Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

15 Maret 2015

Ketika Agama Hanya Menjadi Simbolik




Akhir-akhir ini, saya jarang sekali menonton sebuah acara di televisi nasional dan juga mengakses informasi-informasi mengenai perkembangan terkini di media social yang diakibatkan oleh kesibukan-kesibukan saya sebagai mahasiswa. Di saat yang bersamaan juga agak jarang membaca buku-buku, karena ada beberapa pekerjaan laporan yang menumpuk yang perlu saya selesaikan.

Dengan kebosanan dan kejenuhan yang sekalipun menghalangi apa yang menjadi hobi atau kesukaan saya untuk membaca serta belajar berselancar dengan kata-kata sebagaimana dikatakan oleh Yusran Darmawan, maka hari itu saya menempatkan diri untuk mencari buku-buku baru di sebuah tokoh buku terdekat. Saya teringat, ketika itu penolakan yang sapaan akrabnya Ahok akan di jadikan Gubernur DKI Jakarta. Penolakan itu dilakukan oleh kelompok organisasi Islami, Front Pembela Islam (FPI) yang dianggap sangat radikalisme. Penolakan mereka didasari karena Ahok bukan kalangan dari seorang Islam tetapi non-Islam yang dianggap tidak pantas untuk memimpin Jakarta.

Selain itu, saya teringat juga dengan para pelaku korupsi di Negara ini, hampir semua penganut agama baik Islam maupun non- Islam, dan orang-orang yang masuk partai politik baik yang bernuansa Islami atau nasionalis terseret didalam prilaku yang tidak terpuji ini bahkan rakyat memfonis mereka sebagai orang-orang yang tidak mempunyai moral, rusak mental perampas hak orang lain, dll sebagainya.

Dan atas dasar itulah dapat menimbulkan pertanyaan mendalam bagi saya. pertanyaanya apa sebenarnya yang melatarbelakangi semua itu sehingga mereka melakukan tindakan-tindakan yang justru tidak memberi sumbangsi terhadap kesejahteraan social? Mengapa organisasi yang mengatasnamakan Front Pembela Islam (FPI) tetapi radikalisme pada saat menolak Ahok sebagi Gubernur DKI Jakarta?

Bukankah Islam adalah agama yang mengajarkan tentang hubungan cinta damai, dan selalu ingin menciptakan suatu keharmonisan antar sesama. Mengapa yang katanya mereka adalah orang-orang yang bisa menjebatani rakyat atau bagian dari kepajangan tangan rakyat malah mereka merampas uang rakyat. Apakah mereka karena miskin ataukah tidak mengerti tentang hukum! Apakah mereka tidak mengerti tentang agama atau justru mereka adalah orang-orang yang paham agama! Atau apa? Bukankah semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk selalu membawa keadilan, kesetaraan, ketentraman dan kedamayaan antar sesama umat manusia!. Lewat buku yang berjudul “ Ketika Makkah Menjadi Seperti Las Vegas” inilah saya mengetahui sedikit motiv-motiv yang terjadi di balik tirai-tirai hitam tersebut.

Korupsi dan kekerasan sering terjadi di Negara Indonesia, jika kita melihat deretan pemerintahan yang bersih dan juga tingkat kekerasan yang paling rendah maka Indonesia berada di urutan yang paling bawah jika dibandngkan dengan Negara-Negara lain. Pelaku korupsi pun dan tindak kekerasan baik seksual, maupun kekerasan dengan mengatas namakan agama tidak memandang bulu. Bahkan orang-orang yang tidak diragukan pengetahuannya tentang agama terjangkit oleh virus-virus kenikmatan ini. Di Indonesia perselisihan antar agama bahkan dalam agama yang sama yang cuman karena berbeda paham juga sering terjadi, misalnya di Poso, Ambon, dan konflik antara muhammadiya dan NU, dan Ahmadiyah dan Siy’ah yang dulu terjadi berbagai daerah.

Pluralisme. Terkadang orang-orang tertentu sangat berat untuk menerimah keberagaman bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang besar yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama dan budaya, tentu kita tidak akan terlepas dari pluralisme ini. Kita akan mnenemukan keberagaman ini jika kita berkeinginan untuk berselancar dalam artian untuk mengunjungi pulau-pulau di Indonesia. Disana kita akan mendapatkan berbagai macam suku, ras, agama dan juga budaya. Dengan pluralisme ini tentu akan menuntut kita untuk selalu hidup berdampingan menciptakan keharmonisan, kedamayan, cinta antar sesama, kebebasan untuk memeluk agama tanpa mengklaim bahwa agamaku lah yang paling benar serta yang paling terpenting adalah tidak menciptakan konflik antar sesama.

Keberagaman bangsa kita seharusnya dijadikan sebagai basis kekuatan, dengan menyatukan segala daya, energy, dan juga pengetahuan untuk bersama-bersama membangun sebuah Negara yang lebih maju, harmonis dan tanpa membeda-bedakan antar sesama. Inilah harapan dan cita-cita Founding Father kita sebagaimana alur pemikirannya yang tertuang dalam Pancasila.

Yang akan menjadi kesalahan terbesar adalah ketika masing-masing agama atau dalam satu keyakinan yang sama mempertahankan ego atau mengklaim kebenaran agama atau paham mereka. Menebar kebenaran agama mereka tetapi tanpa mengakui keberadaan agama lain atau mengeluarkan fatwa bahwa aliran atau agama mereka adalah kafir. Hal ini tentu akan mengindikasikan suatu pertentangan yang panjang, bahkan akan menimbulkan suatu konflik yang besar seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Kita tidak perlu khawatir ketika mengakui keberadaan agama lain, dengan mengasumsikan bahwa kita tidak menganggap benar terhadap apa yang diyakini agama tersebut. Artinya bahwa kita tidak perlu berpindah keyakinan yang kemudian kita tidak mempercayai keyakinan agama yang kita anut serta kita hanya perlu sebatas mengakui bahwa setiap orang yang meyakini agamanya, ada unsur-unsur kebenaran. Hal ini tentu, tidak akan menimbulkan sikap-sikap yang intoleran, dan akan memperkuat kesadaran kita tentang kehidupan masyarakat yang sangat plural ini.

Oleh karena itu, kita tidak bisa menentang dan menundukan dengan sesuatu kesadaran yang tunggal, yang katanya selalu bertentangan dengan Sunnatullah. Sebagaimana yang dikutib dalam buku ini, dalam bahasa Prof. Amin Abdullah bahwa Penghormatan dan pengakuan terhadap kemungkinan adanya kebenaran agama lain tidak secara serta merta menjadikan keyakinan akan kebenaran agamanya menjadi tercerabut dari hatinya, hanya saja keyakinan akan kebenaran agamanya tidak disertai dengan penafian terhadap kemungkinan adanya kebenaran pada agama atau kepercayaan lain.

Pengetahuan Agama atau ilmu-ilmu Agama memang tidak hanya mengajarkan umatnya tentang ritual semata. Namun, mengajak kita untuk selalu mempunyai kepekaan terhadap ke universalan agama di bangsa ini. Bagaimana kemudian agama dijadikan sebagai fondasi untuk dapat mennyentuh dan memberikan sumbangsi terhadap kesejahteraan social. Menjadikan agama sebagai basis ilmu yang kemudian di Interkoneksikan dengan ilmu-ilmu lain. Menurut M. Amin Abdullah bahwa, dalam pradigma Integrasi dan Interkoneksi, Interkoneksi berkata kunci persinggungan/venn diagramming. Agama tidak bisa berdiri sendiri namun harus diinterkoneksikan dengan disiplin ilmu lain untuk berhadapan dengan dinamika social.

Ketika agama hanya dijadikan sebagai dogmatisme semata tanpa berkutat pada kemajemukan dan kemajuan yang konstruktif dan progresif terhadap perubahan bangsa dan dunia maka ini hanya akan menjadi sebuah agama yang mempunyai roh yang kosong tanpa makna. Mungkin inilah yang selalu dipertanyakan banyak orang, mengapa sebagian pejabat yang paham tentang ilmu agama, orang-orang yang mempunyai ketaatan ritual, dakwa, guru pesantren malah tidak menunjukan kesesuaian dengan prilaku mereka. Atau seperti yang dipertanyakan oleh Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarief Hidayattulah dalam buku ini bahwa “mengapa semarak dakwa dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah prilaku social dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan islam, yang justru dipraktekan di Negara-negara sekuler? Tampaknya keberagaman kita lebih senang di level dan semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan social”.

Kejahatan korupsi, ketidakadilan, kekerasan, pelecehan seksual telah menjadi pemandangan yang biasa terhadap negeri ini. Orang-orang akan sibuk mencari kesalehan individual serta mengabaikan kesalehan social seperti yang dikatakan oleh Komaruddin Hidayat. Orang-orang hanya akan mencari kesejahteraan individu dan kelompok tetapi mengabaikan kesejahteraan social. Seperti yang di katakan dalam buku ini menurut Syafaatun Almirzana bahwa pesan islam adalah tauhid dan keadilan. Dengan hal tersebut maka tidak ada alasan untuk mengabaikan dari pesan tersebut karena pada kenyataanya kita di dunia ini dilihat menyatu dengan yang Ilahi.

Dalam paradigma Holistik seperti yang dikatakan dalam buku ini memandang bahwa para korban, kaum tertindas, mereka yang menderita, kaum miskin, kaum marginal akan diperhatikan lebih dahulu dan mereka akan menjadi prioritas demi kebaikan keseluruhan. Dan secara Teologis orang beragama dapat mengatakan bahwa perjuangan untuk mendahulukan para korban itu merupakan partisipasi pada kerinduan Allah atau kerinduan yang Ultimate untuk menyelamatkan dan membahagiakan semua.

Pada kenyataanya memang, semua persoalan diatas kita tidak bisa hanya melihat pada satu aspek saja karena pada dasarnya semua prilaku manusia secara individu, kelompok atau secara kolektif dapat dipengaruhi dan ditentukan oleh banyak hal. Bisa persoalan Ideologi, kepentingan politik, keterbatasan tentang pemahaman agama dll. Namun disinilah yang paling terpenting untuk mengkaji atau bahkan merefolmulasi bahwa agama bukan hanya sekedar ritual formal semata atau sesuatu yang dogmatik saja. Seperti yang dikatakan oleh Porf. Amin Abdullah  bahwa beragama hendaknya selalu kritis-komprehensif karena agama tanpa ilmu akan mengarah ke feodalisme, fundamentalisme, dan eksklusifisme sehingga agama justru menjadi sumber ketidakadilan dan ketidakharmonisan antar-sesama umat manusia.

Agama seharusnya tidak hanya berkutat pada yang bersifat retorik, ideologis atau menjadi institusi yang bersifat eksklusif dan tentu seharusnya mampu memberi kontribusi terhadap kehidupan manusia, tidak kehilangan fungsi sosialnya sebagai penegak kesejahteraan social, pendorong kehidupan yang harmonis dan kesetaraan.

Dan ketika hal itu terjadi maka agama hanya akan menjadi “Empty Shell” sebagaimana yang dikatakan oleh Mirza Tirta Kusuma seorang Penulis dalam buku ini yaitu agama yang hanya menjadi simbolik atau formalisme yang tidak mempunyai spirit di dalamnya.

                                                                            
                                                                                  Kendari, 15 Maret 2015

10 Februari 2015

Gotong-Royong Yang Tak Akan Pudar

                                        Bekerja Gotong-Royong Membangun Fondasi Rumah Warga
  
Gotong-royong atau kerjasama saat ini memang sangat susah untuk kita temukan. Ketika sesorang meminta bantuan untuk kemudian ingin melakukan atau mengerjakan sesuatu maka semua harus ada upah atau gaji yang dapat diukur dengan uang. Bantuanya tersebut tidak dilihat apakah dalam bentuk fisik maupun non-fisik. Apakah keluarga, tetangga ataupun sahabat dekat semuannya harus ada fulus. Itulah sifat dasar manusia, mengejar berbagai kebutuhan hidup sehingga menganggap bahwa manusia hidup hanya untuk mencari dan mendapatkan uang, uang dan uang.

Orang-orang seperti ini merupakan manusia yang termotivasi oleh apa yang disebut dengan kapitalisme. Esensi dari pada kapitalisme adalah pengeksploitasian segala sumber daya (Manusia/ tenaga kerjanya, Alam/ yang terkandung dalam perut bumi) yang kemudian diperuntungkan bagi diri mereka sendiri.  Orang-orang di sampingnya, tetangganya, sahabat bahkan keluarganya dianggap sebagai ladang bisnis yang kemudian dimanfaatkan (baca: eksploitasi) dengan sesukanya. Masyarakat kecil akan menjadi korbannya. Masyarakat kecil ini dapat dimanfaatkan begitu saja sesuka hati orang-orang yang telah memiliki kemapanan (baca: modal). Toh orang-orang besar yang bunting ini, memiliki alat-alat produksi dan modal sehingga ketika masyarakat kecil ingin memenuhi kebutuhannya mereka akan datang dengan sendirinya meskipun dengan upah yang rendah.

Atas dasar untuk memenuhi kebutuhan itulah, masyarakat kecil termarjinalkan dengan seutuhnya. Mereka teralienasi oleh rakusnya kekuasaan dimana tenaga kerja mereka di eksploitasi oleh kekuasaan para bunting-bunting tersebut. Maka untuk menangkal semua itu tidak cara lain selain kita harus mempunyai wawasan dan energi baru. Wawasan dan energi baru inilah yang akan membuat kita bersandar pada bahu diri sendiri bukan bersandar pada bahu orang-orang yang ketika jalannya duluan perut dari pada kepalanya, yang selama ini perut mereka di isi dengan energi masyarakat kecil yang hasil di perahnya.

Wawasan dan energi baru bisa diartikan dalam bentuk kebersamaan dalam gotong-royong atau kerjasama. Wawasan, esensinya adalah pengetahuan atau kapasitas sesorang yang dapat meningkatkan produksi yang kemudian di utamakan adalah kekeluargaan, yang artinya bahwa produksi harus dikerjakan secara bersama-sama di bawah pemilikan anggota masyarakat. Energi baru adalah kekuatan yang kemudian mendorong kita untuk bangkit bersama, memperbaiki semangat yang selama ini selalu terdistorsi oleh kekuataan capital/pemodal. Gotong royong atau kerjasama dalam ekonomi seperti yang di anut oleh Indonesia di kenal dengan Koperasi.

Koperasi bukanlah istilah yang baru di dengar ditelinga masyarakat. Bahkan sejak lama Moh. Hatta sudah memperkenalkan hal ini bahwa koperasi merupakan usaha yang dilakukan bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Itulah maksud dari gotong-royong yang selalu mengutamakan kebersamaan bahwa usaha apapun yang berkaitan dengan profit (keuntungan bersama) yang perlu di utamakan adalah ke-gotong royongan.

Ketika kita berbicara bagaimana kemudian untuk mencapai kemakmuran masyarakat, maka produksi menjadi focus utama yakni sebagaimana dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang mencantumkan Demokrasi Ekonomi yaitu bahwa produksi di kerjakan semua untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Itulah gambaran gotong-royong dalam kaca mata ekonomi.

Dalam kehidupan masyarakat, gotong-royong tidak hanya dikenal dengan pengerjaan produksi yang berkaitan dengan peningkatan usaha dalam sebuah perusahaan tetapi juga pengerjaan fisik seperti pemanenan hasil-hasil pertanian, pengerjaan fondasi rumah-rumah warga dan juga seperti acara-acara pernikahan, pingitan dll. Seperti yang di gambarkan oleh Talcot Parsons bahwa masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) di cirikan sebagai afektifitas yang ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta, kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.

Ketika kita menelusuri hal ini, tentu keberadaanya bukan di sebuah kota-kota besar ataupun kecil namun ke-gotong-royongan seperti ini berada di sebuah desa-desa kecil yang mungkin sampai saat ini kurang dilirik oleh pemerintah. Saya terharu dengan semangat dan kebersamaan masyarakat desa-desa ini.

Desa Sandang Pangan, Kab. Buton Selatan. Di desa inilah saya menemukan semangat kebersamaan itu. Mereka menaruh ke-gotong-royongan dalam hal apapun. Mereka percaya bahwa dalam membangun untuk kemajuan masyarakat maka gotong-royong harus di kedepankan termasuk dalam pembangunan ekonomi, pertanian dll. Selain itu, di desa ini juga memiliki kebersamaan yang bersifat tradisional. Mereka saling membantu ketika sebuah pesta diadakan tanpa mengharapkan sebuah imbalan apapun. Beda halnya dengan di sebuah kota, ketika pesta-pesta pernikahan (yang tidak diadakan di hotel-hotel) maka yang memasak atau yang semacamnya harus di bayar atau di gaji meskipun itu tetangga, teman ataupun keluarga.   

Dari sini kita dapat menerka-nerka bahwa ke-gotong-royongan yang ada di sebuah kota sudah mulai pudar dan kemungkinan besar akan punah. Mereka menilai bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis. Hal semacam itu, mereka menganggap bahwa itu merupakan ladang bisnis yang dapat menguntungkan, sebagaimana yang di sembah oleh seorang kapitalisme. Sedangkan kekeluargaan sebagaimana yang selalu di seruhkan oleh Muh. Hatta mereka kesampingkan. Motivasi kapitalisme menganggap alam sebagai sebuah potensi untuk mendapatkan keuntungan tanpa memperdulikan masyarakat di sekelilingnya. Dalam masyarakat kapitalis menganggap masyarakat lainnya ibarat sebuah potensi untuk kemudian di eksploitasi agar mendapatkan profit dan pada akhirnya yang terjadi adalah saling meng-kanibal.

Kebersamaan dalam membangun harus terus ada dalam jiwa masyarakat Indonesia. Dan tentu masyarakat tidak bisa di biarkan sendiri, di lepas begitu saja seperti halnya di anak tirikan. Ibarat seorang anak yang kehilangan ibunya, lalu ayahnya menikah kembali. Di situlah sang anak memiliki seorang ibu tiri. Ketika sang ayah pulang dari kerja, sang ibu tiri ini menyayangi sang anak tetapi ketika sang ayah pergi kerja, anak inilah yang mengerjakan segala sesuatu yang ada di dalam rumah tersebut, dan belum tentu si anak ini mengetahui pekerjaan dalam rumah tangga. Sang ibu hanya duduk di atas kursi sofa dan tempat tidur yang empuk.

Artinya ketika pemerintah memiliki kepentingan terhadap masyarakat maka iya terus di dekati dengan iming-iming kesejahteraan, pendapatan yang tinggi, pekerjaan yang layak dll. Namun ketika kepentingan tersebut terpenuhi perhatian itu hilang dan musnah ibarat ditelan sang bumi. Seperti itulah yang terjadi di Indonesia, bergemuruhnya kepentingan untuk memperbunting perut mereka sehingga iming-iming yang omong kosong itu sulit untuk terhindarkan.

Masyarakat desa harus di beri kepercayaan dalam membangun, pemerintah hanyalah menjadi fasilitator dan dinamisator, karena segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan dan kebutuhan, masyarkatlah yang memahami dan mengerti itu. Ketika saya diskusi dengan masyarakat desa Sandang Pangan, mereka bersedia untuk melaksanakannya jika di berikan kepercayaan. Dengan ke-gotongroyongan maka pembangunan akan berjalan dengan efektif dan efisien dan masyarakat desa Sandang Pangan mempercayai itu.

Saya sempat menanyakan kepada salah seorang masyarakatnya, hari itu saya bertanya: apakah ke-gotong-royongan di desa ini tidak akan pudar sampai kapan pun? Masyarakat ini menjawab, iya. Mereka percaya dengan nilai-nilai budaya dan adat mereka bahwa ketika masih mengajarkan budaya dan adat istiadat tersebut maka ke-gotong-royongan akan terus melekat pada diri masyarakat.

Sebagai penutup, harapan saya terhadap masyarakat Desa Sadang Pangan Kab. Buton Selatan dan pada umumnya seluruh Desa yang ada di Indonesia bahwa Globalisasi dan perdagangan bebas serta masyarakat ekonomi ASEAN sebentar lagi akan mewujudkan dirinya dalam bentuk yang baru serta akan terus memperbaharui dirinya sesuai dengan perkembangan zaman. Mereka akan terus menggempurkan kekuatannya, ide-idenya, gagasannya untuk terus memenuhi kepuasaan birahinya demi sebuah profit (keuntungan).

Bisa saja kita akan menjadi penonton, pemuas untuk energi mereka ketika kita mempunyai system social yang rapuh. Maka untuk itu, Budaya dan adat istiadat harus terus ada dan harus terus di  pertahankan sebagai nilai-nilai social yang telah kita anut. Kontrol sosial yang ketat seperti gotong-royong sebagaimana yang di cirikan oleh Paul H. Landis dalam sebuah masyarakat desa  dan kerjasama harus terus di perkuat dalam membangun suatu masyarakat agar kita tidak menjadi tumbal oleh kebiadaban mereka. Seperti yang ditegaskan Leon Trotsky menulis didalam bukunya Program Transisional: bahwa  “Kaum kapitalis sekarang sedang meluncur ke bencana dengan mata tertutup.”

                                                                                                           
                                                                    Sandang Pangan, 10 Februari 2015