Kisah Seorang Nelayan di Purirano

Ini adalah cerita saat saya bertemu dengan nelayan di purirano. Keadaan mereka penuh dengan ketidakadilan.

Kenangan di Puncak Terindah Buton Selatan

Ini adalah bentuk penghayatan, akan indahnya alam. Olehnya itu, alam harus dijaga dengan baik agar kita hidup dalam penuh damai dan tentram.

Menggeluti Ilmu di Perguruan Tinggi

Bersama dengan ilmu pengetahuan kita dapat maju, bergerak dan bersaing dengan pihak-pihak lain. Mari, kita dahulukan pendidikan kita.

Sebuah Perjalanan di Muna Barat

Kami mencari keadilan atas masyarakat yang selama ini teralienasi. Lahan-lahan mereka dipermainkan oleh elit-elit desa, mengeruk keuntungan dengan membodohi masyarakat. Kami menolak dan melawan.

Mencari Keindahan di Danau Maleura

Di danau ini, ada panorama keindahan, yang membuat pengunjung sangat menikmati suasana. Hawa dingin dan air yang jernih dan terdapat banyaknya gua-gua. Ini keren kan. Adanya hanya di Muna.

02 Oktober 2021

SULTRA, Rawan dalam Pusaran Korupsi

 

Ilustrasi Foto: (Edi Wahyono/Deticom)

Informasinya menyebar sangat cepat. Seorang kawan, jurnalis lokal di Kendari mengabarkan, kepala daerah perempuan pertama yang menjabat sebagai Bupati di Sultra itu terjerat kasus korupsi. Jabatannya tergolong singkat. Dia hanya menjabat selama tiga bulan setelah menggantikan Bupati sebelumnya Samsul Bahri karena meninggal dunia. Bupati Koltim itu, ikut terlibat dalam korupsi dana hibah BNPB berupa dana rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) serta dana siap pakai (DSP).

Dia adalah Andi Merya Nur, seorang politisi yang mempunyai karir cukup cemerlang. Di usia 25 tahun, dia sudah menjadi anggota DPRD saat terpilih pada pemilu 2009 lalu. Pada Pemilu 2014, dia terpilih kembali sebagai anggota DPRD. Setahun menjabat, dia mengundurkan diri karena ikut mendampingi Toni Herbiansah sebagai Wakil Bupati. Andi Merya berhasil memenangi kontestasi Pilkada di Kolaka Timur itu.

Dari legislatif daerah terpilih dua kali, dia beralih dengan mulus ke eksekutif. Andi Merya, dua kali terpilih sebagai Wakil Bupati dengan pasangan yang berbeda. Pada pemilihan Bupati tahun 2020, dia mendampingi Samsul Bahri dan berhasil menyabet kursi Wakil Bupati. Belum sebulan dilantik, pasangannya, Samsul Bahri meninggal dunia.

Pada 14 Juni 2021 dengan usia yang masih 37 tahun, Andi Merya melanggeng sebagai Bupati. Kewenangannya tentu makin luas. Dia adalah pengambil kebijakan tertinggi di daerahnya. Dia juga harus mengusulkan dan mengontrol proyek-proyek di wilayahnya. Pada posisi itu, dia terjerumus dan tersandung masalah yang harus berhadapan dengan lembaga anti rasuah. Barang bukti yang hanya 25 juta rupiah, membuatnya terjungkal. Karirnya yang cukup cemerlang itu, kini runtuh dengan seketika.

Kasus-kasus korupsi di Sultra yang melibatkan kepala daerah sebelum Andi Merya, tentu sudah banyak terjadi. Ada nama mantan Gubernur Nur Alam dan Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun. Namun kasus korupsi yang menghebohkan publik adalah tertangkapnya Wali Kota Kendari, Adriatma Dwi Putra bersama ayahnya, Asrun, pada tahun 2018. Mereka dicokok KPK karena keterlibatannya dalam korupsi fee proyek infrastruktur di Kota Kendari.

Adriatma Dwi Putra merupakan produk dinasti politik dari ayahnya, Asrun yang menjabat Wali Kota Kendari selama dua periode. Dia adalah putra mahkota yang digadang-gadang akan meneruskan kekuasaan ayahnya. Pada saat itu, setelah Asrun meninggalkan tampuk kekuasaannya sebagai Wali Kota, dia berusaha melebarkan kekuasaan untuk berebut kursi empuk Gubernur. Sementara untuk Wali Kota, dia mencalonkan anaknya dan terpilih.

Yang menarik, anaknya Adriatma Dwi Putra merupakan Wali Kota termuda yang menjabat sangat singkat, selama lima bulan. Dia menjabat sejak 9 Oktober 2017 sampai dengan 28 Februari 2018. Kasus korupsi yang menimpahnya berupa fee proyek infrastruktur ditengarai akan digunakan sebagai uang kampanye ayahnya, yang pada saat itu sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur. Meski ayahnya sudah tersangka, langkahnya tidak terhenti. Asrun tetap berkompetisi dengan Cagub lain, meski kalah karena kasus korupsi yang melibatkannya.

Hanya berselang beberapa bulan, Bupati Buton Selatan, Agus Feisal Hidayat juga dicokok KPK. Dia terlibat kasus penerimaan hadiah dan janji dalam pengerjaan proyek di Buton Selatan. Dalam kasus ini, KPK menyita barang bukti uang senilai 409 juta rupiah.

Sama dengan Adriatma, jalan politik Agus Feisal Hidayat juga bersinggungan dengan kekuasaan. Ayahnya, Sjafei Kahar, pernah menjabat sebagai Bupati Buton selama dua periode. Selama ayahnya menjabat, Agus Feisal sangat melekat dengan kekuasaan. Karirnya berjalan mulus. Posisinya saat itu dimulai dari kepala seksi hingga menjadi staf ahli Bupati Buton.

Perjalanan Agus Feisal untuk merengkuh kekuasaan memang sangat panjang. Agus Feisal, dua kali gagal sebagai Wakil Wali Kota Baubau, pada tahun 2008 dan 2012. Setahun sebelumnya, 2011, dia juga gagal dalam memperebutkan kursi kekuasaan dalam Pilkada Buton. Meski awalnya keluar sebagai pemenang, wangi kemenangan itu hanya dihirup sesaat saja. Kemenangannya dianulir oleh Mahkama Konstitusi. Dari sinilah awal terjungkalnya Umar Samiun dari kursinya sebagai Bupati Buton pada tahun 2017. Umar Samiun ditahan KPK terkait kasus suap pada ketua MK, Akil Mochtar yang menangani Pilkada Buton di tahun 2011.

Ungkapan, kegagalan adalah kemenangan yang tertunda ternyata sangat berlaku untuk Agus Feisal. Dengan bekal pengalamannya, dia kemudian mengikuti kontestasi Pilkada Buton Selatan pada tahun 2017. Tiga kali menelan pil pahit dalam panggung politik, dia kemudian mendapatkan momentum kemenangannya. Mahkota itu berhasil dia rebut. Perjuangannya berbuah dengan kemenangan manis.

Namun siapa sangka mahkota itu hanya sekadar singgah dan berubah pil pahit kemudian. Hanya setahun menjabat, dia terjerembab dalam godaan kekuasaan. Kursi empuk yang hendak didudukinya selama lima tahun, berubah menjadi ruang pengap dan gelap dalam sel tahanan.

**

Riwayat panggung politik kita memang pada kenyataannya, banyak para elit yang berkuasa selalu menempatkan atau mendorong keluarganya pada posisi penting. Pertalian itu bukan tak mungkin berbahaya. Ketika penguasa wilayah hanya datang pada segelintir keluarga, maka kekuasaan itu menjadi tak terkontrol atau kekuasaannya tak memiliki batasan. Muaranya adalah korupsi. Ia mesti melayani kepentingan banyak pihak.

Di Muna, juga dihadapkan dengan dinasti politik Ridwan Bae yang saat ini tercatat sebagai anggota DPR RI. Sebelumnya, dia pernah menjabat sebagai Bupati Muna dua periode. Anaknya Iksan Taufik, meski kalah pada Pilkada Muna Barat, digadang-gadang akan meneruskan tahta politik ayahnya. Putrinya, Wa ode Rabia Al Adawia telah berhasil merebut kursi DPD. Ponakannya, Rusman Emba, tengah menikmati jabatan sebagai Bupati Muna di periode keduanya.

Sementara di Konawe, ada nama Kery Saiful Konggoasa. Dia sedang menjabat sebagai Bupati Konawe untuk periode kedua. Dari beberapa informasi yang beredar, dia tengah menyiapkan diri untuk berebut kursi Gubernur. Anaknya, Fachri Konggoasa sedang menjabat sebagai anggota DPR RI.

Lalu, akankah korupsi di Sultra dapat berakhir, mengingat bayang-bayang para elit tengah membentuk dinasti politik!? Di tengah nikmatnya kekuasaan, godaan datang silih berganti dan menggiurkan. Ibarat dinding, ada yang cepat keropos lalu runtuh, ada juga yang lama bertahan dan tetap tegak berdiri. Semuanya hanya menunggu waktu.

Godaan Dalam Kekuasaan

Pepatah yang mengatakan, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya agaknya sangat berlaku untuk para penguasa. Pada hakikatnya kekuasaan adalah godaan. Saat seseorang mendapat kekuasaan, maka godaan yang datang mengerubunginya akan sangat besar. Ibarat gula, kekuasaan dapat mengundang banyak semut. Pada posisi itu, penguasa diberi ujian, apakah bisa menjadi pemimpin sejati atau hanya sekadar imitasi.

Kutipan salah satu presiden legendaris Amerika Serikat, Abraham Lincoln, mungkin sangat tepat dikemukakan disini bahwa “semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.”

Kenikmatan dalam kekuasaan memang mendatangkan banyak efek. Ia bisa berakhir baik, tapi bisa juga berakhir buruk. Ia dapat berbuah manis tapi kadangkala bisa juga berbuah pahit. Berakhir baik, ketika kekuasaan dijalankan sebagai tanggungjawab sosial. Ia lebih mementingkan kepentingan publik dari pada kepentingan kelompok. Ia lebih memahami dirinya, bahwa ia adalah pelayan rakyat bukan golongan. Dan pada titik ini, muaranya dapat berbuah manis. Penguasa bisa menjadi seseorang yang berkarisma, dielu-elukan hingga dipuji oleh banyak orang.

Namun, kekuasaan bisa membuat seseorang terlena, dan ingin berkuasa lebih lama. Ada godaan fasilitas dan berbagai kemudahan yang didapat. Dengan kekuasaan, mereka tergoda untuk terus melanggengkan kekuasaannya. Untuk menjaga eksistensi kekuasaan itu, biasanya mereka menempatkan atau mendorong keluarga baik istri, anak, paman, dan ponakan untuk masuk dalam suatu jabatan politik. Tujuannya, untuk mempertahankan supremasi keluarga dalam lingkaran kekuasaan.

Praktik-praktik ini yang diterapkan di Sultra, dengan membentuk dinasti politik pada kenyataannya memang berakhir buruk. Kekuasaan dinasti politik dihadapkan dengan banyaknya godaan konflik kepentingan. Muaranya mengarah pada penyelewengan kekuasaan itu sendiri. Moralitas kekuasaan yang tidak terlepas dengan tanggungjawab sosial dengan cepat disingkirkan. Di kepala mereka, kekuasaan bukan lagi bagaimana meningkatkan kebijakan publik, menjadi pelayan dengan mensejahterakan rakyat, tetapi mengamankan kepentingan sembari membuka karpet merah untuk melayani kelompoknya.

Dengan begitu, nalar publik seolah dijauhi. Kekuasaan bekerja serupa obat bius. Kepekaan terhadap kondisi sosial dimasyarakat tenggelam karena lebih mementingkan kepentingan pribadi. Ketika kekuasaan membuat penguasa rabun jauh dan lebih memilih bermain atau menyerempet dengan yang lebih dekat, maka rompi oranye menyambut.

Kata Lord Acton “Kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan mutlak merusak secara mutlak.”

22 September 2021

DARI PASARWAJO, RONGI, LAPANDEWA LALU KE BUGI

Gadis Kampung Bugi

Perjalanan yang melelahkan, pikirku. Bersama kawan saya, Nirwan, kami berangkat dari Baubau ke Pasarwajo pukul 14.00.

Di perjalanan, kami dihadang dengan hujan rintik kemudian berubah menjadi hujan deras. Kami berteduh dipondok-pondok, dibagian kawasan hutan konservasi Lambusango. Selama menuju Pasarwajo, kami berteduh sebanyak tiga kali. Langit terus memuntahkan air hingga malam. Kami pun memaksakan perjalanan dengan kondisi hujan dan basah kuyup.

Dua hari di Pasarwajo, kawan saya bersedia membawa saya untuk jalan-jalan, mengunjungi benteng Lipuogena Takimpo. Dari tempat menginapku, perjalanannya hanya memakan waktu 20 menit. Posisi bentengnya berada di atas perkampungan warga.

Menurut beberapa cerita, benteng ini merupakan salah satu benteng pertahanan kesultanan Buton. Ketika saya memasuki gerbang banteng, itu sudah terlihat galampa (tempat adat), masjid dan lima buah pintu kecil yang biasa warga setempat menyebutnya Lawa. Pintu kecil (Lawa) ini punya nama sendiri-sendiri seperti Lawa Naemata, Lawa Sampu, Lawa Nawakeke, Lawa Kolowundanga, dan Lawa Pibuni. Nama-nama pintu kecil ini, mungkin punya arti sendiri-sendiri. Ada banyak hal sebenarnya yang ingin saya ketahui tentang banteng ini. Sayang, saya tak bisa menemukan banyak cerita disini.

Dari Pasarwajo, esoknya bersama kawan saya mencoba menuju Rongi atau desa Sandang Pangan, Buton Selatan. Rongi ini merupakan kampung yang pernah saya kunjungi tahun 2015, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di sini saya bertemu kawan saya, seorang guru yang sudah lama mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak-anak Rongi.

Di depan muka saya, saya melihat kampung Rongi sudah nampak berbeda. Semua terlihat indah dan memesona. Pemandangannya memanjakan mata. Bukit Lamando masih berdiri kokoh dengan wajah yang nampak sangat indah dan asri. Tak ada bangunan-bangunan vila para pejabat. Saya begitu tak percaya ketika kawan saya, Pak Ikhsan mengatakan bahwa Rongi terkenal ketika kami KKN. Pada hal sebagai Koordinator Desa KKN, saya tak banyak melakukan apa-apa. Kegiatan saya di Rongi, salah satunya hanya bercengkrama dengan warga sambil menanyakan apakah punya anak gadis yang masih jomblo atau tidak. Hehe.

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan di Lapandewa, sebuah kampung yang berada diperbukitan. Di bawah bukit terdapat desa Tira dan Bahari. Kami melewati pendakian Warope untuk sampai di Lapandewa. Dengan hawa yang begitu dingin dan sudah malam, kawan saya menunjukan sebuah lokasi kebun bawang merah yang sangat luas, yang warga kampungnya disebut lokasi kebun Wanculepani. Lapandewa memang sangat terkenal dengan penghasil bawang merah. Di kampung ini, saya juga tak banyak menemukan cerita karena sudah larut malam.

Kami lalu berbalik arah untuk menuju Baubau. Di perjalanan, tepatnya di desa Bugi, terdapat banyak warga yang lalu lalang untuk menuju pesta kampung. Kawan saya lalu mengajak untuk istrahat sejenak sambil menyaksikan pesta kampung. Di galampa (tempat adat) saya begitu terkesima ketika menyaksikan para gadis-gadis, anak-anak, dan para pemuda ikut memeriahkan pesta kampung. Laki-laki dan perempuan baik gadis-gadisnya, para pemuda, anak-anak, dan orang tua ikut menari dalam pertunjukan itu. Mereka menari dengan sangat indah dihadapan para tokoh adat.

Di tengah kerumunan, saya mencoba mencari tahu tentang desa Bugi di google. Di layar Hp, ulasan tentang desa Bugi mengagetkan saya. Di artikel Kompas tertulis “Wah, Ada Kampung Korea di Kota Baubau”, membuat saya penasaran. Saya membaca dengan pelan dan menemukan bahwa Bugi itu disebut sebagai kampung Korea. Bahasanya, cia-cia Laporo, mempunyai sedikit persamaan dengan aksara Hangeul atau bahasa Korea. Menariknya, penulisan aksara Hangeul masuk dalam kurikulum mata pelajaran sekolah.

Saat saya lagi serius membaca informasi tentang Bugi, tiba-tiba kawan saya membuyarkan konsentrasiku. “Jejeran penari yang paling awal itu cantik sekali”, katanya. Saya lalu membangunkan kepala, mataku mencari-mencari wanita cantik itu. Pikirku, mungkin dia agak mirip dengan wajah artis korea, Son Ye Jin. Hehe.

Saat mereka keluar, kawan saya memintanya untuk berfoto. “Bisa kami berfoto dengannya”, kata kawan saya kepada lelaki muda itu. Lelaki itu mengiyakan, boleh berfoto tapi harus di temani laki-laki lainnya. Duh, pada hal saya hanya ingin berfoto dengan gadis-gadis cantik itu, meminta kontaknya dan mau belajar bahasa korea. Entah apa yang ada dipikiran lelaki itu saya tak tau. Atau jangan-jangan dia tahu saya masih jomblo.

                                                                                    Baubau, 23 September 2021