas, saya dengan Ila tak ingin melewatkan momen itu. Kami berdua lalu selfie-selfie di pantai, dekat pelabuhan Wawonii.


.
Konawe Kepulauan (Pulau Wawonii) di kenal dengan sebutan Pulau Kelapa ini memang punya banyak tempat sumber wisata untuk di kunjungi. Ada permandian Air Panas yang berada di Desa Wungkolo. Pantai Kampa yang memiliki keindahan bawah laut, yang dipadukan dengan pemandangan pasir putih, deburan ombak, pohon-pohon kelapa serta keindahan hutan yang begitu memanjakan mata. Dan masih banyak lagi. Sayang, saya tak bisa mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut. Kepentingan saya, hanya membawa berkas-berkas itu, lalu putar balik untuk kemudian menuju Kendari.
Hanya 30 menit berada di Konkep, saya meraskan telah jatuh cinta dengan julukan Pulau Kelapa ini. Dari beberapa artikel yang saya baca tentang Konkep, saya juga bisa tau bahwa pulau ini ternyata tidak hanya punya julukan Pulau Kelapa tapi juga Pulau Hati atau Pulau Cinta. Di sebut Pulau Cinta karena Pulau Wawonii berbentuk hati atau love. Menarik bukan.

Ah, mungkin itulah alasan, mengapa orang yang pertama berkunjung di Pulau Wawonii bisa langsung jatuh cinta. Ada banyak hal yang menarik disana. Kedepan, ada harapan agar saya bisa punya waktu untuk leluasa mengunjungi Pulau Wawonii.
Semoga.

                                    Laode Halaidin

02 November 2019

Deasy Tirayoh

Deasy Tirayoh.
Sumber foto: beritaklick.com
Penyair M Aan Mansyur ikut berkomentar di twitternya terkait 5 nama-nama penulis Indonesia yang menjadi favorit netizen. Menanggapi itu, M Aan Mansyur justru menyebut beberapa penulis dari Indonesia Timur. Dari deretan nama-nama yang saya baca, ada satu nama yang menarik perhatian saya yaitu nama Deasy Tirayoh penulis dari Sulawesi Tenggara.
Sebagai orang Sultra, nama itu begitu asing ditelinga saya. Saya kemudian tertarik dan menelusuri hasil karya-karyanya untuk ku baca.
Deasy Tirayoh adalah salah satu penulis berbakat. Dari perjalanan kepenulisannya, Deasy sudah menghasilkan beberapa sajak seperti Kaghati Kolope, yang menjadi puisi terbaik pada lomba cipta cerpen dan puisi yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Dia juga sudah menghasilkan beberapa karya cerpen seperti Mas In B Minor, Purnama di Atap Rumah, Udumbara, Dari Timur (2017), Kulminasi (2017), Sadasa (2018), Cerpen Tani (2018) serta buku ontologi cerita mini bertajuk Tanda Seruh di Tubuh.
Dari bakat kepenulisannya, pada tahun 2015 Deasy Tirayoh lolos dalam penulisan bergengsi Makassar Internasional Writers Festival (MIWF). Dia lalu mewakili Indonesia dalam ajang Internasional, Ubud Writers and Readers Festival pada tahun 2016. Tak berhenti disitu, pada tahun 2018 Deasy juga mewakili Indonesia di Majelis Sastra Asia Tenggara.
Di Kendari, nama Deasy dan karyanya kurang diperbincangkan. Pada hal dia adalah salah satu penulis asal Indonesia Timur yang karya-karyanya sangat diapresiasi. Jika melihat sepak terjangnya, bagi saya ini bukan hal biasa tapi sangat luar biasa. Dia telah melewati lika-liku dan mengasah keterampilan kepenulisannya diberbagai ajang. Yang paling terakhir, Deasy terlibat dan tampil bersama dengan para penulis muda perwakilan Maestera se-Asia Tenggara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura dan Thailand.
Yang membuat saya kagum dan pantas diidolakan, Deasy berhasil menulis beberapa skenario yang telah diproduksi jadi film seperti Pelangi Menjuntai di Langit Muna, Larumbalangi, Sahabat Merah Putih dan lain-lain. Untuk skenario film “Pelangi Menjuntai di Langit Muna” saya telah menoton filmnya dan baru tahu ternyata penulis skenarionya adalah Deasy Tirayoh. Hiksss....
Semoga saja di Sultra semakin banyak melahirkan penulis-penulis berbakat seperti Deasy Tirayoh juga seperti penulis tampan Yusran Darmawan. Kedepan, harusnya penulis-penulis berbakat seperti diatas harus sering diberikan panggung untuk kemudian membincangkan hasil karya-karyanya. Juga cara kita untuk menghargai penulis-penulis lokal.
            Kendari, 2 November 2019

24 Oktober 2019

Semalam Bersama ILA


Semalam, seorang teman bernama ILA menghubungiku untuk bertemu. Tak tahu persis kami hendak bertemu tentang apa. Namun diujung telpon, dia seperti sedikit memaksa saya untuk bertemu malam itu. Rasanya dia juga kangen, sama seperti diriku. Karena mau ditraktir, akhirnya saya memutuskan untuk bertemu dengannya.
Sehari sebelumnya, dia juga sempat menghubungiku, mengajak untuk nonton bersama di bioskop Hollywood Cinema Kendari. Tidak dua kali, saya pun langsung meng-iya-kan. Katanya, dia ingin nonton film yang dibintangi oleh pasangan suami istri, Cut Meyriska dan Roger Danuarta itu bersama saya. Judul film bergenre religi itu yakni Ajari Aku Islam.
Tapi ternyata malam itu tidak jadi. Dia masih punya urusan kerja dan harus dibatalkan. Semalamlah pertemuan itu baru terjadi. Duh, kira-kira apa ya, yang ingin dibicarakan?
Kami bercerita sekitar sejam lebih. Dia masih ceria seperti dulu, waktu sama-sama kos di Asrama Tersanjung. Sesekali dia mengingat-ingat persahabatan di asrama dulu. Juga menanyakan kabar teman-teman Asrama yang dia sudah tidak ketahui dimana keberadaannya.
Ada nama Firman, Amir, Rasul dan teman-teman lainnya. Dia masih kangen dengan sahabat-sahabat itu. Dia terhenti berbicara saat mengingat dan menyebut nama Alan. Katanya, dia tak menyangka sahabat kita, Alan pergi begitu cepat, menghadap pada sang pemberi kehidupan. Dalam hati kami mengucap, membacakan Alfatiha untuknya.
Kedatangannya di Kendari mewakili sekolahnya, untuk mengikuti kegiatan pendampingan dan pelatihan. Rupanya dia kini telah menjadi guru di salah satu SMA di Tampo. Ada rasa senang mendengar dia memilih mengabdi menjadi guru meski dengan honor kecil. Di luar sana, ada banyak orang yang menolak mengabdi untuk menjadi guru karena honor kecil atau tak menerima honor sama sekali.
Dia berujar, alasan seperti itu masuk akal sebab guru yang mengabdi juga punya tanggungan baik untuk orang tua, maupun anak-anaknya bagi yang sudah menikah. Mereka harus punya pendapatan. Di desanya, bahkan ada yang memilih untuk menjadi petani tambak dari pada mengabdi jadi guru.
Namun, dia tak mempermasalahkan hal itu. Baginya, honor kecil tidak ada masalah. Yang dipentingkan sekarang adalah dia bisa berbagi ilmu pengetahuan dengan siswa-siswinya. Dia juga belajar membangun jejaring sesama guru-guru untuk mendapatkan akses dan pengalaman yang lebih luas. Buktinya, dia dimintai oleh kepala sekolah di SMA-nya untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka mengikuti kegiatan pelatihan. Katanya, di usia sekarang pengalaman itu memang lebih penting.
Sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia, dia lalu menunjukan chat whatsapp dengan siswa-siswinya. Untuk mempermuda komunikasi dengan siswa-siswinya, dia lalu membuatkan WAG (WhatsApp Grup). “Ini untuk mempermuda komunikasi dengan siswa-siswi saya. Saat ada kegiatan seperti ini, saya tinggal menyuruh mereka agar tetap di dalam kelas. Saya memberitahu mereka, tidak ingin di kantor ada yang menelpon saya gara-gara mereka ribut. Nah, sekarang sudah ada siswa yang sering nelpon-nelpon saya nih”, cetusnya sambil tertawa.
“Jangan-jangan siswanya naksir sama gurunya”, kataku sambil terkekeh bersama.
Saat bergegas pulang dan hendak mengendarai motor masing-masing, ada suara yang tiba-tiba seperti berbisik.
“Din, nanti kalau pulang dikampungmu, jangan lupa singgah di rumah ya. Nanti saya kenalkan kamu ke.....” katanya seraya bergegas pergi bersama malam.
Kata-kata itu tiba-tiba terputus, tak dilanjutkan. Pada hal saya masih penasaran apa kelanjutannya. Apakah saya akan dikenalkan ke orang tuanya atau ke komunitas petani tambak di desanya. Duh, ingin rasanya ku chat saja, memintai penjelasannya.

                             Kendari, 24 Oktober 2019

21 Oktober 2019

Belajar Jadi Juru Foto

JIKA banyak orang lebih senang di foto, saya justru sebaliknya, lebih senang jadi juru foto. Ada rasa senang tersendiri setelah saya memotret sesuatu, meskipun masih amatiran.
Kemarin, saat jalan-jalan ke pantai Toronipa, Konawe, saya mencoba memotret hal-hal yang saya sukai. Sebenarnya ada banyak hal untuk di foto, termasuk perempuan-perempuan cantik yang berjejer di ujung bibir pantai Toronipa. Karena tak ada keberanian, saya menggugurkan niatku, lalu memilih menikmati kopi yang saya buat.
Di bibir pantai itu, saya melihat seorang gadis yang sedang asyik berselfi sendiri. Dari jauh, saya memantaunya. Dia sesekali bergaya, mencari posisi dan pemandangan yang menurutnya indah. Sambil menyalakan kamera, dia memotret dirinya lalu melihat hasil foto-fotonya. Sebentar-sebentar dia melihat gambarnya, lalu gadis cantik itu kembali selfi dengan senyumnya yang mengembang. Pikirku, mungkin dia butuh juru foto. Maka, saya berusaha mendekati lalu memintanya untuk menjadi juru fotonya.
Apakah saya bisa jadi juru fotonya? Dia hanya tersenyum, tak menjawab apa-apa. Ku beritahukan bahwa saya lagi belajar memotret. Dia diam lagi. Tapi dari raut wajahnya, dia terlihat tak menolak.
Saat saya hendak mengambil gambar, gadis itu terlihat tersipu malu. Dia tak lagi bergaya, seperti saat saya memantaunya dari jauh. Sesekali dia membuang senyum. Dia terlihat tidak biasa untuk di foto. Dia kurang percaya diri. Ku yakinkan saja, bahwa tak bergaya pun dia tetap terlihat cantik dan menawan.
Mendengar pujianku, dia seperti sudah menemukan rasa percaya dirinya. Gadis itu sudah siap untuk diambil gambarnya. Dengan sigap, saya memotretnya. Saat saya perlihatkan hasilnya, dia memujiku dan mengatakan bagus. Bagus, katanya. Lalu dia kembali tersenyum.
Saat hendak pulang, saya menanyarankan agar dia mengambil foto-fotonya. Ujarku, nanti saya kirimkan lewat nomor WhatsApp saja. Responnya justru membuatku tersipu.
“Fotonya untuk Kakak saja, untuk dilihat-lihat. Jangan lupa dijadikan wellpapers ya.” Lalu gadis itu bergegas pulang.
Ayokk, siapa yang mau di foto sama juru foto amatiran ini, hehehe.

                   Kendari, 21 Oktober 2019